Heboh, Tiba-tiba Batu Besar Muncul di Tengah Danau Sentani, Ada Apa?

Heboh, Tiba-tiba Batu Besar Muncul di Tengah Danau Sentani, Ada Apa?
'Batu Beranak' muncul di tengah Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua (Minews/Badan Arkeologi Papua)

Masyarakat di sekitar Danau Sentani dikejutkan dengan adanya batu berukuran besar yang muncul di tengah danau. Batu ini kemudian diberi nama Batu Beranak.

Inibaru.id – Masyarakat Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, digegerkan dengan kemunculan batu berukuran besar yang sangat nggak biasa di tengah Danau Sentani. Batu ini kemudian diberi nama ‘Batu Beranak’. Sebenarnya, apa yang terjadi hingga batu ini tiba-tiba saja muncul?

Menurut warga sekitar, batu yang muncul berjejeran berjumlah tiga buah. Bentuk dan ukurannya berbeda. Ada yang lempeng, namun ada juga yang mengerucut. Karena bentuknya mirip seperti keluarga yang utuh berupa orang tua dan anak, warga pun menyebutnya dengan nama ‘Batu Beranak’.

Batu Beranak Danau Sentani (Okezone/Edy Siswanto)
Batu Beranak Danau Sentani (Okezone/Edy Siswanto)

Satu batu memiliki lebar sekitar 1 meter dengan tinggi sekitar dua meter di atas permukaan air danau. Batu ini diberi nama ‘Mama’ atau batu perempuan. Batu laki-laki memiliki bentuk kerucut dengan tinggi 1 meter di atas permukaan air danau. Sementara itu, batu anak yang berbentuk lempeng cenderung rata dengan permukaan air danau.

Meski batu ini muncul saat air danau surut, banyak yang meyakini batu-batu ini sangatlah besar. Tingginya bisa saja lebih dari 5 meter mengingat batu ini tertancap dengan kokoh di dasar danau.

Peneliti senior dari Balai Arkeologi Papua Hari Suroto menduga batu ini adalah sejenis batu menhir yang berasal dari zaman Megalitik. Bisa jadi, batu ini sudah ada sejak 1.500 SM. Dia menduga jika batu ini memang sengaja dibuat dan diturunkan dari kaki Gunung Cycloop. Hal ini disebabkan oleh jenis batunya yang sangat berbeda dari yang ada di Danau Sentani.

Batu Beranak berasal dari zaman Megalitik. (Minews/Badan Arkeologi Papua)
Batu Beranak berasal dari zaman Megalitik. (Minews/Badan Arkeologi Papua)

“Kalau melihat jenis batunya. Batuan ini berjenis batuan beku Peridotit yang banyak ditemukan di Pegunungan Cycloop. Posisi batunya memang berdiri jadi kami yakin memang sengaja ditempatkan seperti itu,” ucap Hari, Rabu (7/10/2020).

Selain ‘Batu Beranak’, terdapat beberapa situs-situs batu bersejarah yang menunjukkan adanya kebudayaan tinggi di masa lalu ditemukan di Papua. Situs-situs ini ada di Doyo Lama, Distrik Waibu, Pulau Asei, serta Pulau Mantei.

Semoga saja penelitian bisa dilakukan dengan lancar dan batu-batuan ini bisa tetap terjaga karena tinggi nilai sejarah, ya Millens. (Oke/IB09/E05)