Diduga Depresi, Desainer Kate Spade Bunuh Diri

Desainer terkenal Kate Spade ditemukan bunuh diri di apartemennya di New York, Amerika Serikat. Spade diduga depresi sehingga memutuskan untuk bunuh diri.

Diduga Depresi, Desainer Kate Spade Bunuh Diri
Kate Spade (Latimes.com)

Inibaru.id – Desainer kenamaan Kate Spade ditemukan meninggal dunia karena bunuh diri di apartemennya di Manhattan, New York pada Selasa, (5/6/2018). Perempuan asal Kansas, Missouri, Amerika Serikat tersebut meninggal dunia dengan cara menggantung diri menggunakan syal. Kematian Spade kali pertama diketahui asisten rumah tangga sekitar pukul 10.20 waktu setempat.

Perempuan berusia 55 tahun itu diduga mengalami depresi sehingga memutuskan untuk gantung diri. Saat petugas Kepolisian New York (NYPD) melakukan investigasi di apartemennya, mereka menemukan secarik surat yang ditujukan Spade untuk anak perempuannya, Frances Beatrix Spade. Menurut pengakuan sang kakak Reta Brosnahan Saffo, sebelum meninggal, Spade memang berjuang melawan gangguan mental selama tiga atau empat tahun belakangan. Untuk melupakan penyakitnya, Spade mengalihkannya ke alkohol.

“Saya sama sekali tidak menduga yang dilakukannya. Kadang-kadang Anda tidak bisa menyelamatkan orang dari penderitaan mereka. Saya terbang ke Napa dan Kota New York beberapa kali dalam kurun waktu tiga atau empat tahun untuk membantunya menjalani perawatan yang dibutuhkannya. Dia selalu menjadi gadis kecil yang antusias dan saya merasa semua tekanan dari mereknya (Kate Spade) mungkin menjadi penyebab dia depresi,” cerita Saffo, dilansir dari Kansascity.com, (5/6). “

Kepergian Spade untuk selama-lamanya mengundang komentar dari rekan-rekannya dalam industri mode. Diane von Furstenberg selaku Ketua Perkumpulan Perancang Mode Amerika (The Council of Fashion Designers of America) mengungkapkan pernyataan duka cita mereka atas meninggalnya desainer bernama asli Katherine Noel Brosnahan itu.

“CFDA sangat sedih mendengar kabar duka dari teman dan kolega kami yang juga merupakan anggota CFDA, Kate Spade. Dia seorang perancang berbakat dan memberikan dampak tak terukur bagi dunia mode Amerika dan bagaimana dunia memandang aksesori Amerika,” ungkap von Furstenberg.

Berawal dari Redaktur Aksesori

Sebelum sukses menjadi desainer, Spade tumbuh dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Ayah Spade bekerja di sektor bangunan, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga dengan enam orang anak.

Spade memiliki cita-cita untuk menjadi produser televisi sehingga dia melanjutkan studinya dalam bidang jurnalistik di Arizone State University. Saat kuliah, Spade mengisi waktunya dengan bekerja di bar khusus pencinta motor dan toko pakaian lelaki. Di tempat itulah dia bertemu suaminya, Andy Spade yang merupakan saudara dari comedian David Spade.

Setelah menyelesaikan studinya pada tahun 1985, Spade pindah ke New York untuk menjadi asisten redaktur majalah fesyen Mademoiselle. Dalam kurun lima tahun berkarier, Spade berhasil menjadi redaktur aksesori yang mana dia kemudian merasa frustrasi terhadap berbagai model tas tangan pada masa tersebut. Dari situlah, ide untuk mendesain tas muncul. Pada tahun 1993, Spade bersama suaminya dan seorang teman bernama Elyce Arons lantas mendirikan sebuah perusahaan yang kemudian sukses meraih banyak penghargaan.

Hingga saat ini, Spade memiliki sekitar 175 butik yang tersebar di berbagai negara dengan total penjualan sebesar 28 juta dolar AS.

Selamat jalan, Kate Spade. Karyamu akan selalu dinikmati. (IB15/E04)