Kita yang Kini Hobi Berjemur di Tengah Pandemi, Penting Nggak, sih?

Kita yang Kini Hobi Berjemur di Tengah Pandemi, Penting Nggak, sih?
Seorang anak yang tengah berjemur di pagi hari. (Inibaru.id/ Bayu N)

Konon, mentari pagi membuat imunitas bertambah. Karenanya, di tengah pandemi Covid-19, nggak sulit menemukan orang tengah berjemur di bawah terik matahari pada pagi hari. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar paham manfaat berjemur?

Inibaru.id - Belakangan, nggak sulit menjumpai orang-orang berjemur di depan rumah atau ruang-ruang lapang yang bermandikan mentari pagi. Di sepanjang gang menuju rumah saja, saya bisa menemukan belasan orang yang pepe (berjemur). Ada yang duduk sendirian sembari memainkan ponsel, ada pula yang sembari ngobrol dengan keluarga atau tetangganya.

Melihat fenomena itu, saya jadi teringat shinrin-yoku, sebuah tradisi berjemur di Jepang yang dikenal sejak puluhan tahun silam. Nggak lama setelah dicetuskan pada 1982, tradisi ini ditiru orang di seluruh dunia karena didukung para peneliti yang meyakini, berjemur bisa meningkatkan imunitas.

Agaknya, orang-orang yang berjemur di sekitar rumah saya ini juga melakukannya untuk alasan yang sama. Padahal, setahu saya, mereka dulu nggak pernah melakukan kegiatan ini. Pandemilah yang membuat mereka sukarela berpanas-panas.

Sejumlah orang yang saya temui belum lama ini meyakini, berjemur bisa membunuh virus corona. Entah dari mana mereka mendapatkan informasi tersebut. Namun, sepertinya mereka benar-benar percaya akan hal itu.

Nggak mau kembali positif, Yudi percaya dengan berjemur dirinya bisa mencegah paparan virus Corona. (Inibaru/Bayu N)
Nggak mau kembali positif, Yudi percaya dengan berjemur dirinya bisa mencegah paparan virus Corona. (Inibaru/Bayu N)

Yudi, misalnya. Salah seorang warga yang kini saban pagi nggak pernah absen menjemur diri di bawah sinar matahari itu mengungkapkan, dia mendapatkan informasi itu dari berita di laman Facebook. Yang dia ketahui, berjemur bisa membunuh virus corona.

Lelaki yang pernah terpapar Covid-19 itu mengaku, informasi yang didapatkannya sesuai dengan apa yang dibicarakan tetangga-tetangganya. Sejak saat itulah dia mulai melakoni rutinitas menjemur diri di bawah sinar mentari saban hari.

“Setelah tahu warga lain juga berjemur, ya sudah ikut saja. Takut kalau positif lagi!” seru lelaki yang tiap berjemur nggak pernah lupa mengenakan masker tersebut.

Berbeda dengan Yudi yang meyakini berjemur bisa membunuh virus corona, Aji, mahasiswa semester akhir di Universitas Diponegoro Semarang yang tiap hari rutin berjemur itu percaya, tubuh yang terpapar sinar matahari pagi bakal lebih terjaga imunitas tubuhnya.

Aji, seorang mahasiswa yang ketagihan berjemur semenjak positif Covid-19. (Inibaru/Bayu N)
Aji, seorang mahasiswa yang ketagihan berjemur semenjak positif Covid-19. (Inibaru/Bayu N)

Pemuda yang belum lama ini juga terpapar virus corona tersebut mengatakan, dia baru rutin berjemur semenjak dinyatakan positif Covid-19. Kala itu dia banyak membaca artikel terkait virus asal Wuhan, Tiongkok, tersebut dan gimana agar bisa cepat sembuh.

Berdasarkan informasi yang dia dapat, salah satu cara untuk mempercepat kesembuhan adalah dengan berjemur. Saran serupa juga diberikan teman dan keluarganya. Lelaki 22 tahun tersebut percaya, berjemur akan meningkatkan imunitas tubuh, yang otomatis membuat kesembuhannya jadi lebih cepat.

Sejak saat itu, dia pun mulai melakukan "ritual" berjemur saban pagi. Selain sebagai bentuk ikhtiar, berjemur dilakukannya karena isolasi mandiri (isoman) membuatnya bosan dan suntuk. Karena sedang isolasi, dia biasa berjemur sendiridi depan rumah mulai pukul 07.00 hingga 09.00. 

"Sambil berjemur paling buka media sosial atau ngegim di ponsel," terang lelaki asal Pati tersebut santai. “Sekarang, setelah sembuh, malah jadi ketagihan (berjemur).”

Oya, perlu kamu tahu, kendati nggak bisa membunuh virus corona, berjemur bukanlah sesuatu yang sia-sia, karena sinar mentari mengandung ultraviolet yang baik untuk tubuh. Doktor Ahli Gizi Komunitas asal Indonesia dr Tan Shot Yen mengatakan, menjemur diri di bawah sinar matahari baik untuk kesehatan.

Melalui akun Youtube-nya, perempuan yang meraih gelar doktor dari FK UI pada 2014 ini mengatakan, waktu terbaik untuk berjemur adalah setelah pukul 10.00 karena saat itu sinar matahari mengandung Ultraviolet B (UVB).

"UVB yang dibawa akan bekerja bersama kolesterol yang ada di bawah permukaan kulit membentuk Vitamin D3," terangnya. "Nah, vitamin D3 inilah yang jadi sumber kekebalan tubuh manusia."

So, saya sangat mendukung mereka yang berjemur di bawah sinar matahari. Kadang saya juga melakukannya, kok. Ehm, bahkan, menurut saya, bakal sangat menarik kalau gerakan ini terus dilakukan, biar kayak shinrin-yoku di Jepang, kan?

Buat kamu yang nggak pernah berjemur, cobalah lakukan sesekali. Sambil olahraga, main ponsel, atau membaca buku juga oke, kok! Yeah, siapa tahu gebetan lewat depan rumah, lalu kalian jadian? Ha-ha.(Bayu N/E03)