Nggak Cuma Jaksel, Masyarakat Urban yang Heterogen Pasti "Terjangkit" Bahasa Gado-Gado

Nggak Cuma Jaksel, Masyarakat Urban yang Heterogen Pasti
Ilustrasi anak gaul Jaksel. (Pinterest)

“Even itu keliatannya kek nggak jelas, gue sih tetep prefer milih yang itu. Which is cocok lah ya sama kebiasaan gue, at least literally gue suka,” bahasa ala #AnakJaksel.

Inibaru.id – Millens, beberapa hari terakhir ini bahasa “gado-gado” ala anak Jakarta Selatan (Jaksel) banyak  muncul di sosmed dan menjadi topik hangat di Twitter.

Pemakaian bahasa “keminggris” yang dipredikatkan kepada mereka (anak jaksel) tersebut menjadi bahan perbincangan ramai. Yap, meskipun ada beberapa pihak yang menganggap fenomena dalam linguistik disebut campur kode itu sebagai suatu hal yang nggak sepele, sebagian besar orang justru hanya menganggapnya sebagai lelucon dan hiburan.

Tapi, tahukah kamu Millens kalau fenomena bahasa “keminggris” nggak hanya terjadi di kalangan anak-anak gaul dan "badass" dari Jakarta Selatan? Contohnya saja di lingkungan mahasiswa di salah satu universitas negeri di Kota Semarang.

Kicauan di Twitter soal bahasa anak Jakel. (Twitter)

Christopher Emmanuel, mahasiswa asal Jaksel yang berkuliah di Semarang, mengaku, sebenarnya pengguna bahasa campur-campur nggak hanya orang Jaksel saja. Menurutnya, pergaulan mahasiswa di kampusnya juga banyak yang menggunakan bahasa bilingual.

“Semula gue pikir di sini bakal kental banget bahasa Jawa-nya, ternyata sama aja. Entah karena anak millenials atau gimana, tapi mereka juga pakai bahasa campur-campur, bahkan ada yang pakai bahasa Indonesia, Inggris, dan Jawa even mereka orang Semarang asli,” jelasnya.

Bukan Gaya-gayaan

Levana Tiopei, salah seorang pengguna bahasa bilingual mengatakan, dia menggunakan bahasa gado-gado bukan untuk gaya-gayaan. Keinginannya untuk bisa berbahasa Inggris serta pengaruh lagu dan film yang dinikmatinya adalah salah satu pemicu kebiasaannya berbahasa “gado-gado”.

Sama seperti Christopher Emmanuel, Levana pun mengatakan bahwa bahasa campur juga dilakukan teman sekampusnya.

"Nomong campur-campur bahasa Inggris-Indonesia juga terjadi, kok, di lingkungan kampusku," ungkap mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di Semarang itu.

Menurutnya, meski berada di daerah yang menjadikan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu, arus pencampuran bahasa asing memang bakal tetap nggak terelakan. 

"Ya, karena lingkungan itu memang heterogen," kata dia.

Menurut Levana, hampir semua daerah urban sebenarnya memakai bahasa campur-campur, kendati mungkin nggak semasif anak Jaksel. Hal ini, ujarnya, mungkin karena pembangunan di Jaksel lebih maju ketimbang wilayah lain di Jakarta, misalnya fasilitas kayak pendidikan atau pusat hiburan.

"Jadilah pergaulan di Jaksel lebih wide kelihatannya,” tuturnya.

Meski menggunakan bahasa campur, dia mengaku nggak pernah merasa bingung saat berbicara dua bahasa sekaligus.  

“Aman-aman saja, sih, karena teman-temanku juga hampir kek gitu semua ngomongnya,” aku dia.

Yap, Levana nggak salah. Bahasa memang diciptakan untuk memudahkan interaksi seseorang dengan orang lain. Selama terjalin komunikasi yang oke, menggunakan bahasa apapun tentu nggak perlu disoal. Namun, ini menjadi masalah ketika seseorang memaksakan bahasanya kepada orang lain, apalagi kalau sampai menimbulkan ketidaknyamanan. Sepakat, Millens(Verawati Meidiana/E03)