Kisah Teko Blirik: Ada Sejak Zaman Penjajahan, Jadi Simbol Perjuangan Rakyat Indonesia

Kisah Teko Blirik: Ada Sejak Zaman Penjajahan, Jadi Simbol Perjuangan Rakyat Indonesia
Teko Blirik, wadah minuman klasik punya sejarah panjang dan menggambarkan perjuangan rakyat Indonesia. (Lazada)

Teko blirik masih bisa kamu temui di warung-warung tradisional atau kafe bertema klasik. Hanya, di balik bentuknya yang unik, teko ini ternyata juga memiliki sejarah lekat dengan perjuangan rakyat Indonesia. Kok bisa, ya?

Inibaru.id - Teko blirik memiliki nuansa kuno atau zaman dulu. Nggak disangka, teko yang lebih sering ditemui di warung tradisional atau kedai bertema klasik ini memiliki sejarah panjang dan menggambarkan perjuangan rakyat Indonesia. 

Teko blirik memiliki bentuk dan warna yang khas, yakni loreng hijau-putih. Nah, bahan utama dari teko blirik ini adalah seng yang diberi lapisan enamel. Kombinasi bahan ini membuatnya awet, tahan karat, sekaligus tahan panas. Karena alasan inilah teko blirik sering dipakai untuk wadah kopi atau teh.

Jangan salah, keberadaan teko blirik ternyata sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda, lo. Berikut adalah kisah unik dari teko ini.

Sudah Ada Sejak Zaman Penjajahan Belanda

Teko blirik ternyata sudah eksis sejak zaman penjajahan Belanda. Meski sekarang dianggap sangat khas Indonesia, aslinya teko ini dari luar negeri. Pada 1845, Jan Mooijen, pedagang asal Belanda yang lahir dari Belgia membuka toko teko blirik yang dibawa dari negara asalnya.

Orang-orang Belanda di Nusantara kemudian membelinya dan menyebarkannya ke berbagai pelosok Tanah Air. Banyak buruh tani yang mendapatkan teko blirik dari orang-orang Belanda. Nah, sejak saat itulah, teko blirik mulai ngehit di Jawa.

Identik dengan hal-hal zadul. (Shutterstock)<br>
Identik dengan hal-hal zadul. (Shutterstock)

Menariknya, dulu teko blirik sengaja diberikan kepada kaum pribumi dengan tujuan membedakan identitas antara kalangan bawah, khususnya para buruh, dengan kalangan atas alias para bangsawan. Nah, gara-gara teko blirik ini juga, buruh-buruh tani mulai mengenal budaya minum teh sebagaimana yang dilakukan banyak orang Belanda.

Hingga 1908, penggunaan teko blirik sebagai penanda identitas seseorang masih bertahan. Bahkan, teko ini sampai jadi ikon khas pasar malam di Gambir, Batavia. Di pasar malam itu, tersedia berbagai wahana permainan dan kios-kios kecil tempat menjual jajanan, kerajinan tangan, serta teko dan gelas blirik.

Teko blirik punya banyak makna bagi orang-orang di masa perjuangan. (Shutterstock)<br>
Teko blirik punya banyak makna bagi orang-orang di masa perjuangan. (Shutterstock)

Jadi Simbol Perjuangan Rakyat Indonesia

Di masa perang kemerdekaan, teko blirik malah jadi simbol perjuangan. Nggak hanya buruh tani yang memakainya. Mereka yang berangkat ke medan perang juga membawanya sebagai wadah minuman.

Dalam buku Di Bawah Lentera Merah karya Soe Hok Gie, Semarang jadi salah satu kota yang identik dengan pergerakan politik di masanya. Teko blirik dan topi caping pun jadi simbol perjuangan petani, buruh, dan nelayan di sana.

Teko blirik terus eksis dan digemari masyarakat sampai tahun 1960-an. Sayangnya, minat masyarakat semakin menurun untuk membelinya. Pada 1990-an, eksistensinya bahkan mulai dikalahkan oleh gelas-gelas dan teko berbahan plastik.

Nggak nyangka ya Millens, teko blirik dan gelasnya yang khas ini adalah simbol perjuangan rakyat Indonesia sejak zaman penjajahan. Kamu punya nggak di rumah? (Goo/IB28/E07)

.