Iming-Iming Medali Bikin Lomba Lari Makin 'Seksi'

Iming-Iming Medali Bikin Lomba Lari Makin 'Seksi'
Karena pandemi, lomba lari diubah jadi virtual. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Salah satu magnet yang memikat peserta lomba lari virtual adalah kemudahan mendapat medali. Berbeda dengan lomba yang digelar offline, lari virtual lebih longgar aturannya. Sepertinya, inilah yang membuat lomba lari virtual dilirik para pelari pemula.

Inibaru.id - Dody Widhisusanto mengawali Sabtu pagi dengan tubuh yang basah kuyup oleh keringat. Lelaki ini mengaku sudah menempuh jarak 3 Km sejak subuh tadi. Biar saya percaya, dia menunjukkan jarak lari yang tertera di running watch miliknya. 

Belakangan, berlari menjadi hobi baru teman kantor saya ini. Status Whatsapp-nya lebih sering memamerkan aktivitas berlarinya. Saya sempat "rasan-rasan" kok dia lebih langsing dan gesit ya?

“Sekarang aku (sudah seperti) atlet,” ujarnya sambil berkacak pinggang.

Dodi saat berlari di sekeliling rumahnya. (Inibaru.id/ Audrian F)
Dodi saat berlari di sekeliling rumahnya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Dodi makin intens melakukan hobinya ketika mengikuti event lari virtual. Seperti namanya, lomba ini diikuti dari rumah masing-masing, nggak perlu lagi berkumpul di suatu tempat. Cukup bermodal aplikasi (dan mematuhi aturan), para peserta bisa mendapatkan jersey dan medali.

Jarak lari yang harus ditempuh juga nggak sama. Minimal, 5 Km dan nggak harus diselesaikan hari itu juga. Wah, lomba yang santuy ya, Millens?

Bagi Dody, lomba lari virtual menarik diikuti. Dia nggak harus ketemu pelari lain. Katanya, dia cukup insecure kalau harus melihat sepatu mereka. Sebab lain, dia tetap bisa dapat medali. 

“Aku pernah lihat pelari profesional punya banyak medali. Semenjak itu aku pengin juga mengoleksi medali,” katanya.

Medali pertama Dody. (Inibaru.id/ Audrian F)
Medali pertama Dody. (Inibaru.id/ Audrian F)

Hingga akhir Januari 2021, Dody sudah mengikuti dua event virtual running. Kesimpulan saya, dia mulai "keranjingan" mengoleksi medali.

Lari virtual ini nggak cuma menarik minat Dodi. Saiful Anam, yang tahu kalau rekan kerjanya mengikuti lomba ini, juga nggak mau kalah. Dia berencana ikut lomba lari. Untuk mendukung rencananya, dia juga membeli sepatu lari.

“Lari virtual ini seperti lahan baru. Soalnya dengan lari intesitasnya bisa lebih dikendalikan daripada sepak bola atau badminto,” tutur Anam.

Sayangnya, rencanya Anam ikut lomba lari harus tertunda lantaran masalah kesehatan. Menjelang hari H, dia terkena diare. Nggak cukup dengan perut yang melilit, Anam juga baru menyadari dirinya mendapat "musibah" lain.

“Saya malah salah beli sepatu. Yang saya beli ternyata bukan sepatu lari,” pungkasnya. Jadi, apakah Anam bakalan membeli sepatu lari yang sesungguhnya untuk ikut event ini? Entahlah. Yang jelas lari virtual memang menarik untuk diikuti.

Lari Virtual Biar Komunitas Tetap Jalan

Semarang  Runner saat melakukan kegiatan sebelum pandemi. (Inibaru.id/ Audrian F)
Semarang  Runner saat melakukan kegiatan sebelum pandemi. (Inibaru.id/ Audrian F)

Kata Victorio Kharismayana, pegiat komunitas Semarang Runner, pendemi membuat semuanya serba mandek. Begitu juga kegiatan lari komunitasnya. Adanya larangan kerumunan membuat event lari konvensional mustahil dilakukan.

Agar tetap produktif, Semarang Runner membuat event lari virtual. Tujuannya agar masyarakat dan terutama rekan se-komunitasnya bisa tetap berlari meski di tengah pandemi tanpa melanggar protokol kesehatan.

“Sebenarnya lebih meriah kalau offline ya. Namun pandemi ini kan nggak tahu kapan berakhir. Jadi mungkin kami akan bikin virtual running lagi,” katanya pada Minggu (24/1).

Hm, jadi kamu mau ikutan lari virtual juga nggak? Jangan mager melulu ah! (Audrian F/E05)