Empath, Sindrom yang Bisa Membuat Seseorang "Membaca Batin Orang Lain"

Empath, Sindrom yang Bisa Membuat Seseorang
Ada sindrom yang membuat seseorang bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Sebuah penelitian mengungkap tentang sebuah sindrom yang bernama empath. Jika memilikinya, seseorang bisa "membaca batin orang lain". Seperti apa sih sindrom ini?

Inibaru.id - Mungkin nggak sih ada orang yang bisa membaca batin orang lain? Meski terkesan seperti kekuatan super, hal ini mungkin saja terjadi jika seseorang mengidap sindrom "empath". Sindrom ini membuat seseorang bisa merasakan kondisi emosional, mental, atau fisik orang lain. 

Menariknya, bisa jadi orang-orang dengan sindrom ini ada di sekitar kita. Hal itu dibuktikan oleh penelitian terbaru dilakukan oleh Dr. Michael Banissy, profesor psikologi di Goldsmiths, dan peneliti pasca-doktoral Dr. Natalie Bowling, yang sudah bertahun-tahun meneliti empati, khususnya mirror-touch synaesthesia.

Dari penelitian itu, ditemukan fakta bahwa sekitar 1 sampai 2 persen responden mengaku memiliki sindrom empath.

Nah, sinestesia ternyata juga merupakan bagian dari empath. Yakni  ketika indera yang berbeda-beda berbaur menjadi satu. Hal ini berarti, ada orang yang bisa "mendengar" warna, "melihat" suara, atau "mencecap" kata-kata.

Untuk kasus mirror-touch synaesthesia, indera penglihatan dan indera sentuhan saling tumpang tindih. Seseorang dengan kondisi sinestesia yang melihat orang lain disentuh wajahnya, juga akan merasakan sensasi itu pada wajah mereka sendiri. Kondisi ini tergolong langka dan sangat sedikit orang yang mengalaminya.

Seseorang dengan sinestesia akan ikut merasakan apabila ada orang lain yang disentuh wajahnya pada wajah mereka sendiri. (Femina)<br>
Seseorang dengan sinestesia akan ikut merasakan apabila ada orang lain yang disentuh wajahnya pada wajah mereka sendiri. (Femina)

Sementara itu, untuk mirror-pain synaesthesia, Bowling menyebut kondisi ini dimiliki oleh sekitar 30 persen dari total populasi. Kalau kamu memilikinya, maka akan mengalami sensasi gatal hanya saat melihat orang lain menggaruk kulitnya.

Hal itu telah dibuktikan oleh Banissy dalam sebuah studi di Knowledge Museum di London. Penelitian ini dilakukan dengan meminta orang di jalanan mengisi survei tentang tingkat empati mereka.

Para peserta diminta untuk menepuk pipi sendiri sambil melihat orang lain menepuk sisi pipi yang berlawanan. Jika kamu mempunyai mirror-sense synaesthesia, kamu akan merasakan sensasi seperti ditepuk di kedua sisi pipi.

"Orang-orang ini akan kesusahan fokus pada apa yang mereka sebenarnya rasakan, dan mereka cenderung bingung, membuat lebih banyak kesalahan, dan lebih lambat menjawab apakah mereka disentuh atau tidak,” kata Bowling

Menariknya, tim peneliti menemukan ada banyak responden yang memiliki mirror-touch synaesthesia tapi nggak sadar dengan kemampuan tersebut. 

 "Otak manusia terbiasa mengintegrasikan segala hal dan terkadang tidak memikirkan prosesnya,” kata Bowling.  

Namun banyak juga yang nggak merasa punya gejala ini. (Pxhere)<br>
Namun banyak juga yang nggak merasa punya gejala ini. (Pxhere)

Mereka yang mengalami kondisi mirror-touch synesthesia cenderung sering kewalahan karena bisa merasakan kondisi mental, fisik, dan emosional orang lain. Padahal, bisa jadi mereka nggak menginginkannya. Meski begitu, terkadang dengan memiliki empati atau kemampuan "membaca batin" orang lain, mereka juga memiliki keuntungan bisa bersikap atau memperlakukan orang dengan lebih baik sesuai dengan kondisi saat itu.

“Kemampuan empath bisa memudahkan kehidupan banyak orang. Bayangkan kalau kami bisa mengajari para manajer dan staf agar efektif dalam berempati dan memahami satu sama lain,” pungkasnya.

Memang, bukan berarti kita bisa benar-benar membaca batin orang lain. Namun, dengan memiliki empati lebih baik, bisa jadi kita akan memiliki hubungan lebih baik dengan orang-orang di sekitar kita, Millens. (Vic/IB28/E07)