Duh, Dari Luar Terkesan Megah, Gereja Blenduk Ternyata Alami Sejumlah Kerusakan

Duh, Dari Luar Terkesan Megah, Gereja Blenduk Ternyata Alami Sejumlah Kerusakan
Meski tampak megah dari luar, Gereja Blenduk mengalami banyak kerusakan di dalamnya. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Gereja Blenduk yang berdiri megah di Kota Lama Semarang itu ternyata nggak semegah yang terlihat dari luar. Di bagian dalam gereja yang sudah berdiri sejak zaman kolonial ini, terjadi beberapa kerusakan yang cukup mengganggu para jemaah. Seperti apa ya kerusakannya?

Inibaru.id - Kabar memprihatinkan datang dari salah satu ikon Kota Semarang, Gereja Blenduk. Meskipun di luar tampak megah dan apik, namun di bagian dalam gereja itu mengalami banyak kerusakan. Atapnya bahkan sampai bocor saat hujan tiba.

"Memang Gereja Blenduk harus dilakukan perawatan lagi. Soalnya atapnya sudah bolong-bolong. Saya pas lihat pakai senter saja, pada bagian kubahnya, atap yang terbuat dari seng sudah bolong-bolong," kata pendeta Gereja Blenduk, Yori, Minggu (1/11/2020)

Kebocoran pada kubah Gereja Blenduk sudah tergolong parah. Misalnya saja saat hujan lebat seperti yang terjadi pada Sabtu (31/1) lalu. Yori harus berjibaku dengan pengurus gereja untuk mengatasi kebocoran itu dengan peralatan seadanya.

"Pas hujan deras kemarin malam itu, kita berusaha semampunya dengan menadahi air hujan dengan ember. Soalnya bocornya ada dimana-mana. Letaknya tepat di tengah mimbar gereja. Tapi kita nggak bisa berbuat banyak karena yang berwenang memperbaiki ya dari pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB)," ujar Yori.

Nggak hanya atap, Yori berkata kalau kerusakan juga terjadi di lantai gereja. Sebab, air rob sering merembes di lantai Gereja Blenduk jika hujan sedang mengguyur kota Semarang. Meski begitu, Yori masih bersyukur karena air rob nggak sampai merusak ornamen di depan mimbar.

Atap Gereja Blenduk yang terbuat dari seng sudah rapuh dan bocor. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)<br>
Atap Gereja Blenduk yang terbuat dari seng sudah rapuh dan bocor. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Sebenarnya, Yori juga menyebut aktivitas perbaikan sering dilakukan oleh pihak BPCB. Biasanya, perbaikannya berupa mengecat ulang bagian dinding yang sudah mengelupas dan memperbaiki bagian-bagian lainnya yang keropos. Dana perbaikan ini berasal dari pemerintah.

"Sebenarnya dananya masih ada yang sisa. Tapi kita nggak punya wewenang buat memperbaiki kerusakan lainnya. Kalau kita perbaiki, kita nanti jadi salah. Karena semuanya murni dari kewenangannya BPCB. Tahun lalu untuk ngecat saja habis Rp 300 juta," ujarnya.

Masalahnya, saat Yori meminta masukan dari BPCB, justru hanya diberitahu kalau anggaran perbaikan baru bisa dialokasikan pada 2022 mendatang.

Selain gedung gereja, kerusakan juga timbul di rumah pastoran yang menjadi tempat tinggal Yori selama bertugas. Di rumah itu telah terjadi kebocoran di beberapa titik. Yori pun berharap pemerintah pusat ikut turun tangan untuk merawat bangunan yang sudah berdiri sejak 1742 Masehi ini.

"Rumah pastoran juga sama kondisinya. Untuk permintaan dana ke Pemkot, mereka nggak punya dana. Kalau yang pemerintah provinsi saya nggak tahu. Yang saya tahu, yang punya alokasinya dari pusat langsung karena Gereja Blenduk masuk bangunan cagar budaya dan memperbaikinya butuh aturan-aturan yang khusus," jelasnya. 

Semoga kerusakan ini segera ditindaklanjuti ya, Millens. (Idn/IB28/E07)