Hampir Sebulan FPI Jadi Organisasi Terlarang, Gimana Nasib Anggotanya?

Hampir Sebulan FPI Jadi Organisasi Terlarang, Gimana Nasib Anggotanya?
Kaos FPI milik eks snggotanya yang masih loyal. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Front Pembela Islam (FPI) menjadi salah satu organisasi yang diklaim memiliki anggota yang loyal. Ketika FPI jadi organisasi terlarang, gimana nasib anggotanya sekarang?

Inibaru.id – Pemberitaan tentang Front Pembela Islam (FPI) kian redup setelah organisasi ini ditetapakan sebagai organisasi terlarang. Rumor pembentukan FPI 0.2 yang diberi nama Front Persaudaraan Islam menjadi agenda lanjutan dari FPI, meski belum ada kepastian.

Abdul Salim, salah seorang anggota Laskar Pembela Islam (LPI), organisasi sayap FPI, menyatakan nggak keberatan dengan pembubaran organisasi yang menaunginya itu. Dia berdalih, kegiatan mereka masih bisa dilanjutkan.

“Kalau yang dibubarkan cuma kendaraan, ganti kendaraan masih bisa berlanjut,” ungkapnya, yang mengaku akan tetap menaati Surat Keputusan Bersama (SKB) yang membuat organisasinya mandek total.

SKB pembubaran FPI yang ditandatangani Mendagri, Menkumham, Menkominfo, Jaksa Agung RI, Kapolri, dan Kepala BNPT, itu memang secara resmi membuat segala hal yang berkaitan dengan FPI dilarang beredar di Indonesia. Ini membuat para anggotanya terpaksa "cuti", termasuk Mustofa. 

Mustofa adalah rekan seorganisasi Abdul Salim. Sejak dibubarkan pada 30 Desember 2020 silam, dia mengakui, seluruh kegiatan mereka kini mandek total.

“Belum ada kegiatan. Selama pandemi kami juga harus menerapkan protokol kesehatan,” ungkap lelaki yang juga mengampu jadi ustaz di Pondok Pesantren An-Najiyah, Pledokan, Sumowono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, ini.

Dia nggak menampik kalau beberapa kegiatan Front Persaudaraan Islam sudah bisa ditemukan kendati organisasi ini belum terdaftar. Namun, para eks FPI diakuinya belum bisa aktif meski secara otomatis mereka bergabung.  

Kegiatan Diliburkan

Markas LSI FPI di Pondok Pesantren An-Najiyah. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Markas LSI FPI di Pondok Pesantren An-Najiyah. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Mustofa menungkapkan, kegiatan mereka seperti  kajian atau majelis taklim di bawah FPI yang semula digelar setiap selapan (35 hari) sekali kini mandek. Selain itu, mereka juga nggak lagi terlibat dalam berbagai agenda kemanusiaan.

Terkait dengan aksi kemanusiaan yang kerap dilakukan FPI, Mustofa mengenang, dirinya harus melewati berbagai latihan untuk bisa diterjunkan di lapangan, mulai dari diklat hingga materi tentang edukasi bencana dan keadaan darurat dari BPBD.

"Saya pernah ikut turun ke Palu (bersama FPI) untuk evakuasi bencana di sana," terang lelaki yang sudah menjadi bagian dari FPI selama kurang lebih tujuh tahun itu.

Dia meyakini, FPI punya nilai positif juga. Namun demikian, dia nggak menyangkal label negatif "tukang sweeping" yang disematkan pada organisasinya. Menurutnya, FPI terpaksa menanggung label negatif itu, meski yang melakukan beberapa anggota saja.

 “Sweeping itu kan dulu dan sudah diproses hukum. Kalau ada anggota FPI yang salah menurut negara, silakan proses hukum! Penjarakan, ya, penjarakan!” tegasnya.

Kini, semua citra baik dan buruk FPI telah terkubur bersama pemberedelan organisasi tersebut. Abdul Salim, Mustofa, serta 30-an santri di Pondok Pesantren An-Najiyah tengah menunggu kelanjutan wadah yang sebelumnya menaungi mereka tersebut.

Abdul Salim berpose di depan foto HAbib Rizieq. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Abdul Salim berpose di depan foto HAbib Rizieq. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Namun, harus diakui, para pengikut dan simpatisan FPI merupakan orang-orang loyal. Mereka seolah nggak peduli dengan pelarangan yang dilakukan pemerintah. Bahkan, Ketua FPI Jawa Tengah KH Syihabudin menyatakan, pembubaran FPI bukanlah suatu masalah yang besar.

“Tanggapannya biasa-biasa saja. Yang perlu digarisbawahi, FPI dibubarkan, tapi ruh FPI tidak akan bubar sampai kiamat, karena ruh FPI itu dari Allah,” ungkapnya.

Bahkan, Syihabbudin meyakini, para anggotanya masih terorganisasi dengan baik dan memungkinkan lahirnya FPI yang baru.

“Sekarang gerakan umat tetap terakomodasi. FPI dibubarkan akan lahir FPI lagi dan lebih besar. Hanya (menunggu) kapan untuk jadi lebih besar,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Al Hadits Desa Kebonsari, Wonoboyo, Temanggung, ini.

Apakah kamu punya pengalaman dengan organisasi islam yang satu ini? Lalu mungkinkah mereka membuat organisasi serupa dengan format baru? Kita tunggu saja ya, Millens! (Zulfa Anisah/E03)