Efek Erupsi Gunung Agung bagi Pariwisata Bali

Erupsi Gunung Agung, terlebih setelah Bandara Ngurah Rai ditutup, benar-benar mengguncang pariwisata Bali. Bagaimana selanjutnya?

Efek Erupsi Gunung Agung  bagi Pariwisata Bali
Lokasi menuju dive spot di Tulamben, Karangasem, Bali, yang ditutup lantaran erupsi Gunung Agung, Minggu (26/11/2017). (Beritagar.id/Anton Muhajir)

Inibaru.id – Status Gunung Agung yang meningkat dari keadaan normal pada September lalu mulai mengganggu sektor pariwisata di Bali. Berbanding terbalik dengan aktivitas gunung yang berlokasi di Kabupaten Karangasem itu yang terus meningkat, kegiatan pariwisata di Pulau Dewata pun kian menurun.

Puncaknya adalah ketika gunung tertinggi di Bali itu meletus pada 25 November 2017 lalu. Kegiatan pariwisata di Bali pun turut karut-marut, terlebih saat Bandara internasional I Gusti Ngurah Rai di Tuban, Kabupaten Badung, Bali, juga ditutup beberapa hari kemudian.

Dilansir dari Beritagar.id, Selasa (28/11/2017), pengaruh letusan Gunung Agung bagi pariwisata Bali betul-betul terasa begitu bandara yang melayani sekitar 400 penerbangan per hari itu ditutup total.

Menurut data Humas Bandara Ngurah Rai, akibat penutupan pada Selasa (28/11), terdapat 443 penerbangan mengalami pembatalan. Masing-masing 201 penerbangan internasional dan 242 penerbangan domestik.

Baca juga:
Gunung Agung Menuju Fase Kritis
Debu Vulkanik Gunung Agung, Maskapai Tutup Mesin dan Ratusan Penerbangan Dibatalkan

Ada 59.539 orang penumpang terkena dampak pembatalan ini, baik yang seharusnya tiba maupun meninggalkan Bali. Ini pukulan telak bagi masyarakat Bali yang mengandalkan industri pariwisata.

"Mau bagaimana lagi? Bandara sudah ditutup, jadi turis tidak bisa datang, juga tidak bisa pergi," kata I Ketut Ardana, Ketua Asosiasi Agen Perjalanan Bali.

Bagi Ardana, dampak terbesar dari erupsi Gunung Agung adalah penutupan bandara lantaran jumlah turis yang seharusnya meninggalkan Bali per hari adalah sekitar 3.800 orang.

Sehari sebelumnya, Senin (27/11), Gubernur Bali I Made Mangku Pastika mengatakan, jumlah turis yang telantar di Bali akibat penutupan bandara sekitar 5.000 orang per hari. Dengan penutupan yang sudah berlangsung dua hari, Mangku Pastika memperkirakan jumlah turis telantar di Bali sekarang mencapai 10.000 sampai 15.000 orang.

"Hal yang perlu kita khawatirkan dari kondisi saat ini adalah dampak luasnya kepada masyarakat dan pariwisata," kata Mangku Pastika.

Sementara, Bank Indonesia menyebutkan, secara makro situasi ekonomi Bali akan terkoreksi tahun ini akibat erupsi Gunung Agung. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali, Causa Iman Karana, mengatakan, tingkat pertumbuhan ekonomi Bali akhir tahun ini berdasarkan simulasi ekonomi hanya akan berkisar 3,8-4,2 persen, jauh lebih rendah dari realisasi kuartal III/2017 yang sebesar 6,2 persen.

Baca juga:
Status Awas Gunung Agung, Zona Bahaya Jadi 10 Kilometer
Saat Badai Cempaka "Layu", Badai Dahlia "Bersemi"

Salah satu daerah wisata yang merasakan dampak letusan Gunung Agung adalah Dusun Tulamben.

"Desa kami hampir 90 persen tergantung pada pariwisata, jadi dampak ekonominya sangat kelihatan, seperti Nyepi. Tidak ada pekerjaan lagi. Ekonomi masyarakat terpuruk," ungkap I Nyoman Suastika, Kepala Dusun Tulamben. (GIL/SA)