Josephine, Perempuan yang Bikin Napoleon Bonaparte Jadi Bucin

Josephine, Perempuan yang Bikin Napoleon Bonaparte Jadi Bucin
Josephine, janda Napoleon Bonaparte. (Programme-television.org)

Nama lengkapnya Marie-Josephine-Rose Tascher de La Pagerie. Di hadapan janda beranak dua inilah, Napoleon Bonaparte menyerahkan seluruh hatinnya. Konon, nama ini juga menjadi kata terakhir yang diucapkan Napoleon sebelum menjemput ajal di pengasingan. Padahal, perempuan ini telah mengkhianatinya.

Inibaru.id – Marie-Josephine-Rose Tascher de La Pagerie dilahirkan di Martinique pada 1763. Biasa dipanggil Rose, dia adalah putri seorang aristokrat terpandang dan pemilik perkebunan yang gulung tikar. Dia pindah ke Paris pada usia 15 tahun, untuk menikahi seorang bangsawan yang juga perwira muda bernama Alexandre de Beauharnais.

Dari pernikahan itu lahir dua orang anak, Hortense dan Eugene. Tapi, Alexandre yang memang orang kota, malu akan logat kedaerahan istrinya. Keluguan Rose soal kehidupan bangsawan di kota besar juga membuat sang suami enggan membawanya ke istana. Mereka akhirnya bercerai pada 1785.

Ketika Prancis masuk dalam masa revolusi, Alexandre nggak luput dari hukuman. Dia dipenggal, sedangkan Rose dipenjara. Setelah keluar, dia rupanya berhasil memikat seorang perwira muda, Napoleon Bonaparte.

Mereka berhubungan cukup lama. Pada 1796, Napoleon mempersuntingnya. Karena nggak suka dengan nama panggilan Rose, Napoleon kemudian memanggilnya Josephine.

Nggak Harmonis

Josephine dikenal sebagai istri yang cuek. Dia kerap mengabaikan surat-surat "bergairah" yang dikirimkan Napoleon. Karena kerap kesepian, Josephine sempat bermain mata dengan perwira lain sewaktu Napoleon bertugas di Mesir.

Napoleon nggak tinggal diam. Dia mengancam akan menceraikan Josephine. Saking kesalnya, Napoleon juga ikut-ikutan berselingkuh. Hubungan yang nyaris retak itu kembali baik berkat putra Josephine, Eugene, yang menjadi raja muda di Italia di bawah naungan Napoleon.

Seiring kenaikan posisi sosial Napoleon yang menjabat sebagai konsul (1799-1804), Josephine juga pengin pamornya naik. Dia ngotot untuk mengulang perayaan pernikahannya, dengan ritual agama pada malam penobatan Napoleon sebagai kaisar. Lokasi yang dipilihnya adalah Katedral Notre Dame.

Hubungan pernikahannya dengan Napoleon bertambah buruk. Bukan cuma karena gaya hidupnya mewah dan boros, tapi juga Josephine nggak kunjung memberi keturunan.

Dengan alasan pastor paroki nggak menghadiri perayaan pernikahan kedua mereka, Napoleon membatalkan pernikahannya dengan Josephine pada 1809. Nggak dinyana, rencana itu disetujui oleh Josephine. Jadi, bisa dibilang pasangan itu sama-sama menginginkan perceraian.

Marie Louise, istri kedua Napoleon Bonaparte. (Historyofroyalwoman)<br>
Marie Louise, istri kedua Napoleon Bonaparte. (Historyofroyalwoman)

Josephine akhirnya meninggalkan Paris dan kembali ke kediaman pribadinya di Malmaison. Di sana, Josephine sering mengadakan jamuan. Yang membiayai jamuan itu nggak lain adalah Napoleon. Meski kembali ke kampung, rupanya Josephine masih suka berfoya-foya.

Selagi Josehine sibuk mengadakan jamuan, Napoleon menikahi Marie Louise, cucu Franz I dari Austria. Dari pernikahan ini, lahir seorang putra, yang nantinya menjadi suksesor Napoleon di Roma.

Nasib Josephine rupannya berbanding terbalik dengan mantan suaminya. Setelah digulingkan, banyak musuh Napoleon yang menemui Josephine untuk mengagumi sosoknya. Sementara, mantan suaminya sedang berjuang mati-matian untuk kembali ke Paris.

Nggak banyak dijelaskan apa yang membuat perempuan ini dikagumi. Namun, banyak orang yang meratapi kematiannya pada 1814.

Kecintaan ini pula yang dirasakan Napoleon. Dengan napas terakhirnya, Kaisar pertama Prancis itu memanggil namanya di Pulau St Helena dalam penderitaan.

Hm, ternyata Napoleon bucin ya, Millens! (Kum/IB21)