Duh, 30 Persen Peternak Ayam di Jawa Tengah Bangkrut!

Duh, 30 Persen Peternak Ayam di Jawa Tengah Bangkrut!
Sebanyak 30 persen peternak ayam di Jawa Tengah bangkrut. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Nggak adanya dukungan pemerintah, khususnya dalam hal subsidi pakan membuat para peternak ayam, khususnya ayam telur di Jawa Tengah kesulitan. Kabarnya, 30 persen peternak ayam di Jawa Tengah bahkan sudah bangkrut, lo!

Inibaru.id – Dampak dari pandemi Covid-19 memang memukul berbagai sektor di Indonesia. Salah satu yang sangat terpukul adalah para peternak, khususnya peternak ayam. Ditambah dengan rendahnya dukungan dari pemerintah, 30 persen peternak ayam di Jawa Tengah bangkrut! Kok bisa?

Kalau menurut Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan (Pinsar) Jateng Parjuni, pemerintah nggak mendukung mereka dengan mengendalikan harga pakan jagung. Harganya semakin mahal, padahal, harga jual ayam nggak menguntungkan. Hal ini membuat para peternak pun gulung tikar.

“Kalau di Klaten saja ada 3.000 peternak yang kolaps, maka kalau dijumlah keseluruhan di Jawa Tengah yang bangkrut itu ada 20-30 persen,” ungkap Parjuni, Jumat (1/10/2021).

Parjuni pun mengeluhkan pemerintah yang sama sekali nggak mengeluarkan aturan memberikan subsidi pakan bagi para peternak. Padahal, dia dan sejumlah pihak lainnya pernah melakukan audiensi bersama Presiden Jokowi.

Saat itu, Jokowi sudah menjanjikan bantuan subsidi dana. Tujuannya tentu saja demi membantu mengurangi biaya para peternak dalam membeli pakan jagung. Sayang, hingga sekarang, janji itu belum terealisasi.

Angka 30 persen sudah dianggap cukup parah. Namun, Parjuni menyebut angka ini bisa saja terus meningkat. Apalagi jika subsidi pakan nggak benar-benar direalisasikan.

Peternak ayam kesulitan dengan harga pakan yang sangat tinggi dan nggak disubsidi oleh pemerintah. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)
Peternak ayam kesulitan dengan harga pakan yang sangat tinggi dan nggak disubsidi oleh pemerintah. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

“Kita setiap hari merugi karena pakan jagungnya yang mahal. Sedangkan kita dituntut oleh pasar untuk memasok kebutuhan telur ke pasar-pasar dan sentra penjualan lainnya. Kalau pemerintah tidak bisa mengatasi masalah ini, mungkin peternak bisa gulung tikar semua,” lanjut Parjuni.

Harga Telur Naik Tetap Nggak Membantu Para Peternak

Banyak orang mengira naiknya harga telur bisa membuat para peternak mendapatkan keuntungan atau setidaknya impas. Namun, Parjuni menyebut para peternak ayam ini sama sekali nggak merasakan manfaat dari kenaikan harga telur di pasaran. Mereka justru mengeluhkan hal ini.

Ternyata, harga telur naik hingga sekitar Rp 20 ribu per kilogram adalah ulah para distributor. Apalagi, stok telur masih sangat banyak dan jumlah produksinya terus meningkat. Harga mahal ini justru membuat daya jual telur menurun dan akhirnya semakin menyulitkan para peternak.

“Di Jawa Tengah ini semuanya ada 400 ribu ton. Kita dari tingkat peternak harga jual telurnya hanya Rp 14 ribu sampai Rp 16 ribu per kilogram. Malahan dengan permainan harga di pasaran, kita yang dirugikan. Kita minta pemerintah segera kendalikan harga telur agar daya beli masyarakat semakin meningkat,” tuntut Parjuni.

Duh, semoga nggak ada lagi peternak ayam yang bangkrut, ya Millens. (Idn/IB09/E05)