IGI Beri Masukan Nadiem Agar Sederhanakan Jumlah Mata Pelajaran Jadi Maksimal Enam

IGI Beri Masukan Nadiem Agar Sederhanakan Jumlah Mata Pelajaran Jadi Maksimal Enam
Ilustrasi Nadiem Makarim. (Infokemendikbud)

Dalam pertemuan Mendikbud dan Ikatan Guru Indonesia (IGI), Nadiem diberi masukan untuk memangkas jumlah mata pelajaran SMP dan SMA. Apa saja mata pelajaran yang bakal dipangkas?

Inibaru.id – Ikatan Guru Indonesia (IGI) memberikan masukan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim untuk memangkas jumlah mata pelajaran di sekolah lewat kurikulum baru. Saran tersebut disampaikan IGI dalam pertemuan Mendikbud dengan 22 organisasi guru pada Senin (4/11/19).

Melansir CNN Indonesia, dalam pertemuan tersebut terdapat 10 hal yang disampaikan IGI pada Nadiem. Sepuluh poin tersebut merupakan upaya revolusi pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Salah satu poin yang disampaikan adalah penyederhanaan jumlah mata pelajaran di sekolah.

Ketua Umum IGI, Muhammad Ramli mengatakan hal tersebut dapat meningkatkan mutu pendidikan karena beban yang ditanggung siswa dan guru akan berkurang.

"Jadi penyederhanaan mata pelajaran ini akan berdampak ke guru juga ke siswa. Selama ini beban belajar siswa kita terlalu besar sehingga mereka harus banyak tahu, tapi tidak dalam," kata Ramli, Jumat (22/11).

IGI mengusulkan agar jumlah mata pelajaran di SD hingga SMP disederhanakan menjadi empat hingga enam mata pelajaran saja. Di sekolah Dasar, empat mata pelajaran berupa Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, dan Pendidikan karakter berbasis gama dan Pancasila menjadi mata pelajaran utama.

Sementara untuk SMP, IGI menyarankan agar maksimal lima mata pelajaran. Sedangkan SMA maksimal enam pelajaran. Terkait mata pelajaran yang akan diajarkan, IGI mengatakan perlun ada kajian lebih lanjut.

Ramli mengatakan, pelajaran yang sudah pernah diajarkan nggak perlu diajarkan kembali. Contohnya seperti pelajaran Bahasa Inggris yang diajarkan di SD, nggak perlu lagi diajarkan di SMP dan SMA.

Menurut Ramli, penyederhanaan mata pelajaran ini hanya bersifat menggabungkan mata pelajaran untuk tujuan efektivitas, bukan bertujuan untuk menghilangkan mata pelajaran tertentu.

"Saya sampaikan pemilihannya jangan sampai menghilangkan mata pelajaran, harus ada penggabungan mata pelajaran, tapi efektivitasnya tetap diperhitungkan. Jangan sampai ada guru yang kehilangan linearitasnya," ucapnya.

Ramli juga menjelaskan bahwa penyederhanaan ini juga dapat mengatasi kebutuhan guru di daerah terpencil, sehingga guru dapat disebar merata di daerah lain.

"Di daerah-daerah terpencil kebutuhan guru menjadi sangat besar hanya karena kebanyakan mata pelajaran. Saya kasih contoh (ke Nadiem), ada sekolah di kampung saya di Maros, itu siswanya 35 orang, butuh guru empat belas oranf guru karena sampai hanya 35 siswanya," ucap dia.

IGI berencana akan kembali menemui Nadiem bulan depan untuk memastikan usulan tersebut.

Kalau kamu sendiri gimana? Setuju nggak dengan wacana penyederhanaan mata pelajaran ini, Millens? (IB07/E06)