Hikikomori, Fenomena Manusia yang Bertahun-tahun Mengurung Diri di Kamar dari Jepang

Hikikomori, Fenomena Manusia yang Bertahun-tahun Mengurung Diri di Kamar dari Jepang
Hikikomori, fenomena mengurung diri di kamar hingga bertahun-tahun di Jepang. (Maika Elan/National Geographic)

Di Jepang ada fenomena orang-orang yang mengurung di kamar dalam waktu yang sangat lama. Nama dari fenomena ini adalah Hikikomori. Kira-kira, apa alasan mereka melakukan ini, ya?

Inibaru.id - Fenomena di Jepang ini mirip seperti cerpen “Manusia Kamar”-nya Seno Gumira Ajidarma. Istilahnya adalah "Hikikomori" yang bermakna seseorang yang mengurung diri di kamar, sendirian, dan nggak keluar dalam waktu yang lama untuk menghindari kehidupan sosial. Apa ya penyebab mereka melakukan hal yang nggak lazim ini?

Pemerintah Jepang mendefinisikan hikikomori sebagai orang yang nggak mau berpartisipasi dalam lingkungan dan nggak ada keinginan untuk melakukan itu. Bahkan pelaku hikikomori juga nggak punya hubungan dekat dengan orang lain, termasuk dengan keluarganya sendiri.

Hikikomori umumnya terjadi pada pria muda yang masih berstatus mahasiswa atau baru saja lulus dari perguruan tinggi. Kondisi mereka sebetulnya nggak surem-surem amat kok, seringkali malah berprestasi. Namun, karena adalah permasalahan khusus, mereka kemudian memilih untuk menarik diri dari orang lain, termasuk keluarga, lalu mengurung diri di kamar saja.

Hidup mengurung diri di kamar dengan berbagai barang. (BBC)<br>
Hidup mengurung diri di kamar dengan berbagai barang. (BBC)

Ada banyak faktor yang menyebabkan fenomena ini. Hanya, kebanyakan pelakuknya mengaku sudah nggak tahan dengan tekanan dari keluarga yang meminta mereka untuk masuk di universitas terbaik atau bekerja di perusahaan besar. Jengah dengan tekanan ini, mereka pun memilih untuk melakukan hikikomori saja.

Hikikomori bisa berlangsung selama sekitar enam bulan. Tapi, ada juga yang melakukannya hingga puluhan tahun. Kementerian Kesehatan dan Ketenagakerjaan Jepang mencatat ada lebih dari satu juta pelaku hikikomori atau sekitar satu persen dari keseluruhan populasi di Jepang.

Pelaku Hikikomori mengaku lelah dengan tekanan dari lingkungan dan nggak ada lagi motivasi hdiup. (Mic.com)<br>
Pelaku Hikikomori mengaku lelah dengan tekanan dari lingkungan dan nggak ada lagi motivasi hdiup. (Mic.com)

Ngapain Saja di Kamar, ya?

Banyak orang yang berpikir kalau pelaku hikikomori seperti melakukan segala sesuatu di dalam penjara. Padahal, mereka sebenarnya hanya melakukan “me time” saja di kamar. Ada yang hanya mainan internet atau gim seharian. Ada juga yang baca buku, komik, atau novel.

Masalahnya, fenomena ini sering terjadi pada keluarga menengah dan menengah ke atas yang anak lelakinya menolak keluar rumah. Mereka enak-enak saja melakukan hikikomori karena hidupnya masih ditanggung penuh oleh orang tua.

Menurut Pemerintah Jepang, para pelaku hikikomori ini nggak hanya bakal jadi beban keluarga saja, melainkan beban masyarakat. Kalau terus dibiarkan, akan muncul generasi pengangguran yang nggak produktif di Jepang.

Hmm, tampaknya fenomena mengurung diri di kamar alias hikikomori ini nggak perlu ditiru ya, Millens. Keluar rumah dan menikmati berbagai hal baru tetap jauh lebih menarik, kok! (Nat/IB28/E07)