Gelar Pertemuan di Bali, IMF dan Bank Dunia Bahas Lima Isu Ini

Gelar Pertemuan di Bali, IMF dan Bank Dunia Bahas Lima Isu Ini
Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Persiapan Pertemuan Tahunan. (Beritadewata.com)

Tahun ini, Indonesia menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia. Pada pertemuan yang bakal berlangsung selama 8-14 Oktober nanti, ada lima isu yang menjadi sorotan 189 negara. Apa saja ya?

Inibaru.id – Pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia 2018 bakal dilangsungkan di Bali pada 8 hingga 14 Oktober mendatang. Pada pertemuan itu, 189 negara yang direncanakan hadir bakal membahas lima isu utama.

Katadata.co.id, Rabu (5/9/2018), menulis, isu pertama yang dibahas adalah penguatan International Monetary System (IMS). Dalam bahasan ini, negara maju diminta mendorong negara berkembang agar bisa meminimalisasi potensi risiko lebih dini.

Salah satu cara untuk meminimalisasi potensi ini adalah dengan penguatan Global Financial Safety Net (GFSN). Penguatan itu bisa dilakukan jika GSFN berkolaborasi dengan Regional Financing Arrangements (RFA).

Selain penguatan IMS, mereka juga bakal membahas dampak ekonomi digital terhadap perekonomian. Central bank operation dan cross border arrangement and collaboration turut menjadi bahasan penting dalam pertemuan ini.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di negara-negara berkembang, pembangunan infrastruktur menjadi isu berikutnya yang dibahas. Untuk menjalankan program ini, pihak swasta diharapkan berperan dalam mendukung pembiayaan.

Bank Indonesia melalui situs resminya pada Kamis (6/9) menulis, “Pembahasan isu ini diharapkan dapat menghasilkan kerangka kebijakan yang konsisten, tata kelola yang baik, iklim usaha yang mendukung, serta inovasi model pembiayaan infrastruktur sehingga dapat meningkatkan peran swasta dalam pembiayaan infrastruktur.”

Isu lain yang tengah berkembang adalah penguatan aspek ekonomi dan keuangan Syariah. Untuk mendukung program ini, negara-negara Islam di Asia diketahui telah menyusun International Standart for Waqf (Standar Internasional Wakaf). Hal itu dilakukan lantaran zakat dan wakaf dinilai berpotensi menjadi salah satu sumber pembiayaan infrastruktur.

Selain itu, sektor fiskal juga nggak luput dari perhatian IMF dan Bank Dunia. Isu-isu seperti urbanisasi, ekonomi digital, modal SDM yang mumpuni, manajemen risiko bencana, perubahan iklim, dan pembiayaan infrastruktur bakal disorot dalam pertemuan yang rencananya dihadiri 18 ribu peserta itu.

Untuk mempersiapkan pertemuan ini, pemerintah diketahui telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 855 miliar. Memang lumayan banyak sih, tapi pertemuan itu disebut-sebut kesempatan emas pemerintah untuk unjuk gigi menunjukkan kemajuan ekonomi Indonesia. Dengan begitu, pemerintah dapat menggaet banyak investor dari sana.

Semoga pertemuan itu bisa dimanfaatkan dengan baik untuk meningkatkan perekonomian Indonesia ya, Millens. (IB15/E04)