Domain Publik, Bentuk Lain dari Hak Cipta

Domain Publik, Bentuk Lain dari Hak Cipta
Karya Chairil Anwar dan Mas Marco Kartodikromo ini ternyata sudah menjadi domain publik. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Selain Hak Cipta dan Hak kekayaan Intelektual, ternyata ada istilah Domain Publik dalam urusan perlindungan karya. Bagaimana konsep Domain Publik itu?

Inibaru.id – Kamu pernah membaca buku terjemahan, Millens? Kalau iya, mungkin kamu pernah melihat beberapa buku dengan judul yang sama, tetapi penerbitnya beda dan versinya berbeda pula.

Menurut Irman Hidayat, penerjemah dan editor penerbit Labirin Buku, Jumat (6/3), hal ini bisa jadi dikarenakan karya-karya tersebut sudah menjadi domain publik (public domain). Karya yang sudah menjadi domain publik berarti karya tersebut sudah hangus hak ciptanya.

“Kalau public domain emang bebas diterjemahin karena kita nggak perlu bayar royalti ke penulis atau ke pemilik waris. Karya tersebut sudah milik umat manusia,” ucap Irman.

Menurut UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, sebuah karya menjadi domain publik jika sudah terlampau minimal 70 tahun dari kematian si pencipta. Bisa juga karena lembaga pemegang hak cipta karya  sudah memiliki hak cipta selama 50 tahun. Dengan syarat, pemegang hak ciptanya hanya si penulis. Jika pemegang hak cipta lebih dari satu, waktu 70 tahun dihitung dari meninggalnya pemegang hak cipta terakhir.

Nggak hanya buku, Millens, dalam UU Nomor 28 Tahun 2014 juga menyatakan bahwa selain buku ada juga seluruh karya tulis, ceramah, pidato, alat peraga ilmu pengetahuan, lagu, arsitektur, peta, dan banyak lagi yang bisa memiliki batas waktu hak cipta.

Dua karya klasik sastra Inggris yang statusnya sudah menjadi domain publik. (Onobaru.id/Gregorius Manurung)
Dua karya klasik sastra Inggris yang statusnya sudah menjadi domain publik. (Onobaru.id/Gregorius Manurung)

Namun, beda negara, beda pula aturannya. Jika di Indonesia sebuah karya bisa menjadi domain publik setelah 70 tahun kematian sang pencipta, di Malaysia waktu agar sebuah karya menjadi domain publik adalah 50 tahun. Hal ini tentu saja membingungkan ketika hendak menerjemahkan karya berbahasa Indonesia ke pembaca Malaysia.

Upaya untuk mengatasi hal tersebut adalah ketetapan yang disebut Rule of the shorter term. Ketepatan ini menyatakan bahwa hak cipta sebuah karya tergantung pada aturan perlindungan hak cipta di negara asal karya tersebut. Jadi, jika sebuah karya diciptakan di negara yang durasi hak ciptanya 70 tahun pascakematian pencipta, negara lain yang menerjemahkan karya itu juga mengikuti aturan negara asal karya.

Bagaimana, kamu sudah mumet, Millens? He (Gregorius Manurung/E05)