Derita Nelayan setelah Harga BBM Naik; Balik ke Perahu Tradisional

Derita Nelayan setelah Harga BBM Naik; Balik ke Perahu Tradisional
BBM naik membuat nelayan banyak yang merugi dan memilih nggak melaut. (Medcom/MTVN/Rhobi Shani)

Nelayan sedang mengalami masa-masa sulit. Selain karena harga BBM yang tinggi, hasil ikan yang didapat juga nggak seberapa. Keadaan makin terasa berat karena harga ikan di pasaran anjlok.

Inibaru.id – Nggak hanya pengemudi ojek daring dan para pekerja komuter jarak jauh yang terkena dampak paling parah dari kenaikan harga BBM. Para nelayan juga menderita akibat hal ini, Millens. Di antara mereka, banyak yang merasakan penurunan pendapatan secara masif. Bahkan, ada yang sampai memilih kembali menggunakan kapal tradisional karena sudah nggak kuat lagi membeli BBM.

Seperti yang kita tahu, harga BBM subsidi seperti pertalite naik dari Rp 7.650 menjadi Rp 10 ribu per liter. Sementara itu, solar naik dari Rp 5.150 jadi Rp 6.800. Kedua jenis BBM inilah yang paling banyak digunakan para nelayan untuk melaut dan kebutuhan sehari-hari lainnya. 

Seorang nelayan dari Tambaklorok Semarang Sudarso mengatakan kiini hidupnya semakin berat sejak BBM naik.

“Kalau solar naiknya Rp 500 masih nggak keberatan, tapi karena naik Rp 1.650, sangat berat,” keluhnya sebagaimana dilansir dari Jateng Tribunnews, Senin (26/9/2022).

Terus Merugi

Sejumlah nelayan memilih untuk memakai perahu tradisional. (Preciousisland)
Sejumlah nelayan memilih untuk memakai perahu tradisional. (Preciousisland)

Gara-gara hal ini, dia dan rekan-rekannya sesama nelayan kini kesulitan mendapatkan penghasilan yang cukup saat melaut. Padahal, dulu dia bisa mendapatkan setidaknya Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu sekali melaut.

“Kini kadang tambel (merugi). Jadi banyak nelayan yang nganggur nggak melaut. Daripada badan lelah tapi nggak ada penghasilan malah repot,” lanjut Sudarso.

Rusdi, salah seorang nelayan di Pantai Sendangbiru, Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengaku kenaikan harga solar membuatnya kembali memakai perahu tradisional tanpa mesin. Dia memilih untuk melakukannya karena jika masih menggunakan perahu mesin, membutuhkan BBM sebanyak 50 liter sekali melaut.

"Saya sudah nggak mampu," keluh pria yang mengaku sempat berpikir untuk nggak melanjutkan pendidikan anaknya sampai SMA karena alasan nggak punya dana.

Dikutip dari Suara, Rabu (28/9/2022), Kepala Desa Tambakrejo Yonatan Saptoes selaku perwakilan dari nelayan-nelayan menyebutkan tinggal 50 persen kapal nelayan yang dipakai untuk melaut.

“Sebelumnya di sini ada ratusan kapal nelayan. Jumlah nelayannya bisa mencapai ribuan,” ungkapnya.

Minta Perhatian Pemerintah

Baik Yonatan, Rusdi, ataupun Sudarso kompak meminta pemerintah untuk memperhatikan nasib para nelayan dengan menurunkan kembali harga solar demi menurunkan beban hidup mereka. Selain itu, mereka juga berharap harga ikan naik sehingga bisa kembali mendapatkan keuntungan.

“Masalahnya, harga ikan tidak ikut naik. Contoh, dulu rajungan harganya bisa mencapai Rp 90 ribu, tapi kini harganya hanya Rp 35 ribu per kilogram. Kami dapatnya hanya 4 kg sampai 5 kg. Padahal, setiap kali melaut kita bisa membeli BBM sampai Rp 200 ribu – Rp 300 ribu. Nggak balik modal,” keluh Sudaso.

Duh, pengaruh kenaikan harga BBM bagi nelayan sungguh terasa ya, Millens. Semoga saja ada solusi yang cepat dan tepat bagi mereka sehingga nelayan sejahtera. (Arie Widodo/E10)