Pertamina Mengaku Sebabkan Kebakaran di Teluk Balikpapan

Kebakaran di perairan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur menyebabkan tewasnya dua orang nelayan, tiga orang masih dikabarkan hilang, 20 orang terluka, dan rusaknya ekosistem air. Kebakaran itu diduga akibat tumpahnya minyak bahan bakar kapal atau Marine Fuel Oil (MFO).

Pertamina Mengaku Sebabkan Kebakaran di Teluk Balikpapan
Proses pemadaman minyak yang terbakar di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (1/4/2018). (Beritagar.id/Sri Gunawan Wibisono)

Inibaru.id – Tumpahan minyak bahan bakar kapal atau Marine Fuel Oil (MFO) menyebabkan kebakaran hebat yang terjadi di perairan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Akibat kebakaran yang terjadi pada Sabtu (31/3/2018) pukul 11.30 WITA itu, sebanyak lima orang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

Seperti ditulis Kompas.com, Selasa (3/4/2018), dua korban pertama langsung ditemukan pada saat kejadian, yakni Imam dan Wahyu Gusti Anggoro. Dua korban selanjutnya ditemukan pada pencarian hari ketiga atas nama Agus Salim dan Suyono, sedangkan korban terakhir ditemukan pada hari keempat.

Air laut di tepi pantai Benua Patra Kota Balikpapan, Kalimantan Timur menghitam lantaran tercemar tumpahan MFO, Minggu (1/4) pukul 17.00 WITA. (Tribunnews.com/Arif Fadillah)

Sebelumnya, kelima korban sempat dilaporkan hilang. Kasi Kedaruratan BPBD Balikpapan, Suprayitno, mengatakan, korban-korban yang diidentifikasi sebagai nelayan itu tertera dalam laporan korban hilang. Namun, pada Selasa (3/4), seluruh orang yang dikabarkan hilang itu sudah ditemukan.

Suprayitno mengatakan, korban terakhir ditemukan di sekitar perairan Batakan Balikpapan pada pukul 09.43 WITA. Begitu ditemukan, lanjutnya, jenazah langsung dibawa ke RSU Balikpapan, kemudian diserahkan pada pihak keluarga.

"Korban merupakan warga Balikpapan yang menyewa kapal ketinting untuk memancing ikan di tengah laut Teluk Balikpapan," ungkap Suprayitno.

Beritagar.id, Senin (2/4), menulis, insiden kebakaran terjadi tepat di tengah teluk yang memisahkan kota Balikpapan dan Penajam Paser Utara. Kobaran api terlihat dari pantai Balikpapan dengan panjang sekitar 400 meter selama kurang lebih 40 menit.

Lima nelayan dikabarkan hilang pascakejadian. Dua di antaranya ditemukan hari itu juga dalam keadaan nggak bernyawa, sementara tiga lainnya belum ditemukan. Selain korban hilang, sebanyak 20 orang juga dikabarkan mengalami luka bakar. Kepala Basarnas Oktavianto pada Minggu (1/4) mengatakan, ke-20 korban itu adalah ABK MV Ever Judger berkewarganegaraan Tiongkok.

"Para korban telah diserahkan ke pihak keluarga, sedangkan yang terluka mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan," ujar Oktavianto.

MV Ever Judger merupakan kapal tongkang pengangkut batu bara berbendera Tiongkok. Penyelidikan awal pihak kepolisian menduga, MFO yang menyebabkan kebakaran itu dikabarkan berasal dari tugboat (kapal tunda) MV Ever Judger. Kala itu, tugboat itu sedang menarik tongkang dari perairan Balikpapan menuju Tiongkok.

Proses pemadaman kobaran api di perairan tersebut berlangsung sekitar satu jam dengan mengerahkan pemadam kebakaran milik Pertamina dan Chevron.

Kerusakan Lingkungan

Petugas KKP Kalimantan Timur-Kalimantan Utara melakukan autopsi terhadap bangkai pesut yang diduga keracunan tumpahan MFO (Antara Foto/Sheravim)

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sudah menurunkan tim penegakan hukum untuk menginvestigasi pencemaran limbah minyak di perairan Teluk Balikpapan. Selain melakukan proses hukum, tim ini juga akan menetapkan langkah untuk pemulihan pencemaran limbah minyak.

KLH bakal memastikan kandungan tumpahan minyak dan asal usulnya untuk mengetahui dampak limbah minyak yang ditimbulkan terhadap kelangsungan biota di perairan Teluk Balikpapan. KLH harus bertindak cepat. Ini karena dalam banyak kasus, pencemaran minyak selalu menyebabkan dampak serius bagi ekosistem di perairan.

Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Kalimantan, Tri Bangun Laksono, mengatakan, tumpahan minyak besar kemungkinan akan merusak kehidupan biota laut di bawahnya.

“Pasti banyak yang akan mati, mereka tidak bisa hidup di lingkungan tercemar minyak,” pungkasnya.

Petugas kepolisian menuangkan minyak ke gayung saat membersihkan Pantai Banua Patra dari tumpahan MFO di Teluk Balikpapan. (Antara Foto/Sheravim)

Pertamina Mengaku

Dikutip dari Kompas.com, Rabu (4/4), Pertamina Refinery Unit V Balikpapan mengonfirmasi bahwa tumpahan minyak di Teluk Balikpapan berasal dari kebocoran pipa milik Pertamina yang putus dari arah perairan Lawe-lawe Penajam Paser Utara (PPU). Namun begitu, GM Pertamina Refinery Unit V Balikpapan Togar MP mengatakan, saat kejadian, Pertamina nggak tahu kalau tumpahan itu berasal dari minyak yang diproduksi perusahaannya.

"Kami uji sampel dari minyak tumpahan saja. Kami belum tahu ada pipa yang terputus," kata Togar dalam konferensi pers bersama Polda Kaltim.

Petugas kepolisian membersihkan Pantai Banua Patra dari tumpahan MFO di Teluk Balikpapan. (Antara Foto/Sheravim)

Namun, kini Togar memastikan bahwa tumpahan minyak itu memang dari Pertamina.

"Ya, minyak mentah milik Pertamina," sebutnya.

Pada kesempatan yang sama Direktur Kriminal Khusus Polda Kaltim, Komber Pol Yustan Alpiani mengatakan, kepolisian daerah Kaltim saat ini masih menyelidiki penyebab putusnya pipa berdiameter 20 inchi setebal 12 mm milik Pertamina yang terletak di kediaman 25 meter itu.

"Terus didalami dan dicari penyebabnya," tegas Yustan. (CUT/GIL)