Pergi ke Psikolog? Siapa Takut!

Pergi ke Psikolog? Siapa Takut!
Konsultasi ke psikolog. (Sensity.pl)

Saat mengalami gangguan kejiwaan, pergi ke psikolog atau psikiater adalah hal yang dianjurkan. Namun, stigma negatif kepada para penderita gangguan jiwa membuat mereka enggan memeriksakan diri ke tenaga medis.

Inibaru.id – Selama ini, sebagian masyarakat masih menganggap penderita gangguan jiwa adalah orang gila. Bahkan ada juga ujaran yang mengatakan "Hanya orang gila yang pergi ke psikolog". Stigma negatif itu membuat mereka yang merasakan gejala-gejala gangguan jiwa enggan mengunjungi psikolog.

Namun, saat ini sudah banyak orang yang lebih sadar akan kesehatan jiwanya. Psikolog Monika Windriya Satyajati mengungkapkan masyarakat sudah mulai membuka pikiran untuk menemui psikolog.

“Secara umum, memang masih ada anggapan negatif meskipun sudah bergerak ke arah yang lebih baik,” jelasnya saat ditemui Inibaru.id beberapa waktu yang lalu.  

Menghadapi maslah. (Beauty journal sociolla)

Selain stigma negatif, Monika mengatakan, menemui psikolog dalam keadaan sulit bukanlah hal yang mudah. Orang-orang yang memiliki masalah harus bisa mengumpulkan nyali dan keberanian untuk menemui psikolog.

“Setiap ada orang yang mau ke psikolog, pasti mereka harus melewati pergumulan batin, terlebih jika mereka mengalami depresi. Orang yang depresi pasti telah mengalami masalah yang luar biasa dalam hidupnya. Kemudian, ketika datang ke psikolog, mereka kan harus siap cerita sama orang yang nggak dikenal,” terang Monika.

Yap, menurut Monica, manusia pada dasarnya nggak terbiasa untuk bercerita pada orang yang nggak dikenal. Terlebih lagi, sering kali orang yang depresi memiliki perasaan trauma dan cemas pada lingkungan sekitar. Dalam hal ini, diperlukan pendekatan yang baik oleh psikolog dan keinginan yang kuat untuk menyelesaikan masalah dari pasien.

Pergi ke Psikolog Bukan Berarti Gila

Konsultasi ke psikolog. (Shutterstock)

Pada dasarnya, psikolog menangani pasien dengan pelbagai masalah mulai dari ranah sosial, personal, keluarga, hingga pekerjaan. Begitu pula dengan  permasalahan mental yang cukup berat seperti depresi, pengalaman traumatik, kecemasan tinggi, fobia, dan lainnya.

“Peran psikolog secara klinis memang ada seperti gangguan jiwa tapi yang permasalahan ringan juga bisa, seperti stress, depresi, sulit menyesuaikan diri dengan lingkunan sosial, atau mengalami bullying,” jelas Monika.

Konsultasi karier (Shutterstock)

Nggak hanya itu, psikolog juga bisa memberikan konsultasi karier dan pendidikan kepada para klien. Untuk menangani klien, psikolog punya beberapa layanan seperti assessment, konseling, intervensi berupa training atau pelatihan, dan intervensi berupa psikoterapi.

So, jangan berpikir negatif terlebih dahulu bila pengin ke psikolog, Millens. Gimana, sudah nggak takut kan? (Verawati Meidiana/E04)