Film Naura & Genk Juara the Movie Melecehkan Agama?

Tokoh antagonis yang ada dalam film ini memiliki penampilan berjenggot dan kerap mengucapkan kalimat suci yang dianggap melecehkan agama tertentu.

Film Naura & Genk Juara the Movie Melecehkan Agama?
Naura & Genk Juara the Movie (Twitter)

Inibaru.id – Petisi daring berjudul “Stop Film Anak yang Melecehkan Agama” muncul di situs change.org pada 21 November 2017. Windi Ningsih adalah penggagas petisi ini karena menganggap film musikal anak-anak berjudul Naura & Genk Juara the Movie melecehkan agama Islam.

Film yang tayang di Bioskop sejak 16 November 2017 ini disutradarai oleh Eugene Panji dan dibintangi oleh Adyla Rafa Naura Ayu sebagai Naura, Joshua Yorie Rundengan sebagai Okky, dan Vickram Abdul Faqih Priyono sebagai Bimo. Dalam film ini, diceritakan bahwa ketiganya mewakili sekolahnya dalam kompetisi sains yang diadakan di acara Kemah Kreatif di kawasan hutan konservasi Situ Gunung, Sukabumi.

Di acara inilah ketiga tokoh utama ini bertemu dengan Kipli yang diperankan oleh Andryan Sulaiman Bima, seorang ranger cilik yang sedang ingin menggagalkan aksi kelompok sindikat perdagangan hewan liar bernama Trio Licik.

Baca juga:
Sutradara Italia Dokumentasikan Kehidupan Pesantren
Hujan Bulan Juni: Perjalanan Puisi Ke Gambar Hidup

Windi menganggap film ini melecehkan agama Islam karena penampilan Trio Licik yang berjenggot dan kerap menggunakan ayat-ayat suci agama Islam dalam aksinya. Ia pun menggelar petisi ini setelah banyak protes senada yang muncul di aplikasi berbagi pesan WhatsApp dan berbagai media sosial. Dalam petisinya, Dia meminta pihak berwenang untuk segera menarik dan menghentikan pemutaran film Naura & Genk Juara di jaringan bioskop.

Seto Mulyadi, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) mengaku sudah menonton film ini untuk membuktikan apakah tuduhan bahwa film ini melecehkan agama tertentu benar atau tidak. Dia pun menganggap film ini sebagai film yang edukatif dan kaya akan pelajaran tentang etika, estetika, nasionalisme, olahraga, ilmu pengetahuan dan teknologi. Kak Seto juga menganggap lirik-lirik lagu dalam film ini sangat indah dan sesuai dengan usia anak-anak yang menyanyikannya.

Perihal tokoh antagonis yang kerap melantunkan kalimat istigfar, Kak Seto menganggapnya bukan sebagai pelecehan.

“Itu saya rasa ucapan spontan semua orang Islam kalau sedang berada dalam situasi ketakutan atau kaget. Catatan saya, mungkin akan seimbang jika misalnya tokoh-tokoh protagonis dalam film ini juga mengucapkan doa, misal mengucapkan assalamualaikum atau memperlihatkan adegan mereka salat. Soalnya saya tidak melihat itu dalam film ini,” ungkapnya sebagaimana dikutip dari Beritagar.id (23/11/2017).

Baca juga:
14 Film Nasional yang Dirilis November
Film Naura & Genk Juara the Movie Melecehkan Agama?

Ahmad Yani Basuki yang merupakan Ketua Lembaga Sensor Film Indonesia (LSF) juga memberikan komentar terkait protes pada film ini.

“Jika dihubung-hubungkan dengan penistaan agama, rasanya terlalu jauh berspekulasi. Kita tahu penjahatnya muslim pun ya hanya karena dia baca doa. Ketika akhirnya si penjahat terkepung, salah satunya memang membaca istigfar. Tetapi sekali lagi, bagi LSF, itu tidak serta-merta menggambarkan pelecehan dan penistaan terhadap Islam,”. (AW/SA)