Kisah Seorang Penyintas Covid-19 di Surabaya, Dua Kali Positif dan Hampir Diceraikan Suami

Kisah Seorang Penyintas Covid-19 di Surabaya, Dua Kali Positif dan Hampir Diceraikan Suami
Ilustrasi: Perempuan di tengah corona. Lantaran terinfeksi corona, seorang perempuan di Surabaya terancam diceraikan suami. (Smartertravel)

Lantaran terbukti positif Covid-19, seorang perempuan di Surabaya hampir saja diceraikan suaminya. Sempat dinyatakan sembuh, dia kembali positif karena depresi.

Inibaru.id - Kendati sudah dinyatakan sembuh, beberapa penolakan masih dialami oleh sebagian mantan penderita virus corona. Nggak cuma dijauhi teman, tetangga, atau keluarga, ada juga pasien yang hampir diceraikan suami, seperti kisah penyintas Covid-19 di Surabaya.

Diungkapkan Ketua Pelaksana Program Pendampingan Keluarga Pasien Rumah Sakit Lapangan Surabaya Radiyan Jadit, Selasa (18/8/2020), seorang perempuan penyintas Covid-19 bernama LS di Kota Pahlawan hampir diceraikan suaminya karena sempat terinfeksi virus corona.

Kejadian memilukan ini dialami LS setelah dia dinyatakan sembuh dari Covid-19 untuk kali pertama. Suami LS enggan menerimanya kembali ke rumah. Bahkan, dia sempat diancam akan diceraikan. Karena penolakan ini, LS ngedrop dan kembali dinyatakan positif.

"Dia drop, sehingga imunitasnya menurun, dan kembali positif Covid-19," kata Radian, mengungkapkan 

LS kembali dinyatakan sembuh setelah dirawat selama tiga hari di Rumah Sakit Lapangan Surabaya. Karena kejadian ini, pihak rumah sakit melakukan pendekatan kepada suami LS.

Kurang Komunikasi dan Pengetahuan

Sejumlah santri asal Ponpes Gontor berpose ketika mengikuti
Sejumlah santri asal Ponpes Gontor berpose ketika mengikuti "wisuda" penyintas COVID-19 di halaman Rumah Sakit Lapangan Surabaya, Jawa Timur, 28 Juli 2020. (Antara Foto/Zabur Karuru)

Dengan pendekatan komprehensif, LS akhirnya diterima kembali oleh keluarganya. Menurut Radian, kejadian ini semata karena komunikasi yang nggak lancar. Saat ini, LS berada di rumah ibunya di Tulungagung, Jawa Timur. Komunikasi dengan suaminya pun mulai cair dan membaik.

Di Indonesia, kisah LS ini bukanlah satu-satunya. Banyak kasus menyedihkan semacam ini. Meski sudah mendapatkan surat keterangan sembuh dari rumah sakit, beberapa pasien masih belum diterima oleh lingkungan sosialnya, entah itu rumah, tempat indekos, atau kontrakan.

Radian mengatakan, ditolaknya pasien di lingkungan sosial itu semata-mata karena kurangnya komunikasi dan pengetahuan masyarakat mengenai Covid-19.

"Tugas kami membuka komunikasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang Covid-19," tuturnya.

Sebagai informasi, hingga Senin (17/8), jumlah kasus Covid-19 di Jawa Timur mencapai angka 28.239.  Dari jumlah tersebut, 21.255 di antaranya dinyatakan sembuh dan 2.037 pasien meninggal dunia.

Sampai saat ini, Surabaya masih menjadi penyumbang tertinggi dengan total 10.774 kasus, diikuti Sidoarjo dengan 4.237 kasus dan Gresik dengan 2.292 kasus.

Sebetulnya, kalau pihak rumah sakit sudah menyatakan pasien sembuh, harusnya orang di sekitarnya juga bisa menerima ya, Millens. Waspada boleh, berlebihan jangan! (Kom/MG33/E03)