Jawacana, Tabloid Anak Muda Berbahasa Jawa Gaul

Tampil dengan gaya baru, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta akan hadirkan media berbahasa Jawa gaul "Jawacana" untuk kalangan anak muda.

Jawacana, Tabloid Anak Muda Berbahasa Jawa Gaul
Sejumlah kalangan anak muda membaca berita. (Bisnis.com)

Inibaru.id – Kepala Bidang Perlindungan Pusat Pengembangan dan Perlindungan Badan Bahasa Jakarta Ganjar Harimansyah belum lama ini mengatakan, sebanyak 11 bahasa daerah di Indonesia dinyatakan punah. Nggak mau mengalami kejadian serupa, sejumlah pemerintah daerah pun terus berupaya melestarikan bahasa daerah yang mereka miliki, salah satunya pemda DI Yogyakarta (DIY).

Pelbagai upaya dilakukan pemda setempat untuk melestarikan bahasa Jawa yang merupakan "bahasa ibu" di sana. Melalui Dinas Kebudayaan DIY, mereka berencana memproduksi tabloid berbahasa Jawa gaul dengan sasaran generasi millennials yang dianggap mulai enggan menggunakan bahasa Jawa.

Seperti ditulis Tempo.co, Rabu (21/3/2018), Dinas Kebudayaan DIY berencana menerbitkan "Jawacana", sebuah tabloid berkala, yang ditujukan untuk kalangan anak muda. Jawacana rencana akan diluncurkan pada awal April 2018 ini, dengan inovasi dan gaya baru yang berbeda, yakni berbahasa Jawa Ngoko yang gaul.

Baca juga:
Targetkan Jadi World Heritage, Kota Lama Semarang Akan Dibenahi
Jokowi Penuhi Harapan Bulan untuk Miliki Kursi Roda

Jawa Ngoko adalah tingkatan bahasa Jawa sehari-hari yang paling mudah dipahami dan dekat dengan masyarakat setempat. Adapun bahasa "ngoko" yang gaul diproyeksikan untuk menggaet minat baca anak muda. Ini merupakan upaya pemerintah untuk tetap melestarikan budaya berbahasa Jawa.

Sebagai informasi, Dinas Kebudayaan DIY telah memiliki media berbahasa Jawa bernama Sempulur yang terbit sejak 2004 hingga kini. Berbeda dengan Jawacana, bahasa yang digunakan dalam Sempulur menggunakan bahasa Jawa Krama (halus) yang dianggap terlalu formal sehingga hanya kalangan tertentu yang membacanya.

Tabloid

Jawacana diluncurkan dalam bentuk tabloid setebal 16 halaman. Terbit empat kali dalam setahun, tabloid tersebut memuat berbagai rubrik seperti liputan utama, isu sosial, cerita pendek, puisi, essai foto, pengenalan huruf Jawa, hingga horoskop Jawa.

Sebagai upaya untuk merangkul anak muda, media berbahasa Jawa gaul ini juga menerima berbagai tulisan berupa artikel, cerpen, puisi, hingga foto yang diciptakan dari pemikiran kreatif kalangan muda yang masih duduk di bangku SMP, SMA ataupun mahasiswa.

Baca juga:
Nicholas Saputra Bintangi Film Omnibus
Walikota Malang Ditetapkan KPK sebagai Tersangka

Dinas Kebudayaan DIY juga siap memberikan honor bagi kamu yang mau ikut serta mengirim berbagai tulisan dan karya untuk tabloid yang akan dibagikan secara gratis ke pusat aktivitas anak muda seperti sekolah dan kafe tersebut.

Wah, asyik ya Millens? Ini bisa jadi cara bagus untuk mengenalkan bahasa Jawa sih. Eh, tapi kenapa harus tabloid cetak? Kenapa nggak versi daring saja, ya? (HH/GIL)