Kampung Pelangi Dianggap Hanya Tumpahan Rainbow Cake, Begini Reaksi Wali Kota Semarang

Cuitan akun Twitter @rizkidwika tentang beberapa tempat Instagrammable seperti Kampung Pelangi di Kota Semarang ditanggapi Hendrar Prihadi. Seperti apa tanggapannya?

Kampung Pelangi Dianggap Hanya Tumpahan Rainbow Cake, Begini Reaksi Wali Kota Semarang
Kampung Pelangi di Semarang dikritisi warganet. (Blog.pergi)

Inibaru.id – Cuitan warganet dengan akun Twitter @rizkidwika tentang tempat-tempat Instagrammable yang dianggap meracuni kehidupan masyarakat sekitar ditanggapi Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.

Melalui akun Twitter @hendrarprihadi, Hendi mengunggah tangkapan layar beberapa cuitan dari @rizkidwika. Dalam cuitan-cuitan itu, Rizki menyebut label Instagrammable sebagai sesuatu yang buruk karena membuat harga makanan dan minuman di kafe menjadi tidak karuan. Kampung kota yang berwarna-warni juga dianggap nggak berfaedah karena warnanya yang membuat mata nggak nyaman.

Dia juga menyebutnya sebagai hal yang norak. Namun, Hendi sepertinya kurang berkenan dengan anggapan Kampung Pelangi yang berada di pusat Kota Semarang dianggap "hanya" ketumpahan adonan rainbow cake.

Dalam cuitannya pada Selasa (22/10/2019) pukul 22.15 WIB, Hendi menyebut Kampung Pelangi yang dianggap “unfaedah” Rizki sudah mampu membuat ekonomi warga di kawasan tersebut meningkat. Bagi Hendi, Kampung Pelangi adalah hasil keringat dari masyarakat lokal yang mau bergerak untuk mengubah citra dari kampung yang sebelumnya terkesan kumuh tersebut. Tujuan dari hal ini adalah demi membuat perputaran ekonomi di wilayah tersebut meningkat.

Hendi sebenarnya tidak begitu mempermasalahkan apapun istilah yang disebutkan warganet yang mengaku orang tuanya berasal dari Kota Semarang tersebut, namun Hendi mengingatkan kepada warganet kalau Kampung Pelangi nggak hanya dibangun pemerintah, tapi juga ada peran besar dan gotong royong dari masyarakat. Semangat inilah yang dijaga Pemerintah Kota Semarang.

Dia juga menyebut Semarang nggak hanya tentang kampung warna-warni saja. Dalam realitanya, kini ada ratusan kampung tematik di Kota Atlas yang dibangun dengan inisiatif warga sekitar. Hendi bangga dengan peran besar masyarakat yang ingin membangun Kota Semarang dari bawah. Bagi Hendi, ini adalah semangat warga, bukan sekadar membentuk tempat yang Instagrammable.

Kalau menurut Millens apakah berbagai hal yang Instagrammable terlihat norak atau malah menarik? (IB09/E04)