Drama Penangkapan Pejuang Adat Laman Kinipan Effendi Buhing, Berhubungan dengan Hutan Kalimantan?

Drama Penangkapan Pejuang Adat Laman Kinipan Effendi Buhing, Berhubungan dengan Hutan Kalimantan?
Ilustrasi: Ditangkap polisi (Pixabay/KlausHausmann)

Buhing dijemput paksa di rumahnya di Desa Kinipan, Kecamatan Batang Kawa, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Namun, 24 jam kemudian, dia dibebaskan. Apa yang terjadi sebenarnya?

Inibaru.id - Ketua Komunitas Adat Laman Kinipan Effendi Buhing diamankan Polda Kalimantan Tengah pada Rabu (26/8/2020). Dikenal sebagai sosok yang cukup keras menolak pembabatan hutan adat, penangkapan ini pun kemudian dikaitkan dengan konflik lahan yang sudah berlangsung sejak 2018.

Konflik yang melibatkan masyarakat adat Laman Kinipan dan perusahaan PT Sawit Mandiri Lestari (SML) ini mendapat kecaman keras dari pelbagai pihak. Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi menganggap penangkapan ini nggak beralasan.

"Buhing sempat menolak untuk dibawa petugas," tutur Rukka dalam konferensi pers, Kamis (27/8). "Penolakan Buhing saat itu juga karena dia ingin pemeriksaannya didampingi pengacara."

Menurut Rukka, tindakan yang dilakukan petugas ini merupakan bentuk abai terhadap hak warga negara. Nggak cuma diseret paksa, petugas yang melakukan penangkapan Buhing saat itu bahkan bersenjata lengkap.

Viral di Media Sosial

Penangkapan Effendi Buhing. (Teras)
Penangkapan Effendi Buhing. (Teras)

Video penangkapan Effendi Buhing yang direkam sang istri sebelumnya sempat viral di media sosial dan menuai gelombang protes, khususnya dari kalangan aktivis lingkungan. Mereka mempertanyakan alasan dan prosedur penangkapan terhadap Buhing.

Terlebih, saat itu kepolisian terkesan tertutup terkait posisi Buhing. Ini sempat dituturkan Direktur Eksekutif Daerah Walhi Kalimantan Tengah Dimas Hartono dalam konferensi pers virtual, Kamis (27/8) siang.

"Hingga saat ini kami belum tahu posisi Pak Effendi Buhing. Di Polda (Kalimantan Tengah) tidak ada," ujar Dimas.

Sudah Dibebaskan

Effendi Buhing dibebaskan. (Dayaknews)
Effendi Buhing dibebaskan. (Dayaknews)

Sekitar Kamis (27/8/2020) sore, Effendi Buhing sudah dilepaskan dari tahanan Polres Kotawaringin Barat. Menurut salah seorang aparat, Buhing diantar Kapolres Kotawaringin Barat AKBP Andi Kirana ke rumahnya.

Effendi Buhing tinggal di Desa Kinipan, Kecamatan Batang Kawa, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Kendati sempat diseret paksa, Buhing mengatakan, penangkapan ini hanyalah kesalahpahaman.

"Saya memaklumi. Pihak kepolisian juga memaklumi situasi dan kondisi seperti itu. Bagi saya ini pengalaman dan pelajaran. Ambil hikmahnya saja," kata Buhing via video.

Dia juga mengimbau semua pihak yang terlibat dan perduli terhadap persoalan di Kinipan dapat menahan diri. Buhing juga berharap seluruh persoalan terkait Laman Kinipan segera selesai.

Hutan untuk Perkebunan Sawit

Alih fungsi hutan untuk perkebunan sawit di Kalimantan Tengah. (Saveourborneo)
Alih fungsi hutan untuk perkebunan sawit di Kalimantan Tengah. (Saveourborneo)

Berdasarkan keterangan tertulis Koalisi Nasional Pembaruan Agraria (KNPA) pada Rabu (26/8), kasus dugaan perampasan ini telah mengakibatkan enam anggota masyarakat adat dikriminalisasi oleh perusahaan dan aparat kepolisian setempat.

Kasus perampasan ini, ungkap KNPA, mengakibatkan digusurnya permukiman dan tanah pertanian masyarakat adat Laman Kinipan sejak 2018 demi perkebunan sawit.

Sementara, PT SML menganggap penggurusan tersebut dilakukan secara sah karena telah mengantongi izin pelepasan lahan seluas 19.091 hektare dari KLHK melalui Surat 1/I/PKH/PNBN/2015 pada 19 Maret 2015.

Pihaknya juga menggunakan Keputusan Menteri ATR/BPN Nomor 82/HGU/KEM-ATR/BPN/2017 tentang Pemberian Hak Guna Usaha (HGU) Atas Nama PT Sawit Mandiri Lestari seluas 9.435,2214 hektare sebagai dalih perampasan lahan.

Meski begitu, pelepasan lahan dan HGU tersebut dinilai cacat hukum karena belum mendapatkan persetujuan dari masyarakat adat Laman Kinipan.

Duh, kian rumit nih! Semoga segera ada solusi yang menguntungkan kedua belah pihak ya. (Kom/MG33/E03)