Kala Semangat dan Bahagia Jadi Kunci Kesembuhan Lastri, Eks-Pasien Corona di Semarang

Kala Semangat dan Bahagia Jadi Kunci Kesembuhan Lastri, Eks-Pasien Corona di Semarang
Lastri (dua dari kiri) saat konferensi pers dirinya dan tiga orang lain dinyatakan sembuh, Selasa (31/3) di RSUD KRMT Wongsonegoro. (Inibaru.id/ Audrian F)

Semua yang dialami Lastri selama berstatus pasien positif corona kini tinggal kenangan. Perempuan ini meyakini, dukungan dan hati yang gembira merupakan obat mujarab.

Inibaru.id - Sudah tiga hari Lastri dipulangkan dari RSUD KRMT Kota Semarang ke rumahnya di daerah Susukan, Kabupaten Semarang. Sejak Selasa lalu (31/2), Lastri bersama tiga pasien lainnya telah dinyatakan negatif dan dipulangkan. Kini Lastri sudah dapat berkumpul dengan suami dan ketiga anak gadisnya di kediamannya yang berada di Susukan, Ungaran, Kabupaten Semarang. 

Inibaru.id berkesempatan melakukan wawancara via whatsapp dengan Lastri, Kamis (2/4). Ibu rumah tangga 45 tahun ini mengaku sangat lega dan bahagia bisa pulang ke rumah lagi setelah melewati lima belas hari masa isolasi yang penuh perjuangan. 

"Namanya nggak di rumah sendiri mana ada enaknya. Padahal di sana ya cuma disuruh tidur, istirahat, makan, minum susu, vitamin. Tapi ya nggak nyaman. Nggak bisa tidur. Inget keluarga terus," terang Lastri. 

Beruntung dokter masih mengizinkan pasien membawa handphone, sehingga Lastri tetap dapat mendengarkan radio untuk membunuh jenuh. Siaran radio favoritnya adalah radio religi yang 24 jam nonstop memutar firman dan kidung-kidung kristiani. Dengan begitu dia merasa dekat Tuhan dan memasrahkan segala sesuatu pada-Nya. 

Tapi, dokter melarangnya membuka media sosial dan membaca berita. Handphone hanya digunakan untuk tetap terhubung dengan keluarga. 

Pasien diperbolehkan membawa telepon genggam untuk berkomunikasi dengan keluarga. (GMA Network)<br>
Pasien diperbolehkan membawa telepon genggam untuk berkomunikasi dengan keluarga. (GMA Network)

Awal Maret, Lastri bepergian ke Bali selama tiga hari. Waktu itu corona belum mewabah dan pemberitaan belum masif seperti kini. Namun Lastri sudah waspada dan nggak jalan-jalan. Sampai dia mampir ke pusat oleh-oleh dan melakukan kontak dengan penjaga toko.

Sepulang dari Bali itulah Lastri mulai merasa ada yang nggak beres. Dia memeriksakan diri ke Rumah Sakit Ken Saras. Begitu menyebut dirinya pulang dari Bali, pihak rumah sakit langsung merujuk ke Semarang.  Serangkaian pemeriksaan seperti tes swab, rontgen dan ambil sampel darah dijalaninya. 

Lastri bercerita kalau dokter memberitahu suaminya lebih dulu. Suaminya lalu memberitahunya melalui telepon. Setelah tahu, Lastri hanya bisa diam. "Ya, saya terima," batinnya kala itu.

Support System adalah Kunci Kesembuhan 

Sedih sudah pasti, tapi Lastri pantang menangis. Kesedihan berlebihan hanya akan memperburuk kondisinya. Terlebih dokter juga menguatkannya dengan mengatakan bahwa sakit ini bukan aib, bisa disembuhkan dan nggak seburuk yang dibayangkan. 

Bagi Lastri, dukungan yang diberikan oleh pihak keluarga, rumah sakit, dan sesama pasien di ruang isolasi mempercepat kesembuhannya. Tiap kali ada berita orang sembuh dari corona di kota lain, pasien lain langsung saling mengabarkan.

Terlebih setelah menonton video Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melakukan telepon dengan pasien sembuh asal Solo, tekad Lastri untuk segera pulih semakin meningkat. Tiap malam sebelum memejamkan mata dia selalu mengulang-ulang "mantra", besok aku sembuh. Besok aku pulang.

Video Ganjar Pranowo yang melakukan panggilan dengan Purwanti, pasien covid-19 yang sembuh asal Solo memberinya semangat. (Radartegal.com)<br>
Video Ganjar Pranowo yang melakukan panggilan dengan Purwanti, pasien covid-19 yang sembuh asal Solo memberinya semangat. (Radartegal.com)

Selama di rumah sakit, anak-anak Lastri sering menghubunginya melalui video call. Mereka selalu tampak ceria, bercanda, dan tertawa. Tapi, fakta lain didapat Lastri setelah pulang. Suaminya bercerita, mereka memang sengaja terlihat baik-baik saja agar Lastri nggak sedih. Begitu video call berakhir, anak-anaknya menangis.

Seluruh petugas kesehatan yang merawat Lastri juga terus memberinya semangat. Di sisi lain, Lastri justru iba pada mereka dan minta dipulangkan. "Saya kasihan lihat perawatnya keringetan pakai baju astronot gitu. Tapi selalu dijawab saya suruh bahagia, nggak usah sedih dan sabar," kata perempuan ini, "Makanya saya terima kasih sekali sama mereka."

Tetangga Memberi Dukungan

Hari penantian itu akhirnya tiba. Lastri diizinkan kembali ke rumah setelah seluruh hasil pemeriksaan menunjukkan dirinya negatif Covid-19. Sebelum pulang, seluruh barang miliknya disemprot dengan desinfektan. Dokter berpesan agar dia nggak dulu melakukan kontak fisik dengan anggota keluarga sebelum mandi dan keramas. Seluruh barang dari rumah sakit harus direndam dengan deterjen. 

"Pihak dinas kesehatan sudah kasih tahu ke warga kalau nggak boleh nengok saya sampai dua minggu ke depan. Padahal mereka mau nengok saya tapi cuma bisa  lewat whatsapp," ujar Lastri. 

Meski nggak boleh dekat-dekat dengan orang lain, ada saja tetangga yang mengajaknya ngobrol dari jarak tertentu. Kata Lastri, hal ini sedikit lucu karena mereka harus saling berteriak. Tapi, dia sangat mengapresiasi tetangga sekitarnya. Mereka terus menyemangatinya dan nggak mengucilkan.

Dia sering diminta menceritakan kisahnya menjalani masa sulit di grup-grup whatsapp PKK dan Dasa wisma (dawis). Perjalanan Lastri terbebas dari corona dinilai menggugah orang untuk sadar hidup sehat dan bersih. Orang jadi nggak menyepelekan cuci tangan. 

"Makanya saya sedih kalau dengar cerita jenazah orang sakit corona ditolak. Itu bukan aib kok," ungkapnya. 

Pesan Lastri bagi mereka yang sedang berjuang di ruang isolasi adalah terkena covid-19 bukan berarti nggak bisa sembuh. Hati yang gembira adalah obat. Setuju, Millens? (Issahani/E05)