Dinyinyiri Usai Utang Negara Naik, Sri Mulyani: Demi Menyelamatkan Rakyat, Nggak Masalah

Dinyinyiri Usai Utang Negara Naik, Sri Mulyani: Demi Menyelamatkan Rakyat, Nggak Masalah
Sri Mulyani nggak masalah kalau dinyinyirin terus. (Medcom)

Nggak jarang kebijakan yang diambil pemerintah demi rakyatnya justru mendapat komentar sinis dari masyarakat itu sendiri. Contohnya yang dialami Menteri Keuangan Sri Mulyani. Belakangan dia kerap mendapat komentar buruk karena utang Indonesia naik, terutama pasca pandemi. Namun Sri Mulyani menegaskan kalau hal itu nggak masalah baginya. Dia rela dinyinyiri demi menyelamatkan rakyat Indonesia.

Inibaru.id - Pandemi Covid-19 telah banyak mengeruk keuangan negara dengan cukup dalam. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pun mengalami defisit. Untuk mengatasinya, memang Pemerintah Indonesia mau nggak mau harus mengambil utang.

Namun upaya pemerintah tersebut menimbulkan komentar pedas atau ‘nyinyir’ dari masyarakat. Terutama dalam hal ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani yang kerap jadi sasaran. Sri pun punya pembelaan terhadap komentar-komentar yang dialamatkan padanya.

"Karena kita ingin menyelamatkan ekonomi, maka APBN menghadapi tekanan yang luar biasa. Penerimaannya jatuh, tapi kita memberi bantuan. Membantu hidup banyak sekali [masyarakat]. Makanya defisit kita naik banget," jelas Sri Mulyani melalui video conference, Senin (2/11/2020).

Utang yang dilakukan semata untuk menyelamatkan masyarakat Indonesia. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)<br>
Utang yang dilakukan semata untuk menyelamatkan masyarakat Indonesia. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Sri Mulyani menambahkan kalau nggak masalah jika komentar buruk itu berdatangan. Sebab dia melakukan ini untuk menyelamatkan jiwa seluruh masyarakat Indonesia.

Sebagai informasi, sebelum pandemi Covid-19 menumbangkan perekonomian Indonesia, pemerintah memasang target defisit APBN 1,76% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, kemudian, semua anggaran refocusing atau diprioritaskan untuk menangani Covid-19 dan memberikan stimulus kepada sektor kesehatan, UMKM, perlindungan sosial, hingga ke dunia usaha.

Lantas Pemerintah melalui Perppu No. 1 Tahun 2020, yang kini telah menjadi Undang-Undang No. 2 Tahun 2020 memutuskan untuk menaikkan defisit hingga 6,34 persen terhadap PDB atau setara dengan Rp 1.039,2 triliun.

"Defisit yang tadinya 1,76% terhadap PDB, atau dari kisaran Rp 120 triliun hingga Rp 130 triliun. Defisit kita naik menjadi Rp 1.000 triliun," ujarnya.

Semoga utang-utang tadi bermanfaat ya, Millens. (IB28/E05)