Kisah Sukarno-Inggit Garnasih; Hubungan Terlarang yang Berakhir dengan Perceraian

Kisah Sukarno-Inggit Garnasih; Hubungan Terlarang yang Berakhir dengan Perceraian
Inggit Garnasih bersama Sukarno. (Sindo/Arsip Sejarah/Sampur Merah)

Beberapa pekan yang lalu, media sosial dihebohkan dengan penjualan surat cerai Sukarno dengan salah satu istrinya, Inggit Garnasih. Perempuan ini memang pernah menjadi istri sang Proklamator. Sekian lama setia dan menyertai Sukarno bahkan hingga ke tanah buangan, dia harus menerima kehadiran perempuan lain dan menggantikan posisinya sebagai istri Sukarno.

Inibaru.id – Namanya Inggit Garnasih, lahir di Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, pada 17 Februari 1888. Awalnya, dia hanya induk semang alias pemilik kos tempat Sukarno tinggal selama menempuh pendidikan di Bandung.

Kisah romansa keduanya bisa dibilang nggak biasa. Saat itu, Sukarno sudah menikah dengan Siti Oetari, putri kesayangan Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Sementara, Inggit masih istri Haji Sanusi.

Namun, cinta memang buta. Status pernikahan atau pun pautan usia nggak membuat Sukarno “menginjak rem”. Inggit memang sering ditinggal Sanusi pergi, sehingga dia lebih banyak bercengkerama dengan Sukarno selama serumah.

Mungkin cukup masuk akal jika Bung Karno tertarik pada Inggit. Waktu muda, dia adalah kembang desa. Banyak lelaki yang terpikat padanya. Inggit kali pertama menikah dengan Nata Atmaja, seorang patih di Kantor Residen Priangan. Sayang, pernikahan itu kandas dalam waktu singkat.

Inggit kembali menikah dengan pengusaha sekaligus pengiat di organisasi Sarekat Islam bernama Haji Sanusi.

Cinta Terlarang

Cinta datang karena biasa. Barangkali pepatah itu tepat untuk menggambarkan hubungan Inggit dengan Sukarno. Bertemu dan berinteraksi tiap hari membuat cinta di hati keduanya tumbuh. Sukarno masih berusia 21 tahun ketika itu, sementara Inggit 35 tahun.

"Pada awalnya kami menunggu. Selama beberapa bulan kami menunggu dan tiba-tiba dia berada dalam rengkuhanku. Ya, itulah yang terjadi,” tutur Sukarno kepada Cindy Adams seperti yang dikisahkan dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965).

“Aku menciumnya. Dia menciumku. Lalu aku menciumnya kembali dan kami terperangkap dalam rasa cinta satu sama lain. Dan semua itu terjadi selagi ia masih istri dari Sanusi dan aku suami dari Oetari," lanjutnya.

Setelah itu, Sukarno menceraikan Oetari. Begitu pula Inggit yang bercerai dari Sanusi. Keduanya kemudian menikah di rumah keluarga Inggit di Jalan Javaveem, Bandung, pada 24 Maret 1923.

Setia Menemani Hingga ke Tanah Buangan

Sukarno bertemu Fatmawati di Bengkulu. (Okezone/Ist)
Sukarno bertemu Fatmawati di Bengkulu. (Okezone/Ist)

Inggit Garnasih nggak pernah letih memberi semangat pada suaminya. Dia selalu menemani hidup Sukarno yang penuh dinamika. Dia setia mendampingi ketika Sukarno ditangkap di Yogyakarta pada 29 Desember 1929 dan dijebloskan ke Penjara Banceuy di Bandung lalu dipindahkan ke Sukamiskin.

Semasa Sukarno di penjara, Inggit kerap menyelipkan uang ke dalam makanan yang dibawanya agar Sukarno dapat membujuk penjaga untuk membelikannya koran. Inggit juga yang menjadi perantara Sukarno dengan para aktivis pergerakan nasional.

Dengan menggunakan kertas rokok lintingan, dia menulis pesan dari Sukarno untuk mereka. Inggit memang berjualan rokok buatan sendiri sehingga nggak mencurigakan. Rokok yang diikat dengan benang merah khusus hanya untuk para relasi suaminya, yang di dalamnya berisi pesan-pesan dari Sukarno (Peter Kasenda, Bung Karno Panglima Revolusi, 2014).

Pengorbanan Inggit nggak cuma sampai di situ. Dia sering menyelundupkan buku-buku untuk suaminya di penjara. Dalam Biografi Inggit Garnasih: Perempuan dalam Hidup Sukarno karya Reni Nuryanti (2007), Inggit berpuasa dulu selama beberapa hari supaya buku itu bisa diselipkan di perutnya.

Selama Sukarno menjalani pembuangan ke Ende, Flores, sejak 1933, lalu diasingkan lagi ke Bengkulu sejak tahun 1938, Inggit selalu di samping Sukarno. Namun, di Bengkulu inilah Sukarno berjumpa Fatmawati, perempuan manis putri dari tokoh Muhammadiyah di sana.

Setelah bebas pada 1942, Sukarno dikirim ke Jakarta. Saat itu pula, Inggit harus menerima kenyataan bahwa Sukarno berniat menikahi Fatmawati.

"Aku tidak bermaksud menyingkirkanmu. Merupakan keinginanku untuk menetapkanmu dalam kedudukan paling atas dan engkau tetap sebagai istri yang pertama,” ucap Sukarno (Cindy Adams, 1965).

“[… ] Jadi memegang segala kehormatan yang bersangkutan dengan hal ini, sementara aku dengan mematuhi hukuman agama dan dan hukuman sipil, mengambil istri kedua agar mendapatkan keturunan," imbuhnya.

Inggit menolak untuk dimadu sehingga dengan terpaksa Sukarno menceraikannya. Hampir 20 tahun berkorban untuk Sukarno, Inggit resmi diceraikan pada pertengahan 1943. Pada akhirnya, waktu yang membuat orang saling memaafkan.

Yap, pada 1960, Sukarno pernah mendatangi Inggit untuk meminta maaf karena pernah melukai hatinya. “Tidak usah meminta maaf, Kus. Pimpinlah negara dengan baik, seperti cita-cita kita dahulu di rumah ini," begitu ucap Inggit Garnasih kepada Kusno (Sukarno), mantan suaminya.

Selang 24 tahun kemudian, tepatnya 7 Februari 1984, Fatmawati juga meminta maaf dengan mediasi Ali Sadikin. Kurang dari dua bulan kemudian, Inggit mengembuskan napas terakhir. Dia wafat pada 13 April 1984 dalam usia 96 tahun.

Duh, mengharukan ya, Millens! (Mediablitar,tirto/IB21/E03)