Dianggap Sebagai Tradisi, Warga Kota Semarang Tetap Beli Baju Lebaran

Dianggap Sebagai Tradisi, Warga Kota Semarang Tetap Beli Baju Lebaran
Toko pakaian di Johar Lama Semarang dipenuhi masyarakat. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Kadung dianggap sebagai tradisi yang nggak bisa dilewatkan setiap lebaran, masyarakat memadati toko pakaian ini mengaku nekat beli baju baru untuk lebaran meskipun cuma merayakan di rumah saja. Duh kok nekat banget sih?

Inibaru.id - Beberapa hari belakangan, pengguna media sosial tengah dikejutkan dengan video keramaian di sebuah pusat perbelanjaan yang pasti bikin geram. Wacana pelonggaran pembatasan sosial oleh pemerintah juga menjadikan tenaga medis mendengungkan tagar #IndonesiaTerserah. Ternyata fenomena masyarakat yang nekat tersebut juga terjadi di Kota Semarang.

Deretan pertokoan di Pasar Johar Lama Semarang tampak ramai oleh pengunjung, Selasa (19/5). Bahkan halaman salah satu toko pakaian yang cukup besar juga sudah dipenuhi kendaraan pengunjungnya. Benar saja, di dalamnya masyarakat berjubel di tengah display baju yang siap dipinang. Mirisnya, beberapa di antaranya rela datang bersama seluruh keluarganya termasuk anak-anak yang masih balita.

Beberapa saat mengamati, akhirnya saya bertemu dengan Eko Budiono yang tengah menunggu anaknya membayar tagihan di kasir. Sempat ragu, akhirnya perempuan 48 tahun ini mengaku bahwa membeli baju lebaran adalah tradisi setiap tahun yang tak ingin dia lewatkan.  

“Saya berlebaran di Semarang, nggak keluar rumah, di rumah aja. (Pakai baju baru) biar anak senang,” tutur perempuan yang kemudian berlalu ini.

Pernah tertipu di toko daring jadi memilih berbelanja langsung. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Pernah tertipu di toko daring jadi memilih berbelanja langsung. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Selain Eko, ada pula Rinda yang datang dari Cepu, Kendal, bersama sang ibu. Gadis yang masih duduk di bangku sekolah menengah ini mengaku bahwa Lebaran baginya adalah dengan memakai baju baru meski sudah berencana merayakannya di rumah saja.

“Bajunya dipake di rumah, tapi pakai baju baru, setiap Lebaran harus beli baju,” tutur gadis ini.

Selain itu dia berkilah bahwa dengan datang langsung di toko baju membuatnya lebih mantap menentukan pilihan. Dia bercerita kalau pernah punya pengalaman buruk ketika membeli baju di toko daring.

Nggak jauh berbeda dengan Eko dan Rinda, Fajar Lia seorang perempuan asal Kota Semarang juga datang dengan keluarganya. Alasan perempuan ini nekat berbelanja bersama lima orang anggota keluarganya karena jarak toko dengan rumah.

“Sudah beli baju lebaran di toko online dan offline juga meskipun dipakai di rumah saja,” tutur perempuan berjilbab ini.

Tanpa baju baru pun Lebaran tetap bermakna. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Tanpa baju baru pun Lebaran tetap bermakna. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Meski nekat keluar rumah dan rela berdesakan di toko pakaian, mereka kompak mengaku tetap takut dengan ancaman corona dan berusaha mencegahnya dengan pakai masker dan cuci tangan sesering mungkin. Tapi tetap saja, bukankah ini berarti orang-orang sedang membukakan pintu untuk corona?

Sebenarnya tak ada yang salah dengan membeli baju Lebaran. Yang disayangkan adalah hilangnya kehati-hatian masyarakat akan bahaya corona. Yuk, berikan respek kepada para petugas kesehatan yang bertaruh nyawa setiap hari melawan corona dengan menerapkan physical distancing. Setuju? (Zulfa Anisah/E05)