Kelenteng Grajen, Rumah Ibadah dengan Nama Lokal dan Memiliki 12 Dewa

Kelenteng Grajen, Rumah Ibadah dengan Nama Lokal dan Memiliki 12 Dewa
Kelenteng Grajen dari arah depan. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Kelenteng Grajen memiliki 12 Dewa dengan Dewa Obat (Hian Thian Siang Tee) sebagai tuan rumah. Nama kelenteng pun diambil dari nama jalan sekitar.

Inibaru.id – Nama Kelenteng Grajen cukup berbeda jika dibandingkan dengan kelenteng-kelenteng lain di wilayah Pecinan Semarang. Yaitu menggunakan nama lokal daerah setempat yang beralamat di Grajen Karanglo 203 Semarang. Kelenteng ini dekat jalan raya dan sedikit menjorok masuk ke dalam sebuah gang.

Ketika saya berkunjung, Jumat (17/1), suasana kelenteng cukup ramai oleh umat Tridharma yang tengah beribadah. Oleh pengurus, saya diperbolehkan masuk.

Umat Tionghoa tengah sembayang di Kelenteng Grajen. (Inibaru.id/Isma Swastiningrum)
Umat Tionghoa tengah sembayang di Kelenteng Grajen. (Inibaru.id/Isma Swastiningrum)

Di kelenteng tersebut, saya bertemu dengan Budi, mantan Biokong yang dulu pernah mengabdikan diri selama 25 tahun. Menurut keterangannya, Kelenteng Grajen telah berdiri sejak 180 tahun yang lalu. Awal berdiri ukuran bangunannya kecil dan dewanya masih sedikit, tapi oleh pemilik dan pengurusnya dibangun lebih besar.

Kelenteng Grajen setidaknya memiliki 12 dewa-dewi, selaku tuan rumah atau yang utama adalah Dewa Obat atau Hian Thian Siang Tee, juga ada dewa lainnya termasuk Hok Tek Cing Sin, Kong Hu Cu, Kwan Tee Kun, dan Si Poo. Masing-masing rupang berjejer pada altar yang besar. Warna emas dan merah menjadi warna yang dominan.

“Di bawah ada Dewa Macan Putih, segala macam penyakit, santet, dihilangkannya di situ. Untuk tolak bala,” kata Budi merujuk dewa yang berada di bagian bawah.  

Aneka buah dan makanan bagi para dewa. (Inibaru.id/Isma Swastiningrum)
Aneka buah dan makanan bagi para dewa. (Inibaru.id/Isma Swastiningrum)

Di depan altar terdapat meja besar yang berisi persembahan dari para umat untuk para dewa. Masing-masing persembahan tersebut menunjukkan maknanya tersendiri.

“Yang kaleng-kaleng itu sarden dan buah isi leci, lengkeng, kacang hijau. Itu persembahan untuk keselamatan. Jeruk itu rezeki, apel untuk kebijaksanaan dan ketenangan jiwa, pisang agar uangnya lancar. Semua ada maksudnya,” tuturnya.

Ritual ibadah yang dijalani umat Tridharma. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Ritual ibadah yang dijalani umat Tridharma. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Di sisi lain terdapat pula uang kertas emas (kim cua). Bentuk kim cua bermacam-macam tergantung simbol atau makna yang didoakan umat. Dari yang bentuknya teratai, nanas, hingga kapal-kapalan. “Seperti nanas artinya rejeki netes. Nanas rejeki naik,” tegas Budi.

Aroma dupa (hio) semakin siang semakin menusuk hidung karena semakin banyak umat yang berdatangan. Ternyata pukul 18.00 WIB akan diadakan ibadah Kongco naik. Umat kelenteng ini pasti pada siap-siap. Hee

Meski kunjungan saya cukup singkat, tapi senang sekali saya dapat pelajaran baru.  (Isma Swastiningrum/E05)