Ingin Beli Ponsel untuk Belajar Daring, Bocah Ini Kerja Jadi Kuli Bangunan

Ingin Beli Ponsel untuk Belajar Daring, Bocah Ini Kerja Jadi Kuli Bangunan
Catur Feriyanto, bocah yang bekerja sebagai buruh bangunan demi membeli ponsel untuk belajar daring. (Liputan6/Felek Wahyu)

Nggak punya ponsel untuk belajar daring, bocah ini bekerja menjadi kuli bangunan dengan gaji Rp 50 ribu per hari demi mendapatkannya. Seperti apa ya kisahnya?

Inibaru.id – Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan secara daring di masa pandemi Covid-19 memang memberikan dampak yang sangat besar bagi dunia pendidikan. Banyak siswa yang nggak bisa mengikutinya karena nggak memiliki ponsel atau jaringan internet. Salah satu yang mengalami masalah ini adalah Catur Feriyanto, salah seorang bocah dari Grobogan, Jawa Tengah.

Dia nggak punya ponsel yang sangat dibutuhkan untuk belajar secara daring. Hanya, dia juga nggak ingin ketinggalan pelajaran. Tekadnya untuk tetap menuntut ilmu membuatnya memilih untuk bekerja menjadi kuli bangunan. Gaji yang didapatnya memang nggak seberapa, namun Catur ingin mengumpulkannya demi mendapatkan ponsel yang sangat dia butuhkan.

“Tidak punya ponsel jadi nggak bisa belajar, jadi kerja biar bisa beli,” ucapnya.

Catur saat bekerja sebagai kuli bangunan. (Liputan6/Felek Wahyu)<br>
Catur saat bekerja sebagai kuli bangunan. (Liputan6/Felek Wahyu)

Sebagaimana kuli bangunan pada umumnya, Catur menggunakan tenaganya untuk bekerja. Dia bertugas sebagai pengaduk campuran semen dan pasir serta menjadi pengangkat genteng. Di malam harinya, barulah Catur bisa mengerjakan tugas sekolah dengan meminjam ponsel milik kakaknya.

“Siang nggak bisa mengerjakan tugas. Biasanya malam, pinjam ponsel dari mbak. Jadi kerja biar dapat uang buat beli ponsel,” terang Catur.

Marno, pemilik proyek, sebenarnya nggak berniat untuk mempekerjakan anak di bawah umur. Tapi, saat tahu Catur ingin bekerja demi membeli ponsel untuk keperluan belajar, dia pun mengizinkannya.

“Saya izinkan kerja karena katanya nggak punya ponsel buat belajar. Tidak ngoyo harus kerja keras. Kami cuma memintanya mengaduk semen dan membantu mengangkat genteng,” terang Marno yang juga merupakan tetangga keluarga Catur.

Catur adalah siswa Kelas 7 MTs Ya Robi, Desa Karangrejo, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Dia tinggal dengan dua saudara kandungnya. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai buruh tani dengan pendapatan yang pas-pasan.

Dalam sehari, Catur mendapatkan uang sebanyak Rp 50 ribu. Menurut Marno, Catur bekerja dengan rajin.

“Ya, saya suruh kerja di sini. Kerjaannya sehari-hari bagus, cakep, nggak males-malesan. Saya kasih kerja sesuai kemampuannya, nggak yang berat. Sehari saya kasih Rp 50 ribu,” pungkas Marno.

Catur mendapatkan ponsel yang dia butuhkan. (Reportase.tv)<br>
Catur mendapatkan ponsel yang dia butuhkan. (Reportase.tv)

Kabar tentang Catur yang harus bekerja demi mendapatkan ponsel didengar oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan Amin Hidayat dan Bupati Grobogan. Amin pun akhirnya menemui Catur yang baru bekerja beberapa hari dan menemaninya memberikan ponsel seharga Rp 1,9 juta.

“Sabtu (8/8/2020) sore sudah mendapatkan bantuan ponsel lengkap dengan kuota internet dari Pemerintah Kabupaten Grobogan, sebagai fasilitas untuk belajar secara daring,” ucap Amin.

Amin juga meminta Catur nggak boleh lagi bekerja sebagai kuli bangunan dan kembali fokus untuk belajar.

Meski happy ending, ada banyak kasus yang serupa seperti Catur lainnya di Indonesia. Semoga saja ada solusi lebih baik agar semua siswa bisa mendapatkan pendidikan di masa pandemi seperti sekarang ini, ya Millens? (Lip/IB09/E05)