Inovatif, Jalan di Kota Semarang Dibuat dari Aspal Berbahan Baku Plastik

Inovatif, Jalan di Kota Semarang Dibuat dari Aspal Berbahan Baku Plastik
Aspal dari bahan baku sampah plastik. (KOMPAS/RISKA FARASONALIA)

Jalanan sepanjang hampir 1 km di Kota Semarang diaspal dengan aspal dari bahan plastik. Seperti apa sih aspal yang unik dan ramah lingkungan ini?

Inibaru.id – Siapa bilang sampah plastik nggak bisa dimanfaatkan kembali? Di Kota Semarang, sampah plastik ini dijadikan bahan baku aspal. Aspal ini bahkan sudah digunakan di jalanan Ibu Kota Jawa Tengah, lo.

Aspal dari bahan daur ulang ini sudah digunakan di Jalan Yudistira sampai Jalan Arjuna Raya, Kelurahan Pendrikan Kidul, Kecamatan Semarang Tengah. Di jalan sepanjang 964 meter ini, setidaknya dibutuhkan 1,6 ton sampah plastik yang telah dicacah digunakan sebagai bahan campuran aspal.

Proses pembuatan jalan dengan aspal dari bahan sampah plastik. (Jatengtoday/AjieMahendra)
Proses pembuatan jalan dengan aspal dari bahan sampah plastik. (Jatengtoday/AjieMahendra)

Inovasi ini ternyata dicetuskan oleh Fakultas Teknik Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang. Hal ini dianggap sebagai salah satu cara untuk mengelola sampah plastik yang semakin menggunung di Kota ATLAS.

Dekan Fakultas Teknik, Retno Sawitri menyebut keberadaan plastik sebagai campuran aspal ternyata bisa membuat kekuatan aspal meningkat hingga 40 persen. Hal ini membuat aspal ini nggak mudah rusak jika dibandingkan dengan aspal tanpa tambahan plastik.

“Kekuatan aspal plastik sudah diteliti di Pusjatan Bandung dan BBPJN 7 Surabaya dan kegiatan ini sebagai langkah pengurangan limbah plastik di Semarang,” ucap Retno.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menyaksikan pembuatan jalan dengan aspal dari bahan sampah plastik (Ayosemarang.com/Arie Widiarto)
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menyaksikan pembuatan jalan dengan aspal dari bahan sampah plastik (Ayosemarang.com/Arie Widiarto)

Retno menyebut jenis sampah plastik yang digunakan adalah kresek. Sampah plastik jenis ini dianggap sudah nggak memiliki nilai ekonomi. Sebelum digunakan sebagai campuran aspal, sampah ini harus dalam kondisi kering dan bersih.

“Dalam prosesnya pencacahan dilakukan dengan tiga mesin pencacah dengan hasil cacahan ideal 3 mm. Jika ukuran tak ideal maka tak bisa menjadi campuran aspal. Sedangkan untuk persentase campuran plastik yakni 6 persen dari total aspal yang dibutuhkan,” ucapnya.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi tentu mendukung keberadaan aspal dengan campuran sampah plastik. Dia pun menargetkan tahun depan semakin banyak jalan di wilayahnya yang menggunakan aspal jenis ini.

“Kita sudah instruksikan DPU untuk mengerjakan proyek ini mulai 2021 mendatang,” terang Hendi.

Semoga saja semakin banyak inovasi untuk mendaur ulang sampah plastik sehingga bisa mendukung kelestarian alam, ya Millens? (Kom/IB09/E06)