Usaha Turun-temurun Minumuman Khas Kota Semarang

Kota Semarang punya sejumlah minuman khas yang bisa menghangatkan tubuh pada cuaca dingin. Di tengah kepungan kuliner kekinian di Kota Lunpia, popularitas kuliner tradisional ini meredup, meski nggak pernah benar-benar kehilangan penggemarnya. Apa saja?

Usaha Turun-temurun Minumuman Khas Kota Semarang
Penjual wedang tahu di salah satu sudut Kota Semarang. (Inibaru.id/Verawati Meidiana)

Inibaru.id – Kota Semarang dikenal sebagai salah satu kota di Jawa Tengah yang kaya akan kuliner tradisional. Selain makanan, Kota ATLAS sempat familiar dengan minuman tradisionalnya yang khas. Sebutlah misalnya Jamu Jun, Wedang Kacang Tanah, dan Wedang Tahu.

Namun, keberadaan minuman tradisional yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan diwariskan secara turun-temurun itu kini bisa dibilang mengkhawatirkan. Zaman yang terus berkembang justru menenggelamkan popularitas minuman-minuman tradisional itu, Millens.

Dulu, minuman ini begitu mudah dicari. Namun, wedang-wedang itu kini kian sulit ditemui. Bahkan, sebagian masyarakat Semarang juga mulai melupakannya atau bahkan sama sekali nggak mengenalnya. 

Anissa Dyah Pertiwi, misalnya, mengaku nggak akrab dengan minuman-minuman tradisional tersebut. Ketika diminta menyebutkan nama-nama minuman khas dari Semarang, mahasiswa asal Kota Lunpia ini hanya bisa menggelengkan kepala. 

Baca juga:
Jajanan Masa Kecil yang Bertransformasi
Lunpia, Produk Akulturasi Tionghoa dan Jawa

“Nggak tahu! Tahunya ya wedang ronde, itu pun ragu asal Semarang atau bukan,” terang Anissa, lalu tertawa.

Setali tiga uang, Nur Laily yang lahir di Semarang juga nggak tahu banyak tentang minuman yang paling khas dari kota kelahirannya tersebut. Mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang itu hanya pernah sedikit mencecap Wedang Tahu, itupun nggak begitu sering.

“Paling-paling yang saya kenal ya Wedang Tahu. Pernah coba, tapi jarang beli karena yang jual sedikit,” kata dia.

Jauh sebelum mengalami kelangkaan, jamu jun, wedang kacang tanah, dan wedang tahu adalah pilihan terbaik masyarakat Semarang untuk menghangatkan diri saat cuaca dingin. Terbuat dari rempah-rempah dan bahan alami, ketiga minuman itu juga bagus untuk kesehatan.

Namun, seiring dengan peminat yang mulai berkurang dan kian banyaknya kuliner tandingan, penjual ketiga minuman itu pun turut surut, bahkan saat ini bisa dihitung jari. Meski begitu, mereka yang bertahan kini malah menjadikan minuman tradisional tersebut sebagai komoditas sumber penghasilan.

Lismiyati, penjual Jamu Jun asal Demak, mengaku menjadikan minuman tradisional tersebut sebagai mata pencaharian utamanya. Dibantu sang suami, Mahmud, perempuan yang sudah 10 tahun menjadi penjual jamu jun itu mengatakan, usaha itu merupakan "bisnis" turun-temurun.

"Ya, turun-temurun. Sekarang saya generasi keempat,” ujar Lis, panggilan akrabnya, saat ditemui di pasar pagi belakang Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Sebelum Lis, ibunya sudah berjualan selama 30 tahun. Namun, karena ibunya sudah nggak kuat berjualan akhirnya Lis yang menggantikan. Dia berjualan di beberapa tempat. Setiap Jumat dan Minggu dia berjualan di pasar pagi belakang Gubernuran, sedangkan pada Senin-Kamis perempuan berkerudung itu berjualan di Pasar Prembaen.

Menggantungkan hidup dari menjual minuman tradisional juga dilakukan Adi. Dia berjualan Wedang Tahu di sekitar patung Pangeran Diponegoro, Tembalang. Sejak 2010, dia mulai menyajikan mangkuk-mangkuk berisi kembang tahu yang disiram kuah gula dan jahe tersebut.

Sebelum dipercayakan ke tangannya, usaha wedang tahu itu merupakan kepunyaan mendiang bapaknya, Suparwo, yang berjualan di daerah Jalan Mataram sejak 15 tahun silam. Kini, warung wedang tahu itu dia teruskan bersama sang istri, Sri Lestari.

Kendati lokasi berjualan Adi dekat dengan kampus, nggak lantas membuat wedang tahu yang dijajakannya jadi akrab di kalangan mahasiswa. Pembelinya justru lebih banyak dari kalangan orang tua dan penduduk sekitar.

Baca juga:
Mengganjal Perut dengan Kue Ganjel rel
Hangatkan Tubuhmu dengan Jamu Jun Khas Semarang

“Kalau orang tahu khasiat jahe, pasti suka wedang tahu. Namun, sekarang banyaknya orang tua yang beli,” jelas pria lulusan salah satu SMK di Semarang itu.

Senasib dengan Adi, pemilik usaha wedang kacang tanah di daerah Banyumanik, Edi Handoko, juga mengaku sepi dari peminat anak muda. Pembelinya lebih banyak dari kalangan orang tua.

“Kebanyakan ya didominasi bapak-bapak dan ibu-ibu. Mungkin anak muda lebih suka pergi ke kafe,” tuturnya.

Usaha yang sudah ditekuninya selama lima tahun itu juga merupakan warisan dari orang tuanya, Sardi. Selain untuk mengais rezeki, Edi juga berkeinginan melestarikan dan mengenalkan wedang kacang tanah kepada masyarakat. (MEI,IF/GIL)