Jadi Petani Magang di Jepang, Orang Indonesia Dapatkan Rp 20-40 Juta Sebulan!

Jadi Petani Magang di Jepang, Orang Indonesia Dapatkan Rp 20-40 Juta Sebulan!
Ilustrasi: petani. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Ternyata, menjadi petani magang di Jepang bisa memberikan pendapatan yang cukup menggiurkan. Zakaria Sidik membuktikannya. Dia bisa meraup Rp 20-40 juta sebulan. Seperti apa ya kisahnya?

Inibaru.id – Meski dikenal sebagai negara dengan kemajuan teknologi luar biasa, bukan berarti Jepang melupakan alamnya. Pertanian di sana juga tergolong maju, lo Millens. Hal ini membuat seorang laki-laki dari Indonesia, Zakaria Sidik, memutuskan untuk magang menjadi petani di Jepang. Menariknya, meski statusnya adalah pekerja magang, dia bisa mengantongi uang jutaan Rupiah dalam sebulan, lo. Kok bisa ya?

Zakaria membeberkan pengalamannya menjadi petani magang di Jepang di kanal Youtube-nya. Lewat video-video yang diunggahnya, terlihat jelas Zakaria disibukkan dengan kegiatan merawat tanaman di prefektur Ibaraki.

Zakaria Sidik saat bekerja menjadi petani di Jepang. (Youtube/Zakaria Sidik)<br>
Zakaria Sidik saat bekerja menjadi petani di Jepang. (Youtube/Zakaria Sidik)

Berdasarkan keterangannya, asalkan dia rajin mengurus tanaman, semakin banyak penghasilan yang bisa didapatkan. Dia pun menjelaskan tentang bulan-bulan apa saja yang membuatnya sangat sibuk bekerja, yakni di Februari, Maret, April, September, Oktober, serta November.

“Kalau di musim panen, bisa dapat Rp 20-40 juta sebulan untuk kebun di kawasan dataran tinggi. Tapi itu nggak terjadi di setiap bulan. Biasanya di bulan 2, 3, 4, 9, 10, sama 11 sangatlah sibuk. Tapi sangat sebanding dengan pendapatan,” ucap Zakaria.

Lantas, dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Zakaria menyebut ada banyak faktor yang mempengaruhinya seperti jam kerja, upah minum di daerah tempatnya bekerja, hingga kurs perbandingan Rupiah dan Yen. Jika dia bekerja di pertanian di kawasan dataran rendah misalnya, penghasilannya biasanya nggak nyampai Rp 40 juta per bulan, namun nggak pernah kurang dari Rp 15 juta.

Zakaria sedang mengurus cabai di Jepang. (Youtube/Zakaria Sidik)<br>
Zakaria sedang mengurus cabai di Jepang. (Youtube/Zakaria Sidik)

Karena pekerja dibayar per jam, Zakaria pun rajin-rajin bekerja agar bisa mendapatkan upah lebih banyak. Tapi, dia menjelaskan bahwa upah tersebut bukanlah upah bersih. Dia harus pandai-pandai mengatur uang untuk kebutuhan harian seperti makanan dan pulsa. Sisanya, barulah dia tabung.

Zakaria juga menjelaskan tentang jenis tanaman apa saja yang dibudidayakan di sana. Ternyata, nggak jauh beda dari yang ada di Indonesia, Zakaria mengurus kubis, selada, jagung, wortel, daun bawang, serta cabai.

Lantas, bagaimana dia bisa mendapatkan pekerjaan ini? Zakaria menjawab dia mencari informasi soal magang menjadi petani di Jepang. Setelah itu, dia mengikuti beberapa tahapan tes. Kalau gagal, maka kontrak magang pun nggak akan bisa didapat atau dilanjutkan.

Gimana Millens? Tertarik untuk menjadi petani magang di Jepang? (Det/IB09/E05)