Memilih Portal Berita Berlabel Islam ala Kalis Mardiasih

Memilih Portal Berita Berlabel Islam ala Kalis Mardiasih
Kalis Mardiasih saat membagikan tipsnya untuk memilih portal berita berlabel 'islami' dengan benar. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Nggak semua laman berita bertajuk "islami" yang marak di internet menjadikan seseorang bijak beragama. Kadang, portal berita tersebut justru mendorong pembacanya eksklusifkan diri dalam beragama. Gimana cara memilih situs yang baik dan menghadapi justifikasi muslimah konservatif ala Kalis Mardiasih?

Inibaru.id - Kalis Mardiasih, perempuan penulis yang populer di kalangan anak muda membagikan tipsnya dalam mengakses internet bagi muslimah. Kalis nampak khawatir terhadap maraknya laman berlabel "islam", sementara banyak pembaca yang masih kurang bijak.

Menurutnya, berbagai situs ini punya ciri khas dan kepentingan masing-masing dalam menggiring opini massa.

“Banyak orang yang nggak paham bahwa portal media islami itu nggak semuanya bisa dijadikan rujukan,” tutur Kalis, membuka percakapan, menanggapi banyaknya muslimah di Indonesia yang cenderung mencari rujukan dalam beragama dengan berselancar di internet.

Sama dengan data yang Kalis sajikan, peserta yang hadir mengakui bahwa sebuah situs Islami populer selalu muncul di pencarian paling atas. Namun yang nggak disadari oleh pengguna internet bahwa dalil dan hukum yang disajikan dalam laman tersebut nggak semuanya sesuai dengan realitas kehidupan saat ini.

Dalam pemaparannya, Kalis menekanan pentingnya memilih laman islami yang moderat. Dia mencontohkan, nggak sedikit muslimah yang memilih keluar dari pekerjaannya pascamenikah lantaran membaca salah satu laman yang membahas tentang hukum Islam.

Nah, kecanduan masyarakat Indonesia terhadap laman islami semacam itulah, lanjut Kalis, yang memantik fanatisme agama berlebih.

“Bahkan, banyak orang tua yang memaksa anak menjadi islami dengan cara yang anorganik,” terang Kalis, yang juga mengatakan bahwa orang tua semacam itu biasanya adalah pelanggan laman pengasuhan islam.

Selain harus pintar memilih website Islami, muslimah di Indonesia juga harus dihadapkan untuk menerima justifikasi dari muslimah lain yang berpaham konservatif. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Mengafirkan Orang

Selain mengubah pola hidup, ekstrimisme beragama, menurut Kalis, juga mendorong pelaku untuk dengan mudah mengafirkan orang lain. Inilah yang disayangkannya.

Hm, kalau kamu dianggap nggak salihah karena nggak sesuai dengan yang diterangkan dalam situs "islami" itu. Kalis punya solusinya, nih.

"Jawab saja dengan guyon. Kalau semua yang kita lakukan dianggap bid’ah, senyumin, nggak perlu dijawabi serius-serius,” kelakar penulis Muslimah yang Diperdebatkan ini.

Yap, kemungkinan itu memang ada. Jika memang pada akhirnya kamu mendapat tantangan hujatan dari muslimah konservatif yang terkontaminasi laman "nggak sehat" itu, Kalis menyarankan untuk melawannya dengan menyajikan realita hidup.

"Ya, kalau mereka menyajikan dalil, lawan dengan life realities atau kenyataan hidup saat ini,” pungkasnya.

Pada akhirnya, orang memang bakal membaca atau memilih apa yang dia sukai. Yang moderat akan memilih laman islam yang cukup moderat, sementara yang konservatif tentu akan lebih nyaman dengan laman tentang Islam yang konservatif. Nggak perlu menghakimi dan hadapi dengan santai ya, Millens! (Zulfa Anisah/E03)