Kasus Ayah Curi Smartphone demi Belajar Anak Berakhir Damai, Kejaksaan Garut dan Korban Terenyuh

Kasus Ayah Curi Smartphone demi Belajar Anak Berakhir Damai, Kejaksaan Garut dan Korban Terenyuh
Ilustrasi: Ponsel untuk belajar daring. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Tahu pelaku pencurian smartphone berasal dari keluarga miskin dan terpaksa melakukannya agar anak bisa belajar secara daring, korban nggak jadi melaporkannya ke polisi. Kasus ini bahkan membuat Kejaksaan Negeri terenyuh dan datang membantu.

Inibaru.id – Seorang lelaki berinisial Aj (40) di Kabupaten Garut, Jawa Barat, kepergok mencuri ponsel pintar demi membantu anaknya bisa belajar secara daring. Dia diketahui terpaksa mencuri lantaran nggak punya penghasilan yang cukup untuk membelikan ponsel untuk anaknya.

Mendengar pengakuan ini, Kejaksaan Negeri (Kajari) Garut pun tersentuh. Kepala Kajari Garut Sugeng Hariyadi mengaku terkejut dengan kasus ini. Dia pun meminta sejumlah staf Kejari Garut untuk menelusuri kondisi keluarga Aj sekaligus mencari tempat tinggalnya.

Rombongan Kajari Garut kemudian memberikan smartphone kepada Aj pada Selasa (4/8/2020) demi membantu sang anak bisa belajar secara daring.

“Saya perintahkan Kasi Padum untuk segera mencarikan handphone yang sudah dikembalikan jadi si anak tetap bisa belajar secara daring,” ucap Sugeng, Selasa (4/8).

Ilustrasi: Belajar daring di rumah. (Twitter/RottingOldWreck)
Ilustrasi: Belajar daring di rumah. (Twitter/RottingOldWreck)

Sebagai informasi, Aj adalah warga Kampung Cilelang, Desa Jati, Kecamatan Tarogong Keler, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dia berprofesi sebagai buruh serabutan dengan pendapatan nggak pasti. Pandemi Covid-19 kian menghimpit perekonomian rumah tangganya.

Saat dimintai keterangan oleh pihak kejaksaan, Aj bercerita bahwa anaknya, S (13), pengin memiliki ponsel karena harus belajar secara daring lantaran sekolahnya nggak lagi menerapkan sistem belajar tatap muka. Namun, S nggak bisa mengikuti lantaran nggak punya ponsel pintar.

“Jadi sejak masuk kelas satu Madrasah Tsanawiyah (MTs), si anak nggak pernah bisa ikut belajar online. Ayahnya kasihan, tapi nggak bisa membelikan, sehingga (dia) nekat mencuri,” ucap Kasi Pidum Kejari Garut Dapot Dariarma.

Aparat kepolisian dan Kajari memberikan bantuan smartphone bagi sang anak agar bisa belajar secara daring. (Kabar-priangan/Aep Hendy)
Aparat kepolisian dan Kajari memberikan bantuan smartphone bagi sang anak agar bisa belajar secara daring. (Kabar-priangan/Aep Hendy)

Kasus ini terkuak saat anak korban pencurian Ahmad Teguh melacak ponsel lewat aplikasi pencari smartphone yang hilang. Dia justru mendapati ponsel ini ada di sebuah gubuk reyot nggak layak huni. Ahmad kemudian memberanikan diri masuk ke dalam gubuk dan menanyakan soal ponsel tersebut.

Saat tahu ponsel tersebut dipakai untuk belajar daring sang anak, Ahmad justru terenyuh. Aj juga sama sekali nggak membantah saat ditanya apakah dirinya mencuri. Ahmad pun memutuskan untuk nggak melanjutkan kasus ini secara hukum.

“Kalau memang niat mencuri untuk kebutuhan pribadi, kan bisa dia ambil dua ponsel dan satu laptop di rumah. Yang diambil hanya untuk kebutuhan anaknya belajar saja,” ucap Ahmad, Selasa (4/8).

Begitu kepergok mencuri, Aj dikabarkan langsung mengembalikan ponsel tersebut ke pemiliknya dan meminta maaf.

Semoga segera ada solusi bagi siswa yang kesulitan belajar secara daring, ya Millens! (Viv/IB09/E03)