Ketika Mahasiswa Rindu Rumah di Hari Raya

Ketika Mahasiswa Rindu Rumah di Hari Raya
Rindu rumah saat hari raya. (Rojakdaily.com)

Tugas kuliah menumpuk, jauhnya jarak, serta mahalnya biaya membuat sebagian mahasiswa nggak bisa mudik di hari raya. Begini kisah mahasiswa yang menahan rindu dengan keluarga saat Lebaran di perantauan.

Inibaru.id – “Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina” salah satu hadist mengatakan demikian. Namun, menuntut ilmu di tempat yang jauh dari rumah mempunyai suka duka tersendiri. Salah satu dukanya yakni sulit berkumpul dengan keluarga, sekalipun Lebaran.

Kadek Delia Arsani adalah salah seorang yang pernah merasakannya. Mahasiswa Departemen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan (FKIP) Undip ini beberapa kali melewatkan hari raya tanpa keluarga.

Waktu liburan yang singkat dan biaya tiket pesawat yang nggak murah membuat perempuan kelahiran Melaya, Bali, 19 Maret 1997 ini memutuskan menunda kepulangan saat hari raya. Dulu, Pemeluk agama Hindu itu mengaku sulit beradaptasi dengan kondisi tersebut apalagi hari raya dalam agamanya digelar setiap 6 bulan sekali.

“Dulu awalnya sedih, tapi biaya untuk pulang juga nggak murah. Karena itu saya menggunakannya buat keperluan lain seperti bayar uang indekos,” tutur Delia.

Kepada Inibaru.id, perempuan asal Bangka Belitung ini mengungkapkan suasana rumah, kebersamaan keluarga, dan masakan sang ibunda adalah hal-hal yang dirindukannya saat merayakan hari raya di kampung halaman. Nah, karena nggak bisa pulang, Delia kemudian mengobati rasa rindunya dengan pergi ke pura bersama teman-temannya.

Makanan khas yang tersaji di pura diakuinya dapat sedikit mengobati kerinduannya pada rumah. Setelah sembahyang di pura, dia pun kembali berkutat dengan tugas kuliah atau kegiatan organisasi.

“Kalau rindunya sudah nggak tertahankan, ya saya telepon keluarga. Saya bilang kangen, tapi kemudian orang tua menjawab, ‘Tunggu Adik lulus dulu aja, ya. Biar bawa toga.’ Selama kuliah saya baru mudik satu kali dan itu membekas di ingatan saya. Rasanya campur-campur melihat orang tua sudah mulai menua, sementara saya beranjak dewasa,” ujar Delia dengan nada sendu.

Saat ditanya apakah dirinya pernah berusaha mengumpulkan uang untuk mudik, Delia menjawab, dulu dia sempat bekerja paruh waktu. Akan tetapi, gaji yang diterimanya tidak digunakan untuk pulang, tetapi untuk mencukupi kebutuhannya di perantauan.

Dia juga bercerita bila sang ibu pernah mendesaknya untuk pulang. Namun, melihat biaya yang dibutuhkan begitu besar, dia kemudian memutuskan untuk kembali mengurungkan niat. Jika sudah begitu, Delia hanya bisa meminta ibunya bersabar.

Selain Delia, ada pula Gilang Alkato yang nggak bisa mudik karena adanya tugas kuliah. Sama seperti Delia, kebersamaan dengan keluarga dan teman-teman adalah hal yang paling dirindukannya saat Lebaran.

Untuk mengisi waktu Lebaran di perantauan, mahasiswa Jurusan Teknik Geologi Undip ini memilih menjadi relawan kesehatan bersama KSR Undip.

“Sedih pastinya karena nggak bisa mudik, tapi orang tua memahami dan mendukung saya selama kegiatan saya positif. Saya juga senang karena pastinya jadi relawan ini nambah pengalaman dan teman baru,” jelas pemuda asal Padang tersebut.

Setiap perbuatn pasti ada risikonya termasuk merantau, Millens. Nah, bagi kamu yang memiliki nasib sama dengan Delia dan Gilang, nggak perlu khawatir. Kamu tetap bisa merayakan hari raya bersama teman-teman kok. Selepas itu, kamu bisa memanfaatkan waktu dengan kegiatan-kegiatan positif atau berkumpul bersama orang-orang di sekitarmu. Semangat! (Artika Sari/E04)