Geliat Sepak Bola Putri Usia Muda di Kota Semarang: Ada, tapi Masih Kurang!

Geliat Sepak Bola Putri Usia Muda di Kota Semarang: Ada, tapi Masih Kurang!
Berlatih sepak bola di tengah kota. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sepak bola adalah olahraga yang bisa dimainkan siapa saja. Namun, entah kenapa, permainan olah bola kaki itu terlalu identik dengan laki-laki. Padahal, di Kota Semarang geliat sepak bola putri itu ada, khususnya kalangan muda, yang salah satunya terkumpul dalam SSB Tugu Muda Semarang.

Inibaru.id - Sepak bola di Kota Semarang nggak bisa lepas dari klub yang kini berada di kasta tertinggi kompetisi Tanah Air, PSIS Semarang. Hampir tiap tahun klub ini mampu menyumbangkan talenta terbaiknya untuk Timnas Indonesia. Namun, bagaimana dengan slot untuk tim perempuannya?

Kota ATLAS memang nggak pernah kekurangan talenta muda dalam hal olah bola. Ruang yang mewadahi talenta-talenta itu juga tersedia. Sayang, nggak banyak yang memberi ruang untuk calon pesepak bola perempuan, seolah-olah sepak bola adalah ranah untuk kaum adam saja.

Yap, memang nggak banyak ruang untuk kaum hawa, tapi bukan berarti nggak ada. Bertandanglah ke Lapangan Sidodadi Semarang untuk menyaksikan para pesepak bola putri usia muda unjuk kebolehan. Mereka berusia belasan tahun, rata-rata masih duduk di bangku SMP. 

Di Lapangan Sidodadi, mereka berlatih saban Senin, Rabu, atau Kamis. Sementara, pada Sabtu, para gadis belia itu merumput di Lapangan Pancasila (Simpanglima). Belum lama ini saya menjumpai mereka saat tengah berlatih di Simpanglima.

Sesi latihan game. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Sesi latihan game. (Inibaru.id/ Audrian F)

Mereka rupanya merupakan bagian dari Sekolah Sepak Bola (SSB) Tugu Muda, salah satu sekolah sepak bola jempolan di Kota Semarang. Mengulik lebih jauh kiprah mereka, saya dipertemukan dengan Sartono Anwar, sang pelatih.

Untuk kamu yang belum tahu Sartono Anwar, dia adalah pelatih kawakan Indonesia asal Kota Lunpia, yang terkenal dengan gaya melatihnya yang keras, disiplin, dan mengutamakan kekuatan fisik. Saya pun langsung membayangkan gimana para perempuan muda itu dilatih.

Bukan bermaksud membandingkan, tapi sebagai orang yang pernah ikut SSB usia dini, saya tahu gimana kekuatan fisik betul-betul digembleng. Namun, rupanya hal tersebut nggak terlalu diterapkan sang pelatih. Bagi para cewek tanggung ini, sepak bola tak ubahnya permainan laiknya petak umpet.

Di sela-sela istirahat menguncir rambut teman. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Di sela-sela istirahat menguncir rambut teman. (Inibaru.id/ Audrian F)

Fatma misalnya, nggak berhenti berlari ke sana ke mari untuk mengejar bola pada sesi latihan game.  Terjatuh lantaran menabrak Sifa, lawan mainnya yang bertubuh lebih bongsor, dia justru terbahak, alih-alih marah atau protes.

“Badan kamu gede banget, sih!” seru Fatma kepada Sifa, lalu keduanya tertawa.

Namanya juga "bermain", mereka nggak begitu memedulikan posisi. Coach Sartono juga agaknya nggak terlalu memaksa mereka untuk tahu posisi masing-masing. Sepertinya pelatih dengan segudang pengalaman itu paham, yang paling penting adalah mencintai sepak bola saja dulu.

Pengaruh Lingkungan

Fatma (biru) kakinya sakit sehabis bertabrakan dengan Sifa (merah). (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Fatma (biru) kakinya sakit sehabis bertabrakan dengan Sifa (merah). (Inibaru.id/ Audrian F)

Sepak bola adalah permainan segala gender. Kendati di Indonesia olahraga itu masih didominasi laki-laki, geliat para pesepak bola putri bukannya nggak pernah terlihat. Jika di Australia ada Samantha Kerr dan Inggris punya Lucy Bronze, Indonesia juga memiliki Febriana Kusumaningrum.

Hal itu menunjukkan, sepak bola juga menarik untuk dilakoni seorang perempuan. Menurut Sartono Anwar, seseorang menyukai sepak bola karena lingkungan. Kalau lahir dari keluarga yang "gila bola", besar kemungkinan dia akan mencintai si kulit bundar, nggak peduli cewek atau cowok.

Pun demikian yang Fatma. Gadis berambut hitam sebahu ini mengatakan, kecintaan pada sepak bola bermula dari seringnya dia menonton tayangan sepak bola di televisi. Di dunia sepak bola, dia sangat mengidolakan pemain timnas Brazil Neymar dan gelandang timnas Indonesia putri Zahra Muzdalifah.

“Ya, (dari kecintaan itu) aku jadi sering ikut sepak bola di kampung,” ujarnya. 

Lain Fatma, lain pula Alina. Pesepak bola putri sepantaran Fatma ini mengungkapkan, dia menyukai sepak bola karena diajak para teman laki-laki di sekitar rumahnya.

"Dari kebiasaan itu, jadi keterusan," tutur perempuan yang banyak terinspirasi dari kapten timnas AS putri Alex Morgan dan striker PSIS Semarang Hari Nur Yulianto.

Seutas Asa untuk Kota Semarang

Hanya berjumlah 8 orang. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Hanya berjumlah 8 orang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Pada 2019 lalu, untuk kali pertama PSSI membuat kompetisi khusus untuk perempuan, yang pesertanya adalah tim putri dari kontestan Liga 1, kasta tertinggi sepak bola di Tanah Air. Sebagai kontestan di liga tersebut, PSIS Semarang pun otomatis turut serta.

Sebagai pelatih sepak bola putri di Semarang, Sartono Anwar menyambut baik kompetisi tersebut. Namun, dia menegaskan, pembinaan potensi pesepak bola perempuan di Semarang masih belum optimal.

“PSIS kemarin banyak ambil pemain dari luar (kota), soalnya dari sini nggak banyak,” ujarnya.

Sartono berharap, keberadaan bibit-bibit muda, termasuk yang diasuhnya sekarang, ini, bisa menjadi sumber daya yang mumpuni untuk Kota Semarang, khususnya dalam menyongsong kompetisi sepak bola putri yang akan datang.

Saya sepakat. Kendati jumlahnya mungkin belum mencukupi, setidaknya semangat itu ada. Kota Semarang bukannya nggak punya calon pesepak bola putri, kok. Di kampus atau sekolah, mereka juga kerap terlihat, meski seringnya tergabung dalam tim futsal.

Saat ini, tim sepak bola putri asuhan Sartono yang baru berdiri tiga bulan terdiri atas delapan orang. Dari segi jumlah, kelompok ini memang belum bisa dikatakan tim sepak bola yang minimal berjumlah 11 orang. Namun, setidahnya hal itu menunjukkan, masih ada asa untuk tim putri di Semarang.

Ke depan, semoga semakin banyak SSB yang membuka "kelas" khusus perempuan. Lebih dari itu, semoga kian banyak gadis bertalenta yang berani bercita-cita menjadi pemain bola profesional. Nggak ada yang nggak mungkin, bukan? (Audrian F/E03)