Indonesia yang Begitu Terbuka terhadap Para Pencari Suaka

Dalam beberapa kesempatan, Indonesia menjadi negara yang cukup terbuka bagi para pengungsi. Semangat “menjaga perdamaian dunia” sebagaimana tekandung dalam UUD’45 menjadi alasan pemerintah negeri ini membukakan pintunya.

Indonesia yang Begitu Terbuka terhadap Para Pencari Suaka
Manusia perahu dari Myanmar (Foto: Postmetro)

Inibaru.id - Tak ada perang yang menyisakan kegembiraan. Dengan cara apapun, perseteruan pada akhirnya akan menimbulkan tragedi kemanusiaan. Tak hanya menelan korban, tragedi ini juga memakan harta, menimbulkan luka yang menganga, dan memantik trauma.

Orang-orang yang kalah akan terusir, tak diakui, atau bahkan terpisah dari keluarganya. Mereka pergi ke mana saja untuk bertahan hidup. Mereka rela terombang-ambing di atas perahu atau ganasnya alam, untuk menggapai asa. Siapa yang mau menolong mereka?

Konflik di Aleppo, pengusiran etnis Rohingya di Myanmar, sengketa wilayah Israel-Palestina, dan banyak lagi tragedi kemanusiaan yang membuat orang-orang terusir dari tanah airnya sendiri.

Baca juga: 2,5 Miliar Rupiah Bantuan Dari Warganet Indonesia Untuk Rohingya

Dalam beberapa kesempatan, Indonesia menjadi negara yang cukup terbuka bagi para pengungsi. Semangat “menjaga perdamaian dunia” sebagaimana termaktup dalam UUD 45 menjadi alasan pemerintah negeri ini membukakan pintunya.

Nusantara menjadi surga bagi para pencari suaka. Beberapa “manusia perahu” yang lari dari negeri asalnya terbukti diterima di negeri ini. Berbeda dengan sebagian negara lain yang antipati terhadap para pengungsi, Indonesia justru melayani mereka bak tamu.

Negeri ini memiliki sejarah panjang dalam menerima para tamu yang sebagian ditolak di negeri-negeri tetangga itu. Pertengahan 2015 Indonesia kedatangan ratusan “manusia perahu” asal Rohingya. Jumlah ini terus bertambah hingga akhir 2016 lalu.

Tanpa banyak pertimbangan, pemerintah negeri ini di bawah komando Presiden RI Joko Widodo, segera menerima mereka. Tak hanya pemerintah, banyak kalangan masyarakat yang juga turut membantu. Indonesia merawat mereka hingga kesehatannya pulih, memberi suaka, dan siap memulangkan mereka ke negeri asalnya ketika kondisi sudah kondusif.

Pengungsi berperahu dari Myanmar itu bukanlah yang pertama datang ke Indonesia. Negeri ini memiliki catatan panjang daftar pengungsi yang meminta suaka ke Indonesia.

Dilansir dari GNFI, Adriani Zulivan menuliskan, setidaknya ribuan warga Vietnam pernah terdampar di sekitar Kepulauan Riau. Pemerintah dan warga Indonesia menyelamatkan dan membawa mereka ke darat.

Baca juga: Konflik Rohingya Meruncing, Berbagai Lembaga Kemanusiaan di Indonesia Galang Donasi

Banyaknya jumlah pengungsi ini membuat tempat pengungsian sementara tak lagi layak. Dibantu badan PBB yang mengurusi pengungsi (UNHCR), Indonesia membangun komplek pemukiman terpadu.

Dalam kawasan ini, dibangun barak mukim yang memadai, tempat ibadah seluruh agama sebagaimana yang dianut para pengungsi, rumah sakit, sekolah, dapur umum, hingga penjara dan pemakaman.

Para pengungsi diberi makanan dan pakaian yang baik, anak-anak disekolahkan, yang sakit dirawat, yang melakukan kejahatan dipenjarakan, dan yang meninggal dimakamkan dengan sangat layak. Tercatat sebanyak 250 ribu jiwa pengungsi pernah menetap di sana.

Komplek ini terletak di sebuah pulau kecil di Kota Batam, bernama Pulau Galang, Provinsi Kepulauan Riau. Dari Pulau Galang inilah Indonesia pernah menggalang dukungan global untuk ikut berkontribusi dalam perdamaian dunia dengan merawat kemanusiaan.

Hingga kini saksi sejarah yang menegaskan peran Indonesia tersebut, masih dirawat dengan baik. Banyak wisatawan datang untuk mempelajari sejarahnya, banyak pula warga Vietnam yang berkunjung untuk mencari jejak keluarganya. (IP/IB)