Gelar Diskusi Kartun Nabi Muhammad di Sekolah, Guru di Prancis Dipenggal

Gelar Diskusi Kartun Nabi Muhammad di Sekolah, Guru di Prancis Dipenggal
Ilustrasi : Karikatur Nabi Muhammad sempat memicu tragedi Charlie Hebdo beberapa saat lalu. (Flickr/Gerry Lauzon)

Seorang guru di Prancis dipenggal seseorang setelah menggelar diskusi terkait dengan kartun Nabi Muhammad bersama dengan muridnya di sekolah. Seperti apa ya kasus ini selengkapnya?

Inibaru.id - Sebuah kasus mengerikan baru saja terjadi di Prancis. Seorang guru sejarah dipenggal oleh orang tak dikenal pada Jumat (16/102020) waktu setempat. Guru sekolah menengah itu sempat menggelar diskusi soal kartun Nabi Muhammad dengan para muridnya.

Pemenggalan itu terjadi kota kecil Conflans-Sainte-Honorin di wilayah Val d'Oise, barat laut Paris. Pelaku ditembak mati oleh polisi sekitar 600 meter dari tempat kejadian perkara.

Bedasarkan laporan The Associated Press, Kantor Kejaksaan Anti Terrorisme Prancis membuka investigasi terkait pembunuhan tersebut dengan mempertimbangkan dugaan motif terorisme.

Seorang pejabat kepolisian menerangkan kepada AP bahwa pelaku bersenjatakan pisau dan airsoft gun. Sebelum ditembak, pelaku tidak merespons permintaan untuk meletakkan senjata dan bertingkah mengancam,

Sang pejabat kepolisian juga mengungkap bahwa sebelum sang guru dipenggal, dia sempat menerima ancaman usai membuka diskusi dengan tema kartun Nabi Muhammad di sekolah tempatnya mengajar.

Ilustrasi - Karangan bunga bagi korban penusukan. (Flickrf/Guillaume Galmiche)
Ilustrasi - Karangan bunga bagi korban penusukan. (Flickrf/Guillaume Galmiche)

"Guru itu diancam setelah membuka diskusi 'untuk berdebat' tentang kartun (Nabi Muhammad) sekitar 10 hari lalu," ujar pejabat kepolisian yang namanya tidak disebut karena tidak berwenang untuk membahas investigasi yang sedang berlangsung.

Pejabat polisi itu menyebut ada orang tua murid yang  menyampaikan komplain terhadap guru tersebut. Namun, polisi memastikan bahwa pelaku tidak memiliki anak yang bersekolah di sana. Identitas pelaku sendiri nggak dipublikasikan.

Warga Conflans, Remi Tell nggak menyangka kejadian seperti ini terjadi di kotanya. Sebab, selama ini kota tersebut aman dan tenteram.

"Kami tidak mengira hal ini akan terjadi," ujar  Remi Tell kepada stasiun TV lokal, CNews TV.

Dilansir AFP, sumber dari kepolisian mengungkapkan pelaku berteriak "Allahu Akbar" saat dikonfrontasi.

Pada hari yang sama, Presiden Emmanuel Macron mengunjungi lokasi kejadian nahas itu. Ia menyebut aksi itu sebagai "serangan teroris Islam". Dia juga menjamin Prancis siap untuk membela para guru. Selain itu, ia menyatakan "obskurantisme nggak akan menang".

Turut prihatin dengan kejadian ini ya, Millens. (Cnn/IB28/E07)