Demo Warga Sulawesi Tenggara Tolak Kedatangan TKA Tiongkok Berakhir Ricuh

Demo Warga Sulawesi Tenggara Tolak Kedatangan TKA Tiongkok Berakhir Ricuh
Warga dan mahasiswa berdemo menolak dua perusahaan yang mendatangkan 500 tenaga asing dari Tiongkok. (Gaekon)

Warga Kabupaten Konawe Selatan menggelar demonstrasi menolak kedatangan sejumlah TKA dari Tiongkok. Demonstrasi itu berakhir ricuh dan kepolisian membubarkan massa dengan menyemprotkan gas air mata. 

Inibaru.id – Ratusan warga menggelar demonstrasi menolak kedatangan TKA dari Tiongkok di Simpang Empat Desa Ambaipua, Kecamatan Ranomoteo, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Demonstrasi yang berlangsung pada Rabu (24/6/2020) itu digelar sebagai bentuk protes warga yang kecewa dengan keputusan Pemda mendatangkan pekerja asing untuk bekerja di PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Stell (OSS).

Sehari sebelum melakukan demonstrasi, warga juga melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah kendaraan yang diduga memuat TKA. Sebanyak 156 TKA tiba di Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara pukul 20.40 WITA. Para TKA itu kemudian masuk ke Sulawesi Selatan dengan penjagaan ketat dari TNI dan Kepolisian.

Akibat peristiwa ini, warga marah dan menggelar demonstrasi hingga tengah malam. Aparat keamanan disiapkan untuk menjaga lokasi demonstrasi. Polisi meminta massa membubarkan diri, namun massa yang nggak terima lantas melemparkan batu dan kayu ke petugas. Pihak kepolisian kemudian menggunakan gas air mata dan water cannon untuk membubarkan mereka.

156 TKA dari Tiongkok menjalani pemeriksaan dokumen yang dilakukan oleh Ketua DPRD dan Dinas Ketenagakerjaan. (Kompas)<br>
156 TKA dari Tiongkok menjalani pemeriksaan dokumen yang dilakukan oleh Ketua DPRD dan Dinas Ketenagakerjaan. (Kompas)

Mei lalu, Indrayanto selaku juru bicara PT VDNI mengungkapkan alasan mengapa perusahaannya memilih mempekerjakan 500 TKA ketimbang warga lokal. Menurutnya, 500 TKA itu memiliki keterampilan khusus untuk memasang alat konstruksi mesin yang akan digunakan perusahaan. Para TKA itu rencananya akan bekerja selama enam bulan. Kedatangan 156 orang itu merupakan gelombang pertama masuknya TKA ke Kabupaten Konawe Selatan.

Saat tiba di Bandara Haluoleo, Kendari, 156 TKA itu diperiksa langsung oleh Ketua DRPD Sulawesi Tenggara Abdurrahman Saleh dan Dinas Ketenagakerjaan. Ini dilakukan dalam upaya untuk memastikan bahwa rombongan tersebut memang memiliki dokumen legal untuk bekerja di Indonesia. Selain mengecek dokumen, Abdurrahman juga mengklaim pihaknya menguji apakah mereka memang memiliki keterampilan yang memang dibutuhkan perusahaan.

Mempekerjakan TKA tentu punya sisi positif dan negatif. Sisi positifnya tentu saja sesama pekerja bisa belajar untuk menerima keragaman latar belakang hingga toleransi. Selain itu, ada ilmu dan keterampilan yang bisa diserap oleh tenaga lokal. Namun, ini juga bukan berarti mengabaikan jumlah pengangguran di negara sendiri. Pemerintah tentu harus terus meningkatkan keterampilan SDM lokal supaya nggak ketinggalan dengan SDM di negara lain.

Semoga masalah ini segera terselesaikan dan masyarakat di Sulawesi Tenggara bisa terserap di dunia kerja lebih banyak ya, Millens. (Kom/IB15/E07)