Dikunjungi Presiden Jokowi, Begini Sejarah dan Keunikan Pasar Johar

Dikunjungi Presiden Jokowi, Begini Sejarah dan Keunikan Pasar Johar
Presiden Jokowi saat mengunjungi Pasar Johar. (Twitter.com/jokowi)

Presiden Jokowi mengunjungi Pasar Johar Semarang yang baru saja selesai diperbaiki. Seperti apa sih keunikan dan sejarah salah satu bangunan bersejarah dan masuk dalam cagar budaya ini?

Inibaru.id – Setelah ludes dilalap si jago merah pada 2015 lalu, Pasar Johar Semarang kini telah selesai diperbaiki. Presiden Jokowi pun mengunjungi salah satu pasar paling bersejarah di Indonesia ini pada Senin (30/12/19) kemarin.

Detik, Senin (30/12) menulis, pasar yang konon pernah jadi yang terbesar se-Asia Tenggara ini dibangun oleh arsitek Ir. Thomas Karsten. Pasar ini dibuat sebagai tempat bagi para pedagang yang sebelumnya berjualan di bawah pohon djohar di dekat alun-alun Kota Semarang sejak tahun 1865.

Proses pembangunan los pedagang bertingkat dua di pasar ini dimulai pada 1920. Bangunan ini kemudian diresmikan Pemerintah Hindia Belanda pada 9 Juni 1939.

Salah satu yang khas dari bangunan Pasar Johar adalah adanya desain Cendawan, sejenis pilar yang bentuknya mirip dengan payung atau jamur. Desain ini tak hanya mempercantik pasar ini, namun juga membuat pasar johar memiliki sirkulasi udara dan cahaya yang baik. Bahkan, Karsten mendesain lantai dua pasar hanya di bagian pinggir demi memastikan kedua hal tersebut terpenuhi.

Ternyata, Karsten juga mendesain bangunan Pasar Johar agar nggak mudah roboh meskipun terbakar. Hal ini membuat kebakaran pada 9 Mei 2015 lalu tidak membuat pondasi dan bentuk bangunan pasar ini rusak. Hal ini karena mutu beton adalah K400 atau berkekuatan 400kg/m2 yang meminimalisasi dampak kebakaran.

Mengingat Pasar Johar termasuk dalam cagar budaya, pemerintah pusat memutuskan untuk menggelontorkan dana sebesar Rp146 miliar demi membangun kembali pasar ini pada 2018-2019. Proses pembangunan nggak dilakukan asal-asalan karena harus dikembalikan seperti bentuk aslinya. Sebagai contoh, pilar cendawan diperkokoh tanpa mengubah bentuknya. Bahkan, ada cendawan yang dibiarkan tetap memiliki warna asli seperti bekas terbakar.

Kini, pasar telah rampung diperbaiki dan para pedagang akan segera didata agar bisa berjualan kembali. Sebagai informasi, sekitar 2.400 pedagang menjadi korban akibat kebakaran 4 tahun silam. Mereka kemudian direlokasi di sekitar Masjid Agung Jawa Tengah selama proses perbaikan. Hanya saja, mengakomodir pedagang agar bisa kembali ke Pasar Johar ternyata nggak mudah untuk dilakukan.

“Ini jauh lebih susah daripada mbangun ini. Karena bersepakat dengan pedagang ini lebih susah karena itu berhubungan dengan penghidupan,” terang Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono.

Sementara itu, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menyebut kapasitas pasar yang sebenarnya ternyata hanya 60 persen dari jumlah pedagang yang sebelumnya mencari penghidupan di sana. Dia pun sedang mencari solusi terkait dengan hal ini.

“Kembai ke kesepakatan pedagang, pasca kebakaran kan konstruksi tidak sesuai konstruksi yang awal dibangun, kapasitas pedagang tidak bisa penuh. Mau nunggu semua selesai atau 60 persen pindah sisanya nunggu dibangunkan. Menunggu keputusan pedagang. Pedagang menyebut 2 opsi, kalau tidak pindah satu tidak pindah semua, ada yang bilang diundi saja sisanya nunggu dibangunkan pak wali 2020,” jelas Hendi.

Semoga saja aktivitas di Pasar Johar bisa kembali pulih seperti sebelum kebakaran, ya Millens? (IB09)