Kasus Baru Harian Tinggi, Kuburan Covid-19 Hampir Penuh, Gimana Pemerintah?

Kasus Baru Harian Tinggi, Kuburan Covid-19 Hampir Penuh, Gimana Pemerintah?
Menyiapkan kuburan untuk korban meninggal akibat Covid-19 di sebuah permakaman di Jakarta. (Liputan6/AFP/Bagus Saragih)

Meningkatnya angka kesakitan dan kematian akibat Covid-19 di Indonesia menyebabkan beberapa lahan kuburan Covid-19 hampir penuh. Melihat hal ini, pakar epidemiologi menyebut bahwa enyebaran virus Corona di Indonesia sudah nggak terbendung.

Inibaru.id – Seiring melonjaknya kasus kematian akibat Covid-19, sejumlah Tempat Permakaman Umum (TPU) diperkirakan bakal penuh dua bulan mendatang. Beberapa TPU yang diperkirakan akan penuh seperti DKI Jakarta, Surabaya di Jawa Timur, dan Cimahi di Jawa Barat.

Hampir penuhnya kuburan Covid-19 ini dikonfirmasi oleh petugas permakaman TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Imang Maulana. Menurutnya nggak sampai dua bulan ke depan, lahan kuburan di tempatnya bakal terisi penuh jika setiap hari jenazah Covid-19 yang dimakamkan mencapai 30 orang.

“Kalau seandainya lonjakan terus rata-rata 30 jenazah, sebulan ke depan (lahan makam) habis,” ungkapnya.

Imang menambahkan bahwa dalam sepekan terakhir saja, ada 200 liang kubur yang digalinya. Rekor tertinggi yakni 37 lubang dalam sehari, pada Sabtu (5/9/2020) lalu. Sekarang lahan yang tersisa hanya tersedia untuk 1.000 jenazah.

Ilustrasi: petugas penguburan jenazah Covid. (Kompas)
Ilustrasi: petugas penguburan jenazah Covid. (Kompas)

Hal serupa juga terjadi di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat. Setidaknya 20 jenazah Covid-19 dikubur tiap harinya. Koordinator gali kubur setempat, Asep, berkata bahwa jumlah makam di tempatnya sudah di luar normal.

Nggak hanya di Jakarta, bahkan di Kota Cimahi, Jawa Barat, tempat permakanan khusus jenazah Covid-19 sudah nggak bisa menerima jenazah baru. Hal serupa juga terjadi di TPU Keputih dan Babat Jerawat, Surabaya, yang dikabarkan penuh.

Penuhnya kuburan jenazah Covid-19 ini disebabkan oleh jumlah kematian yang rata-rata naik 100 kasus per harinya. Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith Australia Disky Budiman menyebut, kecepatan penyebaran virus Corona sudah nggak terbendung.

Menurutnya, satu-satunya cara untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian adalah dengan mengejar jumlah pengetesan sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dia mencontohkan pemerintah Jawa Timur dengan 40 juta penduduk setidaknya melakukan 60 ribu tes sehari.

Pemerintah harus mengejar standar tes sesui standar WHO. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)
Pemerintah harus mengejar standar tes sesui standar WHO. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Testing, tracing, isolasi. Tindakan-tindakan ini yang sebetulmnya akan menyelamatkan daerah dari jurang kematian,” ungkap Dicky.

Untuk itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pusat turut meminta pemerintah untuk kembali mendorong penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sayangnya, pemerintah berkilah bahwa pada tahap ini baru bisa mengingatkan pemda untuk terus patuh pada protokol kesehatan.

Melihat dari hal ini, semoga pemerintah segera mengambil langkah terbaik ya, Millens! (Bbc/IB27/E03)