Keuntungan Penjualan Buku Online Jadi Pelipur Lara Para Penyelenggara Festival Sastra

Keuntungan Penjualan Buku Online Jadi Pelipur Lara Para Penyelenggara Festival Sastra
Festival Literasi Patjar Merah secara offline yang dipadati pengunjung. (Patjar Merah)

Pada masa pendemi, penyelenggara festival sastra masih bisa meraup untung dari penjualan buku online, meski tentu saja duit yang masuk nggak bisa dibandingkan dengan gelaran festival offline.

Inibaru.id - Geliat membaca di Tanah Air belakangan tampak menggembirakan. Festival literasi sukses besar dan pebisnis buku rutin turut serta dalam festival yang digelar dari satu kota ke kota lain secara berkala. Sayang, kegembiraan itu nggak berlangsung lama lantaran didera pandemi corona. 

Pemusatan massa di seluruh negeri resmi ditiadakan. Nggak kehilangan akal, perubahan konsep pun dilakukan. Kini, sejumlah festival literasi dilakukan secara virtual, dengan semangat yang sama: berjualan buku! 

Namun, berjualan buku secara virtual, kendati meraup keuntungan, agaknya nggak menjanjikan banyak hal. Setidaknya, pendapatan dari berjualan buku daring bakal berbeda dengan penjualan offline. Inilah yang diungkapkan Mochamad Firdhaus, Project Manager Out of the Boox.

Out of the Boox atau kerap disingkat OOTB merupakan festival literasi milik penerbit Mizan. Firdhaus, sapaan akrabnya, mengaku penjualan buku daring memang mengalami peningkatan saat mengubah konsep acaranya menjadi serba virtual. Namun,  dia merasa kurang puas dengan penjualan daring.

Beli buku secara online memang berbeda rasa dengan beli buku secara langsung. Salah satunya adalah dalam hal interaksi dengan penjaga buku. (Patjar Merah)
Beli buku secara online memang berbeda rasa dengan beli buku secara langsung. Salah satunya adalah dalam hal interaksi dengan penjaga buku. (Patjar Merah)

Menurutnya, penjualan daring membuat masyarakat nggak leluasa dalam memilih buku yang diinginkan. Bisa jadi, lanjutnya, pembelian bukunya nggak bakal sesuai apa yang mereka inginkan. Hal tersebut berbeda dengan pembelian langsung (offline)

“Kalau di festival, pembeli langsung melihat bentuk fisiknya. Banyak pilihan juga,”  terang Firdhaus.

Yap, perlu kamu tahu, berbeda dengan gelaran offline yang melibatkan pelbagai penerbit, OOTB virtual memang hanya menjual buku-buku terbitan Mizan. Inilah yang membuat calon pembeli merasa terbatas dalam memilih buku yang diinginkan.

Perubahan konsep penjualan buku juga dilakukan Patjar Merah. Festival literasi yang belakangan menjadi magnet masyarakat untuk membeli buku dan menikmati interaksi penulis-pembaca karya sastra Tanah Air itu pun banting setir dengan mengalihkan semua acaranya menjadi daring.

Direktur Operasional Patjar Merah Irwan Bajang mengatakan, penjualan buku daring mengalami peningkatan daripada sebelumnya. Pembatasan publik ditengarai menjadi alasan utama peningkkatan penjualan tersebut.

“Toko buku offline tutup. Jadi, ya, kalau orang cari buku via daring,” terangnya via pesan singkat, Sabtu (2/5/2020).

Talkshow secara virtual juga digunakan untuk menyedot donasi. (Patjar Merah)<br>
Talkshow secara virtual juga digunakan untuk menyedot donasi. (Patjar Merah)

Dalam menjual buku daring, Patjar Merah sejauh ini menggunakan dua lokasi penampungan buku. Kedua lokasi tersebut antara lain di Republik Fiksi Jakarta dan Toko Buku Indie Yogyakarta. Hal ini dilakukan untuk mempermudah proses pengiriman buku.

Nggak hanya berjualan, selama masa pandemi, Patjar Merah juga memanfaatan ranah daring untuk menggalang donasi pengadaan APD. Selain itu, mereka juga membantu pendidikan untuk anak-anak di Indonesia bagian timur dengan membuka talang donasi.

"Donasi dilakukan cia talk show bersama para narasumber terkemuka," kata Bajang, yang juga menerangkan bahwa dirinya cukup bersyukur lantaran donasi yang terkumpul jauh melebihi target yang dipasang.

Yap, konsep berjualan buku secara virtual memang belum bisa dibilang menjanjikan di Nusantara. Kalau kamu, lebih suka beli buku langsung di toko atau via daring, Millens? Atau, kamu lebih suka pinjam saja? Ha-ha. (Audrian F/E03)