Suka Duka Lebaran di Jerman

Suka Duka Lebaran di Jerman
Umat muslim di Jerman. (Jilbabfirzana.wordpress.com)

Merantau ke luar negeri memiliki suka duka tersendiri, termasuk bila harus merayakan hari raya di sana. Begini cerita salah seorang warga Indonesia yang tinggal di Jerman saat merayakan Lebaran.

Inibaru.id – Masyarakat muslim di Indonesia, biasanya merayakan Lebaran dengan berbagai macam kegiatan yang telah menjadi tradisi seperti makan opor ayam dan ketupat, bersilahturahmi dengan saudara dan tetangga, bermaaf-maafan, hingga bagi-bagi Tunjangan Hari Raya (THR). Namun, tradisi itu nggak dirasakan warga Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Salah seorang yang mengalaminya adalah Ike Hikmawati. Mantan anggota DPRD Kota Cimahi itu harus merayakan Lebaran di Jerman. Ike mengungkapkan pengalamannya ketika merayakan Lebaran di Asrama Mahasiswa Dutzendteichstr 1090478 Nurnberg, Jerman seperti yang ditulis Republika.co.id, (26/6/2017).

Saat Idul Fitri, Ike melakukan salat di ruang pertemuan pada salah satu gedung Universitas di Nurnberg. Seusai melaksanakan salat, Ike melanjutkan acara dengan bersalaman dan bermaaf-maafan seperti halnya di Indonesia.

"Mereka berkumpul di suatu ruangan yang telah dipersiapkan hingga salat zuhur dan jam makan siang," katanya.

Di ruangan tersebut, para jamaah dipersilahkan menikmati hidangan khas Indonesia yang telah disediakan seperti opor ayam, ketupat, es buah, kue kering khas Lebaran, klepon, dan makanan khas lainnya.

Saat mengambil makanan, semua orang mengantre dengan membawa gelas dan piring yang sudah diberi supaya nggak tertukar. Hal ini dilakukan karena gelas dan piring itu juga akan digunakan untuk makan siang.

Usai mengambil makanan, mereka bisa bebas menyantap hidangan di ruangan, taman, atau tangga. Sebagian anak-anak bermain scrable dan lari-lari di taman menikmati suasana Idul Fitri.

Seperti di Indonesia, tradisi membagi-bagikan THR kepada anak-anak juga dilakukan. Jika di Indonesia isi THR adalah uang, di Jerman beda lagi. THR tersebut berbentuk barang, Millens.

Kendati terlihat asyik, Ike mengatakan muslim di Jerman sulit mendapatkan hak karena menghadapi institusi yang didominasi orang-orang yang berbeda agama.

Wah, Lebaran di negeri orang pastinya memang berbeda dengan Lebaran di kampung halaman ya, Millens. Eits, tapi nggak masalah kok, sekarang kan teknologi sudah canggih. Jerman-Indonesia hanya sebatas layar ponsel dan wajah. SO, jangan bersedih ya para Diaspora. (IB07/E04)