Diskon dan Cashback, Cara Bakar Uang OVO yang Bikin Lippo Grup Menyerah

Diskon dan <em>Cashback</em>, Cara Bakar Uang OVO yang Bikin Lippo Grup Menyerah
OVO. (id.techinasia)

Dua pertiga saham OVO yang dimiliki Lippo Group dilepas. Mereka mengaku sudah nggak kuat 'bakar uang' demi layanan uang elektronik ini. Sebenarnya, seperti apa sih yang dimaksud dengan 'bakar uang' ini?

Inibaru.id – Pemilik Lippo Group, Mochtar Riady, memilih untuk melepas dua pertiga sahamnya dari OVO. Dia mengaku sudah nggak kuat untuk terus ‘bakar uang’ demi layanan dompet elektronik tersebut.

CNN Indonesia, Jumat (29/11/19) menulis, sebelumnya, Lippo Group adalah pemegang saham utama sehingga harus selalu merogoh kocek paling besar demi ‘membakar uang’. Ditambah dengan OVO yang juga belum mendapatkan keuntungan, keputusan untuk melepas sebagian saham ini dianggap tepat.

Pengamat Ekonomi Digital, Heru Sutadi menyebut seluruh perusahaan start up unicorn di Indonesia dengan valuasi lebih dari US$1 miliar seperti OVO masih merugi. Pengeluaran terus bertambah akibat perusahaan terus memberikan diskon atau cashback demi menarik pelanggan.

Bakar uang dengan menawarkan berbagai diskon, promo dan layanan gratis ini membuat perusahaan kepayahan. Nggak heran, keuntungan tak kunjung bisa didapatkan.

Pakar ekonomi lainnya, Doddy Ariefianto dari Universitas Bina Nusantara justru memiliki pendapat yang berbeda. Baginya, strategi ‘bakar uang’ adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukan fintech demi menggaet pasar.

Nggak hanya OVO, fintech pembayaran lain seperti GoPay, Dana, serta LinkAja juga masih ‘membakar uang’ dengan memberikan diskon besar-besaran bagi para penggunanya.

“Industri ini kan sebenarnya masih baru, masih mencari ceruk pasar. Bakar uang ini memberikan kekuatan tersendiri untuk bertahan dan menarik pasar dulu,” ucap Doddy.

Sayangnya, belum jelas kapan para perusahaan fintech pembayaran ini bisa menghentikan tawaran diskon dan cash back yang memanjakan masyarakat ini. Hal ini berarti, bisa dipastikan para investor belum mendapatkan keuntungan dalam waktu dekat.

Sementara itu, CCO DANA, Chrisma Albandjar menyebut strategi ‘bakar uang’ ini sebagai langkah agar perusahaan berkembang dalam waktu singkat. Hal ini juga dianggap bisa mengedukasi masyarakat untuk melakukan transaksi non-tunai. Baginya, uang yang ‘dibakar’ ini termasuk murah.

“Uang yang dikeluarkan untuk edukasi melalui promo ini jauh lebih murah, mengingat waktu singkat yang kami butuhkan untuk berkembang,” ujarnya.

Sobat Millens juga suka pakai poromo dan diskon uang elektronik? (IB09/E06)