Kala 13 Kapal Korea Kalahkan Ratusan Kapal Jepang di Pertempuran Myeongryang

Kala 13 Kapal Korea Kalahkan Ratusan Kapal Jepang di Pertempuran Myeongryang
Festival pertempuran Myeongryang di Selat antara Pulau Jindo dan Haenam, Korea Selatan. (visitkorea.or.kr)

Di Korea, ada The Great Battle Myeongryang Festival yang diadakan jauh di ujung selatan negara tersebut, tepatnya di antara Haenam dan Pulau Jindo. Festival ini menggambarkan kisah legendaris 13 kapal Korea kalahkan ratusan kapal Jepang di pertempuran Myeongryang.

Inibaru.id – Selat Myeongryang yang memisahkan Pulau Jindo dengan Haenam di Korea Daratan memang nggak terlalu lebar. Keduanya disatukan dengan sebuah jembatan. Di selat inilah, sejarah mencatat 13 kapal Korea mengalahkan ratusan kapal armada Jepang di sebuah pertempuran legendaris yang dikenal sebagai Pertempuran Myeongryang.

Selain menyediakan lajur untuk kendaraan bermotor seperti mobil, truk, hingga bus untuk lewat, jembatan antara Pulau Jindo dan Desa Hakdong, Kecamatan Munnae-Myeon, Kabupaten Haenam ini juga menyediakan jalur khusus untuk orang berjalan kaki atau naik sepeda. Jalurnya terpisah sehingga kamu akan tetap merasa aman melintasi jembatan dengan panjang hampir 300 meter tersebut.

Jalurnya memang sedikit menanjak dan bisa membuatmu lelah. Namun, pengalaman untuk melewati jembatan ke pulau lain tentu sangat menarik. Betewe, kalau kamu cermati, arus laut di bawah jembatan ini sangat aneh. Menariknya, keanehan arus laut inilah yang memungkinkan cerita legendaris Pertempuran Myeongryang bisa terjadi di sana.

Pertemuran ini tercatat sebagai salah satu sejarah yang sangat penting dalam perkembangan Korea, khususnya saat dulu masih berupa kerajaan. Omong-omong, pertempuran ini terjadi pada 1597. Saat itu, Korea sedang dalam masa Perang Imjin (1592-1598).

Perang ini meletus usai pemimpin Jepang di masa Sengoku sampai Azuchi Momoyoma, Toyotomi Hideyoshi, mencetuskan ide untuk menguasai Semenanjung Korea dan sebagian wilayah Tiongkok. Saat itu, Korea sedang di bawah pemerintahan Dinasti Joseon, sementara Tiongkok ada di bawah Dinasti Ming.

Meski awalnya invasi Jepang ke Korea berjalan dengan lancar, lambat laun mereka mampu dipukul balik. Nah, salah satu momentum penyebab ditariknya armada Jepang kembali adalah kekalahan mereka di Selat Myeongryang ini. Apalagi, pada 1598, Hideyoshi juga meninggal dunia.

Festival Pertempuran Myeongryang dengan Jembatan antara Pulau Jindo dan Haenam sebagai latarnya. (Flickr/

USAG- Humphreys)
Festival Pertempuran Myeongryang dengan Jembatan antara Pulau Jindo dan Haenam sebagai latarnya. (Flickr/ USAG- Humphreys)

Sebenarnya, armada Korea saat itu sedang dalam kondisi terdesak usai Admiral Won Gyun mengalami kekalahan besar-besaran di Pertempuran Chilchonryang di Gyeoje, Gyeongsangnam – Do, pada 27 -28 Agustus 1597. Sebanyak 200 kapal armada Korea bertemu dengan sekitar 500 sampai 1.000 kapal Jepang di bawah pimpinan Shimazu Yoshihiro.

Pertempuran nggak seimbang ini membuat kapal armada Korea hanya tinggal tersisa 13 kapal. Mereka pun mundur ke barat, tepatnya ke Selat Myeongryang yang dianggap sebagai wilayah terakhir bagi mereka untuk melindungi Ibu Kota Joseon, Hanyang, atau yang kini lebih dikenal sebagai Seoul modern.

Di selat inilah, pada 26 Oktober 1597, Admiral Yi Sun-Sin, dengan hanya 13 kapal, harus menghadapi sekitar 120 sampai 330 kapal Jepang. Angkanya memang nggak pasti, namun, jumlahnya sangat nggak berimbang. Logikanya, seharusnya armada Korea bakal mudah untuk dikalahkan.

Sebagaimana disbutkan sebelumnya, armada Jepang nggak tahu soal fenomena aneh arus laut di Selat Myeongryang ini. Setiap 3 jam, arus laut ini berubah dari utara ke selatan menjadi selatan ke utara dan sebaliknya, terus-menerus. Armada Korea di bawah kepemimpinan Yi Sun-Sin tahu soal ini dan benar-benar menggunakannya untuk menyiapkan strategi pertempuran.

Armada Jepang kewalahan dengan seringnya arus laut berubah-ubah. Apalagi, arusnya juga cukup kuat di dalam selat yang sangat sempit. Bukannya fokus bertempur, mereka nggak mampu mempergunakan kemenangan jumlah kapal dan malah sering bertabrakan sendiri. Selain itu, pengetahuan tentang arus laut di sana benar-benar digunakan armada Korea untuk melakukan serangan balik. Dikabarkan, 30 kapal Jepang tenggelam gara-gara hal ini. Puluhan lain mengalami kerusakan.

Armada Jepang yang kehilangan banyak kapal sangat terkejut dan akhirnya memutuskan untuk mundur. Mereka nggak ingin semakin banyak korban tenggelam. Nah, kabar kemenangan ini menyebar ke seantero Korea dan bahkan sampai ke Dinasti Ming di Tiongkok.

Demi memperingati kemenangan ini, hingga sekarang, diadakan The Great Battle Myeongryang Festival setiap tahun. Biasanya, festival ini diadakan di musim gugur. Di festival ini, kamu bisa melihat parade kapal-kapal tradisional khas Korea yang menggambarkan peperangan di masa itu.

Tertarik melihat festival di Korea ini, Millens? (Wik/IB09/E05)