Dianggap Sebagai Simbol Maskulin, Rokok Ternyata Pernah Menyasar Konsumen Perempuan, lo

Dianggap Sebagai Simbol Maskulin, Rokok Ternyata Pernah Menyasar Konsumen Perempuan, lo
Merokok sejak dulu sudah dilibatkan dalam propaganda bisnis kecantikan dan kesehatan. (Boleh Merokok)

Di Indonesia, merokok sering dianggap sebagai aktivitas yang sangat laki-laki. Padahal, pada zaman dulu, kampanye merokok juga sempat menyasar perempuan dengan propaganda kecantikan, lo.

Inibaru.id – Rokok seringkali dianggap sebagai tanda maskulin seorang laki-laki. Padahal, rokok juga pernah dikampanyekan sebagai tanda kecantikan perempuan, lo. Hal ini terjadi pada 1920-an di Amerika Serikat.

Virginia Slims menjadi pelopor jenama rokok khusus perempuan pada tahun 1968 di San Fransisco, California. Nah, di balik kesuksesan rokok yang ditujukkan untuk perempuan itu adalah Philip Morris, salah satu perusahaan tembakau raksasa dunia.

Philip Morris memang juga berpartisipasi dalam gerakan pembebasan perempuan. Menurut perusahaan ini, perempuan adalah individu yang cerdas, kuat, dan mandiri. Nah, mereka juga mengampanyekan rokok agar bisa jadi bagian kehidupan perempuan dengan ciri-ciri tersebut.

Hanya dalam enam tahun, kampanye ini sukses besar. Jumlah perokok perempuan yang berusia 12 tahun ke atas meningkat hingga 110 persen pada saat itu.

Gaya Hidup Sehat yang Palsu

Kampanye Philip Morris lewat Virginia Slims sayangnya dipenuhi dengan kebohongan, tepatnya dengan memberikan cerita palsu kalau rokok bisa mendukung kesuksesan, kecantikan, dan kemandirian seorang perempuan. Padahal, sebagaimana kita ketahui, rokok tidak baik bagi kesehatan dan bisa membuat pengisapnya mengalami kecanduan.

Sayangnya, pada masa itu, informasi terkait dengan dampak buruk rokok sangatlah minim. Bukannya bisa membuat perempuan semakin cantik dan membantu menjaga berat badan sebagaimana dalam kampanye rokok pada zaman itu, sebenarnya para perokok perempuan malah rentan terkena berbagai masalah kesehatan.

Cetakan iklan rokok Virginia Slims pada tahun 1982. (Etsy)
Cetakan iklan rokok Virginia Slims pada tahun 1982. (Etsy)

J.P Pierce dan timnya dalam Journal of the American Medical Association (JAMA) berjudul Smoking initiation by adolescent girls, 1944 through 1988. An association with targeted advertising yang dirilis pada 1994 menuliskan bahwa industri tembakau memang sempat menargetkan perempuan di negara berkembang. Maklum, di negara-negara tersebut, pemahaman seputar bahaya tembakau masih minim.

Nah, selain Phillip Morris dengan Virginia Slims, ada jenama lain yang ikut-ikutan menargetkan konsumen perempuan, yakni Camel No.9 dari perusahaan rokok Camel. Kalau yang ini, baru muncul pada 2006 lalu dengan branding rokok khusus bagi kaum hawa. Saking seriusnya promosi rokok ini, Camel sampai menyiapkan dana pemasaran dan promosi sampai 50 juta US Dollar, lo.

Camel No 9 punya kemasan yang menarik bagi kaum hawa karena dihiasi dengan warna pink atau teal di bagian logo. Nah, promosinya juga di majalah-majalan perempuan terkemuka seperti Vogue, Glamour, In Style, dan Cosmopolitan.

Perokok Wanita di Indonesia

Nggak hanya di luar negeri, lo. Ternyata, kampanye rokok untuk kaum perempuan juga sempat terjadi di Indonesia. Meski begitu, dampak kampanye ini nggak sekuat bagi kaum laki-laki. Bahkan, sampai sekarang, rokok seperti menjadi salah satu simbol kejantanan laki-laki.

Hal ini dibuktikan oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019-2021. Jumlah perokok perempuan Indonesia dengan usia kurang dari 18 tahun menurun dari 0,15 persen ke 0,09 persen. Dengan rentang usia yang sama, penurunan juga terjadi pada perokok laki-laki. Hanya, penurunannya baru dari 7,39 persen ke 7,14 persen.

Kini, di Indonesia justru marak kampanye bahaya merokok, khususnya bagi generasi muda agar mereka nggak tertarik untuk mencobanya. Kalau yang sudah tua atau dewasa dan sudah merokok sejak lama, agak susah karena mereka sudah kadung kecanduan, ya?

Omong-omong, kamu masih sering melihat perokok perempuan di Indonesia nggak, nih, Millens? (Nat, Tob, Bps/IB31/E07)