Jadi Buruh atau Pengusaha, Semua Ada di Tangan Pemuda

Kaum "millenials" memiliki pandangan tersendiri mengenai buruh dan pekerjaan. Seperti apa ya?

Jadi Buruh atau Pengusaha, Semua Ada di Tangan Pemuda
Para lulusan mahasiswa yang akan memasuki dunia pekerjaan. (Arifrizal.wordpress.com)

Inibaru.id – Buruh kerap kali dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Mereka mengasosiasikan buruh dengan orang-orang yang memiliki “pekerjaan kasar”. Padahal, buruh adalah setiap orang yang bekerja dan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain sesuai dengan UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Bahkan, pada UU yang sama, buruh disejajarkan dengan pekerja.

Namun, masyarakat tetap saja mengangap kata buruh lebih rendah dari kata pekerja. Coba saja dicermati, untuk menyebut orang yang bekerja di pabrik, masyarakat lebih sering menggunakan kata buruh pabrik. Sementara itu, orang yang bekerja di kantor baik di level rendah hingga tinggi kecuali bos disebut pekerja kantoran.

Kendati begitu, nggak bisa dimungkiri sebagian besar masyarakat Indonesia berprofesi sebagai buruh, mulai buruh pabrik sampai buruh “berdasi”. Hal ini menandakan, peluang kerja sebagai buruh sangat terbuka lebar.

Nah, kaum millenials memiliki tanggapan yang berbeda-beda mengenai hal tersebut. Sebagian ada yang menjatuhkan pilihan sebagai buruh. Sebagian yang lain justru menolak menjadi buruh dan memilih membuka usaha secara mandiri. Namun, ada juga yang memilih keduanya.

Rizky Karunia Dhea, salah seorang yang memilih opsi ketiga. Perempuan yang kini masih berstatus mahasiswa itu mengungkapkan dirinya nggak masalah bila nantinya bakal menjadi buruh. Selain itu, dia juga mempunyai keinginan untuk membuka usaha secara mandiri.

“Kalau saya sih, mau jadi buruh atau nggak itu nggak masalah, yang penting saya bekerja sesuai dengan passion saya. Selama itu passion saya ya fine-fine saja,” ujar perempuan yang akrab disapa Dhea ini.

Menurut Dhea, hal yang berpengaruh untuk menentukan pekerjaannya nanti adalah pendidikan. Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan strata 1 itu juga menambahkan, bekal pendidikan itu harus dimaksimalkan agar biasa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keinginannya.

Lain Dhea, lain Dicky. Pemilik nama lengkap Dicky Pur Cahyono itu nggak mau menjadi buruh. Dia memilih mendirikan usaha secara mandiri agar bisa membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat di sekitarnya.

“Saya pengin jadi pengusaha, selain bisa membiayai hidup ya bisa mempekerjakan orang lain juga. Jadi, lebih berguna sih,” ujar mahasiswa Universitas 17 Agustus Surabaya itu.

Memiliki latar pendidikan hukum, Dicky lantas pengin menjadi seorang notaris. Dengan pekerjan itu, dia bisa memberdayakan orang lain.

Namun, untuk mencapai hal itu, saat ini Dicky bekerja di salah satu koperasi di Surabaya. Dia mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk mendirikan usaha kelak.

Yap, di era modern seperti saat ini, peluang kerja memang sangat terbuka lebar, Millens. setiap orang bebas menentukan pekerjaan yang bakal dia geluti. Pekerjaan pun kini lebih variatif. Kamu bisa bekerja di perusahaan/instansi yang ada atau mendirikan usaha baru dengan ide-ide yang segar. Selamat menentukan masa depan, Millens. (Hayyina Hilal/E04)