Heboh Fenomena Surya Pethak Alias Matahari Putih Ramalan Sabdo Palon, Tanda Kiamat?

Heboh Fenomena Surya Pethak Alias Matahari Putih Ramalan Sabdo Palon, Tanda Kiamat?
Ilustrasi: Surya pethak ramalan Sabdo Palon Noyo Genggong tanda kiamat atau pergantian zaman. Sedang terjadi? (Flickr/ Ivan Radic)

Belakangan ini warganet membahas soal surya pethak yang masuk dalam ramalan Sabdo Palon. Kabarnya sih, fenomena alam ini sedang terjadi di Indonesia dan menandakan pergantian zaman atau tanda kiamat. Beneran nggak sih sedang terjadi?

Inibaru.id – Usai heboh membahas suhu dingin, kini warganet Indonesia juga membahas tentang fenomena surya pethak alias matahari putih.

Kabarnya sih, fenomena ini adalah salah satu ramalan Sabdo Palon Noyo Genggong yang menandakan akhir zaman alias kiamat. Sebenarnya, apakah fenomena ini memang semeresahkan ini?

Kehebohan ini sampai ke LAPAN. Salah satu penelitinya di bagian Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) Andi Pangerang sempat membaca isu soal surya pethak ini. Kalau dalam ramalan sih, disebutkan bahwa surya pethak adalah tanda akan terjadi pergantian zaman dari yang lama ke baru.

Surya pethak berasal dari Bahasa Jawa yang artinya matahari yang terlihat putih. Ada juga makna lainnya, yakni kondisi di mana siang hari terlihat seperti temaram layaknya senja atau malam hari. Nah, saat terbit, matahari akan terlihat lebih kemerahan.

Namun, saat tenggelam justru terlihat memutih. Sementara itu, saat di tengah hari, sinar matahari justru nggak begitu terik karena terus tertutupi awan atau kabut.

Dalam ramalan Sabdo Palon Noyo Genggong ini, disebutkan bahwa surya pethak ini bakal berlangsung sekitar 7 sampai 40 hari. Dampaknya, suhu permukaan bumi bakal menurun dan tumbuhan pun sulit untuk tumbuh. Manusia pun bakal kesulitan mendapatkan bahan makanan karena tumbuhan yang sulit untuk berkembang.

Andi menyebut fenomena surya pethak sebenarnya sering terjadi di musim hujan. Maklum, di musim ini awan cenderung lebih banyak menutupi langit. Selain saat musim hujan, jika ada fenomena gunung meletus atau berubahnya sirkualsi air laut juga bisa membuat penguapan terjadi dengan tinggi dan awan pun jadi lebih mudah terbentuk.

Beberapa saat lalu, sejumlah daerah di Indonesia sempat mengalami fenomena mendung di musim kemarau yang biasanya cerah. Hal ini nggak serta merta berarti sedang terjadi surya pethak. (Flickr/chwarzwert-naturfotografie)
Beberapa saat lalu, sejumlah daerah di Indonesia sempat mengalami fenomena mendung di musim kemarau yang biasanya cerah. Hal ini nggak serta merta berarti sedang terjadi surya pethak. (Flickr/chwarzwert-naturfotografie)

Memang, di beberapa tempat di Tanah Air, beberapa hari lalu lebih gelap dari biasanya karena awan mendung. Maklum, kita sedang berada di musim kemarau di mana biasanya langit bersih dari awan. Kalau dikaitkan dengan surya pethak, bisa jadi nggak pas. Yang dimaksud dengan surya pethak adalah kabut awan yang benar-benar menutupi seluruh langit bumi sehingga sinar matahari pun nggak bisa mencapai permukaan bumi. 

Menariknya, fenomena surya pethak ini pernah benar-benar terjadi lo. Kalau yang paling dekat dengan zaman sekarang adalah pada 1645 sampai 1715. Saat itu, dunia bahkan sampai mengalami “Zaman Es Kecil”.

Nah, Andi menyebut fenomena surya pethak besar kemungkinan nggak terjadi dalam waktu dekat. Meski begitu, jika terjadi bencana yang cukup ekstrem seperti letusan gunung berapi yang cukup besar atau mengeluarkan abu yang sangat banyak, hingga berubahnya sirkulasi air laut yang nggak terprediksi, bisa jadi fenomena yang mirip bakal terjadi.

Hm, kalau kamu, percaya dengan fenomena surya pethak yang ada di ramalan Sabdo Palon nggak nih, Millens? (Kum/IB09/E05)