Kenapa Seseorang Mem-bully?

Inibaru.id- Satu dari dua orang di bawah umur 20 tahun pernah mengalami perundungan (bullying). Hal ini tentu mengkhawatirkan, mengingat Anda tak bisa terus melindungi buah hati. Anda harus membiarkannya ke sekolah, bermain, berinteraksi dengan teman sepermainan, dan lain sebagainya. Padahal, di sanalah kasus bullying kerap terjadi.

Kenapa Seseorang Mem-bully?
1k
View
Komentar

Inibaru.id - Satu dari dua orang di bawah umur 20 tahun pernah mengalami perundungan (bullying). Hal ini tentu mengkhawatirkan, mengingat Anda tak bisa terus melindungi buah hati. Anda harus membiarkannya ke sekolah, bermain, berinteraksi dengan teman sepermainan, dan lain sebagainya. Padahal, di sanalah kasus bullying kerap terjadi.

Ditchthelabel.org mengatakan, seseorang mengintimidasi orang lain untuk memperoleh kontrol orang itu. Cara paling mudah adalah dengan mencari keunikan atau ketidaknormalan orang tersebut, kemudian mem-bully-nya, baik secara fisik maupun verbal.

Korban perundungan pun dengan sekuat tenaga berusaha memahami kenapa ia menjadi sasaran, yang lalu berujung menyalahkan diri sendiri. Sekuat tenaga pula ia kemudian akan mengubah keunikan dirinya untuk terlihat “normal”, agar tidak dibully.

Ini akan mempengaruhi perilaku dan caranya melihat diri sendiri, yang akan berdampak pada kesehatan fisik dan mentalnya.

Kendati demikian, ternyata aksi perundungan tak hanya disebabkan oleh anomali yang dimiliki seseorang. Ada penelitian yang menunjukkan, aksi bullying terkadang dilakukan oleh seseorang dengan alasan berikut ini:

  1. Stres atau Trauma

Kebanyakan orang berpikir, seseorang membully karena ingin mendominasi orang lain. Namun, tidak semuanya seperti itu. Sebuah penelitian menyimpulkan, kasus perundungan juga dilakukan oleh orang yang mengalami stres atau trauma.

  1. Laki-laki

Penelitian lain menyebutkan, sebanyak 66 persen orang yang mengaku pernah mengintimidasi orang lain berkelamin laki-laki. Konsep masyarakat kebanyakan yang senantiasa mendoktrin anak laki-laki tak boleh menangis atau lemah, membuatnya harus merasa kuat dengan berbagai cara.

Norma gender yang disfungsional ini sesungguhnya merugikan. Namun, para orang tua terus saja memberi “ajaran sesat” ini kepada anak-anaknya. Padahal, alih-alih merasa kuat, sejatinya anak justru memiliki sifat buruk, yakni meremehkan orang lain.

  1. Pernah Di-bully

Sebagian orang percaya, untuk merasa kuat dan kebal dari perundungan, seorang yang pernah di-bully harus melakukan hal serupa terhadap orang lain, yang biasanya lebih lemah darinya. Contoh paling mudah adalah kasus perpeloncoan di sekolah, antara senior dengan junior-juniornya.

  1. Keluarga yang Buruk

Satu dari tiga pelaku perundungan diduga memiliki latar kehidupan keluarga yang buruk. Mereka mengalami penolakan dari orang-orang yang seharusnya mencintai diri mereka tanpa syarat, bahkan sangat mungkin mengalami kekerasan. (GIL/IP)